Staycation With Boss

Staycation With Boss
Diledekin Staff Sendiri



Sepanjang malam benar-benar tidak ada malam pertama untuk Raka dan Adista. Malam pertama sudah berlalu. Akan tetapi, keduanya menikmati perasaan terbaik sepanjang malam. Bisa beristirahat, dan esok pagi pun akan disambut keduanya dengan status baru.


Pagi hari ini, mentari menyapa dengan sinarnya yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela. Nyatanya justru Raka yang terbangun terlebih dahulu. Akan tetapi, pria itu masih enggan beranjak dari sisi istrinya. Dia sesekali menatap wajah Adista yang tertidur dengan teduh dan juga mengecup kening istrinya itu.


Beberapa saat kemudian Adista mengerjap, dia mulai membuka matanya dan pandangannya bersitatap dengan Raka.


"Pagi, Yang ...."


"Ehm, pagi, Mas ...."


Adista membalas, tapi dia justru semakin erat memeluk Raka. Masih ingin sedikit bermalas-malasan di atas tempat tidur. Selain itu, Adista juga ingat bahwa ini adalah hari minggu.


"Kamu semalam langsung tidur, nyenyak banget tidurnya," kata Raka.


"Kecapekan berdiri, Mas. Sekarang udah seger lagi. Udah gak pegal kakinya," balas Adista.


"Mau sarapan?"


Adista kemudian tersenyum. "Malu kalau sarapan dan lihat para staff. Dulu kan aku bekerja di sini, menyapa pengunjung, melayani pengunjung. Nanti giliran dilayani rasanya sungkan," balas Adista.


"Santai saja, Sayang. Kan memang kamu istrinya Boss Raka," balas Raka.


Bukan bermaksud jumawa, tapi memang Raka mengatakan kebenarannya bahwa sekarang Adista adalah istri Boss Raka, Direktur Utama La Plazza Hotel. Kemudian Adista menatap suaminya.


"Aku belum terbiasa dilihat orang lain sebagai istrimu, Mas. Takut kalau orang-orang berpandangan yang negatif. Bagaimana pun, kita kan berbeda, Mas," kata Adista.


"Biarkan saja ucapan orang-orang. Yang pasti Raka cintanya cuma sama Adista," balasnya.


Usai itu, Raka mengajak Adista sekadar mandi terlebih dahulu, kemudian mengajak istrinya itu untuk sarapan. Sebenarnya, Adista menolak, merasa malu, tapi Raka yang meyakinkan Adista untuk bersikap santai saja.


"Pagi Mr. Raka dan Mbak Adista, nomor kamarnya berapa yah?" tanya staff di depan restoran hotel.


"815," jawab Raka.


"Silakan Mr. Raka," balas staff itu.


Tanpa ragu, Raka menggandeng istrinya duduk di restoran. Jika Adista merasa canggung, Raka bersikap santai. Toh, bagaimana pun hotel ini milik Papanya sendiri sehingga tidak usah sungkan-sungkan.


"Mau diambilkan sarapan apa, Mas?" tanya Adista kepada suaminya itu.


"Kopi dulu saja, Yang," jawabnya.


Akan tetapi, belum Adista berdiri sudah ada seorang staff yang datang dan memberikan kopi untuk keduanya. Seolah keduanya dilayanin dengan khusus.


"Silakan kopinya Mr. Raka dan Mbak Adista," kata seorang staff di sana.


"Makasih, tidak usah repot-repot," balas Raka.


"Tidak apa-apa, Mr. Raka ... apakah perlu kami siapkan table khusus?"


Raka dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, saya biar dilayani istri saya saja," jawab Raka.


"Iya, tidak apa-apa. Kamu lanjutkan bekerja saja, jangan terganggu dengan kami di sini," kata Adista.


Staff itu kemudian menganggukkan kepalanya. "Baik, jika butuh bantuan apa pun, silakan panggil saya."


