
Selang beberapa hari usai Aqiqahan, Adista pikir suaminya itu akan segera bekerja dari hotel. Sebab, sudah ada kurang lebih dua minggu waktu berlalu. Sementara Raka juga terlihat nyaman-nyaman berada di rumah. Sampai Adista menanyai suaminya itu.
"Mas, sudah dua minggu sejak aku melahirkan Qiana. Mas Raka belum mau bekerja dari hotel yah?" tanya Adista.
"Hm, kenapa emangnya kamu tidak nyaman kalau suamimu berada di rumah 24 jam?" tanya Raka dengan menatap wajah istrinya itu.
Dengan cepat Adista menggelengkan kepalanya. "Enggak, begitu juga. Kan sudah dua minggu. Luka pasca bersalinku juga semakin pulih. Qiana juga sehat, kalau Papanya kembali ngantor kan tidak apa-apa," balas Adista.
Adista menanyai hal itu bukan tanpa sebab, tapi memang dia sudah semakin pulih. Walau masih mengalami masa nifas yang Dokter Rinta berkata bisa sampai 40 hari, tapi Adista sudah lebih pulih dan sehat. Selain itu, Qiana juga sangat sehat.
"Aku masih pengen berada di rumah. Setelah memiliki Qiana, rasanya mau keluar dari kamar aja langkah kakiku terasa berat," balas Raka.
Entah Raka yang baru bahagia memiliki anak, sehingga ingin bersama anaknya saja. Atau Qiana sudah menjadi dunianya sekarang. Yang pasti ada rasa enggan. Jangankan keluar rumah, keluar kamar saja menjadi begitu jarang. Lebih mengherankan, Raka terkadang makan siang dan makan malam juga di dalam kamar. Melihat istri dan putrinya saja sudah membuat Raka berada seharian di dalam kamar.
"Qiana benar-benar mengalihkan dunianya Papa Raka yah?"
"Sebelumnya duniaku sudah berubah karenamu. Sekarang, kian berubah karena Qiana. Kamu dan Qiana adalah segalanya buatku," kata Raka.
Ucapan Raka itu manis, tapi ekspresi yang ditunjukkan Raka sekarang seolah tanpa ekspresi. Adista sampai tertawa sendiri dengan ruat wajah suaminya yang sering lempeng. Seperti minim ekspresi.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. Ketika Adista yang memberitahunya atau meluruskan dirinya, Raka sama sekali tidak marah. Justru kadang senang saja ketika istrinya seperti mengomel seperti itu.
"Ya, sudah. Aku kerja dulu. Daripada nanti Mamanya Qiana ceramah," balas Raka.
Adista tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Bukan bermaksud apa pun, tapi menurut Adista suaminya itu juga sudah begitu lama di rumah. Bahkan sejak Adista hamil di trimester akhit.
Sepeninggal Raka, Adista segera menggendong Baby Qiana. Kebetulan putrinya itu tengah menangis, waktunya meminum ASI. Oleh karena itu, Adista segera memberikan ASI untuk Qiana.
"Cup, Sayang. Minum ASI yah. Tadi Qiana dijagain Papa tenang, boboknya nyenyak. Baru saja Papa keluar dan bekerja, Qiana kok sudah bangun sih?"
Ada tawa dalam hati, karena tadi Qiana tenang bobok juga begitu lelap. Namun, baru saja Papanya keluar dari kamar, Qiana sudah terbangun dan menangis. Adista sampai geli rasanya.
"Qiana anaknya Papa banget yah? Lebih suka kalau ditemenin Papa yah? Papa juga harus bekerja, Sayang. Bekerja untuk Qiana," kata Adista dengan mengusap perlahan kening putrinya itu.
Usai mendapatkan ASI dan merasa tenang, Qiana akhirnya bisa diam. Ya, bayi itu tidak menangis lagi. Sekarang yang Adista pikirkan adalah semoga saja ketika Raka mulai bekerja dari La Plazza Hotel nanti, Qiana tidak reweel. Sebab, bisa saja Qiana menjadi tantrum karena sudah bisa merasakan kehadiran Papanya setiap hari.