
Keesokan harinya, Raka sudah memutuskan bahwa hari ini dia akan menginap di rumah Mama dan Papanya. Walau dengan berat hati harus meninggalkan Adista di apartemennya. Bahkan Adista menangis, karena sebenarnya dia tidak mau ditinggal oleh suaminya.
"Aku berangkat ke rumah Mama dan Papa yah? Besok pagi, kita bertemu di tempat kerja," pamit Raka dengan memeluk istrinya itu.
"Tidak bisakah Mas Raka tidak pergi?" tanya Adista dengan terisak-isak.
Adista masih rindu dengan suaminya. Selain itu, Adista merasa malam ini tak ingin sendiri. Dia membutuhkan pelukan dan dekapan hangat suaminya. Adista tak ingin berpisah dengan Raka.
"Kok nangis, kan cuma semalam aja," balas Raka.
Sementara melihat tangis dan isakan Adista jujur saja menggoyahkan hati Raka. Akan tetapi, bagaimana lagi memang Raka harus mengambil jalan ini. Raka juga tidak mengajak Adista karena adiknya tidak ingat kalau kakaknya itu sudah menikah.
"Semalam saja yah, besok kita bertemu lagi," balas Raka.
Pelukan Raka semakin erat. Namun, memang harus meninggalkan Adista sekarang. Raka mengecup kening, menangkup wajah istrinya dan mendaratkan beberapa kecupan di sana dari pipi, ujung hidung, dan bibirnya.
"Aku pamit yah, nanti kita bertukar pesan yah. I Love U."
Mau tidak mau, Raka harus pergi. Sementara Adista menangis dengan memegangi dadanya. Sesak sekali rasanya. Masih bergelut rindu, tapi harus berpisah lagi. Walau hanya semalam, tetap saja rasanya lama.
Raka mengendarai mobilnya membelah jalanan Ibukota. Walau lampu-lampu kota berkerlap-kerlip dan begitu semarak, tapi hatinya sendiri sangat sepi. Terbayang isakan dan derai air mata Adista membuat Raka merasa sesak. Saking sesaknya Raka sampai membuka kaca jendela mobilnya. Dia hirup banyak-banyak angin malam itu, belai angin yang menyapa wajahnya membuat Raka menjadi jauh lebih baik.
Hingga beberapa menit kemudian, Raka sudah tiba di rumah besar orang tuanya. Pria itu memarkirkan mobilnya dan kemudian mengetuk tuk pintu dan mengucapkan salam kepada Papa Zaid dan Mama Erina.
"Malam Papa dan Mama," sapanya.
"Malam, Raka. Sendirian saja? Adista tidak ikut?" tanya Mama Erina.
Raka menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut. "Tidak, Adista di unit karena kecapekan."
"Tadi tidak perlu ke sini tidak apa-apa. Kami bisa mengatasi Adikmu kok," balas Papa Zaid.
"Tidak apa-apa, Pa. Ya, walaupun Raka tidak akan bisa sering-sering ke mari, bagaimana Raka sudah berumahtangga. Raka tidak mau abai dengan istri Raka sendiri."
Apa yang baru saja Raka sampaikan barusan membuat Papa Zaid menganggukkan kepalanya. Teringat dulu ketika Papa Zaid abai dengan istri dan anaknya. Walau niatnya naik untuk memperbaiki bisnis mertuanya, tapi kala itu Mama Erina merasa diabaikan. Sehingga, terjadi perpisahan di antara keduanya. Tidak sampai di situ, Raka juga kecelakaan hingga mengalami Amnesia Retrograde. Sakitnya Raka lah yang membuat Papa Zaid dan Mama Erina kembali rujuk.
"Yang kamu sampaikan benar Raka. Jangan pernah abai kepada istri sendiri. Wanita terlebih ketika memendam segala sesuatunya sendiri, ketika meledak tidak akan bisa diantisipasi lagi. Kamu sudah tahu bagaimana masa lalu Papa dan Mama kan?" balas Papa Zaid.
Raka tampak menganggukkan kepalanya."Iya, Pa. Oleh karena itu, Raka berusaha tidak abai. Raka juga berkata jujur dengan Adista. Walau Adista ingin Raka menemaninya, entahlah Adista menjadi lebih sensitif akhir-akhir ini."