"Jadi merepotkan, Mas ... punya hotel. memang enak, tapi enggak enaknya dilayani seperti ini," katanya lirih.


"Iya, lebih enak Staycation di hotel lain," balas Raka.


"Setuju, mau makan apa, Mas? Mas duduk aja, aku yang ambilin," kata Adista.


"Harusnya kamu yang duduk aja, kan kamu sedang mengandung anak kita," balas Raka.


Akhirnya Raka buru-buru berdiri, dia melihat-lihat dulu ada menu sarapan apa saja pagi itu. Lantaran yang melihat Raka, tentu karyawan di sana menjadi sungkan. Bagaimana pun yang berdiri di sana adalah si Boss. Hingga ada Tina yang menyambangi Adista.


"Mbak Dista, masih di sini?" tanyanya.


"Iya, paling nanti siang cek out," balas Dista.


"Mr. Raka kelihatan beda banget yah. Kalau begitu, Mr. Raka gak kayak Boss, kayak suami," balasnya.


Adista hanya tersenyum, sesekali dia mengamati dari jauh suaminya itu. Namun, memang terlihat bahwa Raka kalau begitu Raka seperti suami sesungguhnya. Atributnya sebagai Boss, seolah dia lepaskan.


"Cie, ada pengantin baru nih," kata Bu Linda yang kebetulan bertemu Dista.


"Bu Linda," balas Adista dengan tersenyum dan mengangguk kepada seniornya itu.


"Mana Mr. Rakanya?" tanya Bu Linda lagi.


"Itu, Pak Raka baru lihat-lihat menu sarapan," balas Adista.


Bu Linda tersenyum, tidak menyangka juga bahwa Bossnya yang kaya raya mau melayani istrinya. Bahkan Raka mengantri ketika hendak mengambil satu makanan. Padahal, Raka juga bisa tinggal meminta dan diambilkan para staff di sana.


"Pengantin baru bahagia terus yah." Bu Linda berbicara lagi, kemudian menepuk bahu Adista.


Sementara Tina masih di sana dan berbicara lagi kepada Adista. "Happy selalu, Mbak. Duh, suaminya secakep Mr. Raka udah pasti aku ngikut kemana-mana, Mbak. Cakep gitu, kaya raya lagi. Beruntung banget sih, Mbak. Ya udah, balik kerja lagi ya Mbak. Takut ditegur Mr. Raka."


Adista hanya senyam-senyum saja ketika beberapa staff menyapanya atau meledeknya. Untung saja staff di La Plazza Hotel baik-baik. Tidak ada yang bersikap sarkasme.


"Yuk, sarapan, Yang. Kamu habis ketawa sama siapa?" tanya Raka sembari duduk di hadapan Adista.


"Itu loh, tadi ada Tina dan Bu Linda nyapa," balas Adista.


"Jangan senyam-senyum sama cowok. Aku gak rela loh yah," kata Raka lagi.


Adista kemudian menatap suaminya itu. "Posesif deh. Kan sama cewek, enggak sama cowok loh."


"Ya, pokoknya gak boleh senyam-senyum," balas Raka.


"Tuh, kita diamatin para staffnya Mas Raka. Malu, Mas. Yuk, buruan diselesaikan makannya dan ke kamar," kata Adista sekarang.


"Santai aja. Kan hotel ini milik Papa, milik kamu juga. Kamu mau ngapain aja ya sah-sah saja kok," balas Raka.


"Tetap malu, dulu aku bagian dari mereka."


Akhirnya sarapan pagi itu membuat Adista kadang malu, ada beberapa teman yang meledeknya atau sebagainya. Sementara Raka tetap seperti biasa, stay cool. Raka bersikap santai, cool, dan juga biasa saja. Settingan pabrik Raka kembali terlihat, walau beberapa staf juga melihat sebagai suami, Raka bahkan mau mengambilkan makan untuk istrinya.