
Boreas dengan cepat mengambil kapak besarnya dan memenggal kepala Uzza.
Srash!
Dirinya pun berseru menandakan kalau Uzza telah dibunuh olehnya. Semua Orc yang Uzza pimpin untuk menyerang mereka terkejut ketika melihat Boreas melemparkan kepala Uzza—pemimpin mereka—ke arah mereka.
BRUK!
Melihat kepala Uzza telah terpenggal membuat semua Orc bawahan Boreas bersorak sorai dan semakin bersemangat melawan musuh mereka. Walau jumlah mereka sedikit, namun mental musuh kini sudah sangat hancur sehingga membuat mereka tidak sekuat sewaktu Uzza—pemimpin mereka— ketika masih ada.
“Habisi mereka semua, untuk Lord kita!” seru Boreas untuk membakar semangat pasukannya yang sedang menghabisi musuh.
“Untuk Lord!”
HIYAAA!
Saat itu Isabella menyaksikan sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, bukan hanya pertarungan antar Orc saja, melainkan kemampuan memutarbalikkan keadaan dan kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Boreas untuk melawan musuh dengan ukuran yang jauh lebih besar dari pasukan yang dia miliki.
...πππ...
Di sisi gunung yang sama, Leon menunggangi harimau putih yang diberikan oleh Boreas kepadanya untuk bergerak menuju clan Frost wolf. Ketika pria itu sampai, ia melihat Mark baru saja ingin memasuki bangunan besar tempat Baltasar Baran berada. Mark yang merasakan aura Primordial Angel milik Leon segera menghentikan langkah kakinya dan menengok kebelakang. Gerak-geriknya seperti sedang menunggu Leon.
Ketika Mark membuka pintu, semua Orc di dalam menatapnya dengan pandangan dingin begitu juga dengan Baltasar yang sedang duduk diatas tahtanya. Leon membalas semua tatapan itu dengan tatapannya yang tajam dan dingin namun Mark menegur Leon dan berbisik, “Apapun yang terjadi jangan pernah menatap mata para petinggi Orc jika tujuanmu untuk membuat perdamaian."
Leon mendengus tidak terlalu memperdulikan kata-kata Mark dan tetap menatap Baltasar dengan tatapan tajamnya. Baltasar yang melihat tatapan pria itu sebenarnya merasa sedikit khawatir karena tidak bisa melihat tingkat kekuatan milik lawan tatapannya itu namun dia menyembunyikan perasaanya di balik mukanya yang sangar.
Mark berjalan mendekat ke arah Baltasar yang sedang duduk di kursi tahtanya. Baltasar pun berdiri dan berkata dalam bahasa Orc kuno karena dia pikir hanya dirinya dan Mark yang mengetahui bahasa ini.
“Apa yang membawamu kemari, Mark?” tanya Baltasar dengan tatapan tajam menuju Mark.
“Aku tidak memiliki maksud lain selain membawa perdamaian antara Orc dan manusia,” jawab Mark.
Baltasar tertawa mendengar jawaban Mark dan menjawab, “Kalau begitu, menyerah saja kalian semua para umat manusia dengan damai dan aku berjanji bahwa aku tidak akan membunuh kalian hanya untuk kesenangan semata.”
Mendengar jawaban Baltasar membuat Mark naik darah, namun dia berusaha menahan amarahnya itu. Pria itu sadar bahwa sosok di depannya bukan lagi temannya dulu melainkan sosok mengerikan yang haus akan darah.
Leon tiba-tiba saja ikut berbicara dalam bahasa Orc kuno, kemampuan ini ia dapatkan berkat ingatan dan pengetahuan yang Gris miliki.
“Bagaimana kalau kita berdua membuat kesepakatan, raja para Orc?” sahut Leon membuat Mark dan Baltasar terkejut karena mereka berpikir hanya mereka berdua yang tersisa di dunia ini yang memahami bahasa Orc kuno.
Dengan kekuatan yang Leon miliki, ia membuat sebuah kursi yang ukurannya sama besarnya dengan takhta milik Baltasar dan sebuah meja bundar yang memisahkan antara Baltasar dan dirinya yang saling berhadapan.