"Seharusnya kamu tidak usah ke mari tadi. Istrimu sedang membutuhkanmu," balas Papa Zaid.
"Kak Raka," sapa Rayyan.
"Ray, gimana sudah lebih baik?" tanya Raka.
"Masih sama, Kak. Aku ingin ke La Plazza lagi untuk bertemu Tata," balas Rayyan.
Mama Erina mengernyitkan keningnya. Siapa sebenarnya Tata? Kenapa wanita yang namanya selalu disebutkan oleh Rayyan itu berada di La Plazza Hotel. Mama Erina terbersit untuk ke La Plazza juga dan juga mengucapkan terima kasih kepada Tata. Menyadari bahwa sadarnya Rayyan adalah karena wanita itu.
"Siapa sebenarnya Tata itu, Rayyan? Nama lengkapnya siapa?" tanya Mama Erina.
"Namanya Adista, Ma."
Bak terjadi sambaran petir. Tidak menyangka nama wanita itu adalah Adista. Jika berdasarkan cerita Papa Zaid dulu, satu-satunya staff di La Plazza yang bernama Adista hanya Adista Maharani yang sekarang menjadi istrinya Raka. Dengan demikian apakah kedua putranya mencintai satu wanita yang sama?
"Dia bekerja di La Plazza, Ma. Kak Raka juga mengenalnya kok," kata Rayyan lagi.
Pandangan Mama Erina dan Papa Zaid sekarang tertuju kepada Raka. Sudah pasti ada yang terjadi antara dua putranya itu. Terlebih sejak pulang ke Jakarta, Mama Erina dan Papa Zaid tidak pernah bertemu dengan menantunya. Raka juga seakan menjauhkan Adista dari mereka.
"Ray, sebaiknya kamu minum obat dan istirahat. Kamu harus segera pulih, Ray," balas Raka.
"Ah, Kakak ini. Baru juga aku duduk di sini lima menit sudah disuruh istirahat. Baiklah, Kak. Aku juga sudah meminum obat, rasanya aku mengantuk."
Rayyan akhirnya meninggalkan ruang tamu dan dia segera masuk ke kamarnya. Sementara Mama Erina dan Papa Zaid menghela napas panjang dengan menatap Raka. Bukan mencoba mencari siapa yang benar dan salah, tapi masalah ini memang harus diselesaikan.
"Raka, apakah Adista yang dimaksud Rayyan adalah Adista istrimu?" tanya Mama Erina.
Mengambil jeda beberapa saat kemudian barulah Raka kemudian memberikan jawaban kepada Mama Erina. Pria itu menganggukkan kepalanya. "Benar, Ma."
"Bagaimana bisa, Raka?"
"Dulu, memang Rayyan pacarnya Adista, Ma. Namun, semua ini terjadi di luar sepengetahuan Raka. Raka tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Adista. Raka mencintai Adista sejak Raka menggantikan Papa di La Plazza, hingga Raka mendekatinya dan terjadi sesuatu antara kami di Lombok waktu itu. Akhirnya Raka menikahi Adista, menjadikan dia istri Raka. Barulah Raka tahu usai akad bahwa Rayyan adalah pacar Adista."
Pelik memang pelik, tapi Raka berkata jujur. Dia tidak menutupi semuanya. Memilih jujur kepada orang tuanya. Walau pastinya hal ini mengejutkan Mama dan Papanya juga.
"Berarti kalian menikah tanpa cinta? Bagaimana dengan Adista?" tanya Papa Zaid.
"Awalnya hanya Raka sendiri yang mencintai Adista, tapi sekarang sudah berbeda, Pa. Adista sudah memutuskan Rayyan sebulan sebelum kami menikah. Adista juga mengakui bahwa dia mencintai Raka. Jadi, jangan pisahkan kami, Pa. Jangan minta Raka mengalah untuk Rayyan kala ini."
Bukannya Raka tidak mau mengalah dan egois. Namun, perkara Adista, Raka tak mau mengalah. Dia sudah jujur, tapi tetap saja mereka takut kalau-kalau orang tuanya memintanya berpisah dengan Adista hanya karena Rayyan yang sedang sakit.