
Dewi Chang’e sempat terdiam sebentar dan berjalan bolak-balik sebelum akhirnya memberikan izin agar Niel tetap berada di tempat ini. Setelah mendapatkan izin tersebut, Niel menggunakan tempat ini untuk sarana berlatihnya dan mencari tahu segala hal mengenai dewa dan dewi.
Walau ia bukanlah anak dari Dewi Chang’e secara langsung, namun sebagai keturunannya—Chang’e—memperlakukannya selayaknya anaknya yang dia lahirkan sendiri perlahan tapi pasti hubungan antara ibu dan anak yang terjalin di antara Dewi Chang’e dan Niel semakin menguat.
Bahkan ketika Chang’e pergi ke alam dunia tempat kekasihnya—Hou yi—direinkarnasikan, Niel juga diajak olehnya.
“Lihat, nak, itu adalah ayah buyutmu," kata Chang’e kepada Niel sambil menunjuk ke arah sosok pemuda tampan dan berotot yang sedang berlatih panah.
Tiap panah yang dilesatkan oleh pria itu mampu menghancurkan bukit-bukit di sekitarnya, dan itu membuat Niel merasa kagum.
“Kau kagum, bukan?” tanya dewi Chang’e dan Niel pun mengangguk sebagai jawaban iya.
Chang’e tersenyum bahagia dan mengelus kepala Niel karena wajah yang dimiliki oleh Niel sama persis dengan anak pertama dari Chang’e dan Hou yi di kehidupannya dulu.
“Apakah ayah buyut memang sehebat itu?” tanya Niel dengan polosnya yang membuat Chang’e menjadi tersentuh.
Dewi Chang’e pun menceritakan kisahnya dengan Hou yi dulu mulai dari awal mereka bertemu, kemudian bertarung melawan berbagai pasukan iblis, hingga akhirnya mereka menikah dan memiliki seorang anak. Namun, sayangnya Hou yi termakan godaan oleh istri keempatnya yang bernama Xi shi, dan jatuh ke dalam kegelapan di mana Hou yi selalu mencari cara agar bisa hidup abadi walau dengan alasan ingin hidup selamanya bersama Chang’e.
Suatu ketika, Hou yi berhasil menemukan sebuah resep ramuan yang terbuat dari campuran 5 bahan mistis yaitu darah naga kilin, mata ular jade, bulu dan darah Phoenix, air tiga warna, dan terakhir darah.
Hou yi yang awalnya marah besar kepada Chang’e akhirnya sadar kalau apa yang diperbuatnya sudah melampaui batas akal sehat manusia. Selama masa bulan purnama, Hou yi selalu berdoa kepada sang pencipta untuk melindungi Chang’e dan keturunannya di tepi sungai Yue Amos.
Chang’e merasa sangat bahagia dengan niatan tulus suaminya untuk kembali menebus kesalahannya, mereka akhirnya bertemu kembali. Namun, setelah pertemuan itu Hou yi meninggal dalam pertarungan antara pasukan musuh yang di bawa masuk oleh Xi shi.
Chang’e yang mengetahui hal itu marah besar dan berniat membunuh semua orang, namun Hou yi melarangnya dan memintanya menunggu dirinya menyelesaikan reinkarnasinya untuk menebus dosa-dosanya, Sejak saat itu, Chang’e selalu mencari pecahan jiwa dari kekasihnya itu dan mendoakannya dari jauh serta menunggunya untuk kembali kepadanya.
...πππ...
Mendengar cerita itu membuat Niel merasa terharu, tanpa disadarinya air mata telah keluar dari matanya. Ia pun mengusap matanya dan berusaha mengalihkan perhatian Chang’e.
“Maafkan aku. Pada awalnya aku berpikir bahwa kau sama dengan dewa yang menjadikan Khan para Orc sebagai Apostle nya,” ujar Niel.
“Maksudmu Anubis? Jangan samakan diriku dengan serigala menjijikan itu!” tanya sekaligus jawab Chang’e dengan nada sedikit kesal.
“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung sama sekali," sahut Niel dengan wajah menyesal kepada Chang’e.