Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 2



Dingin ... dingin yang sangat menusuk tubuh, itulah yang Leron rasakan saat ini. Tubuhnya tak bisa ia kendalikan, bahkan menggerakkan jari saja rasanya mustahil.


Ia juga tak bisa melihat di mana ini ataupun pukul berapa ini, yang ia tahu hanya di sini sangat dingin dan gelap, seperti berada di tengah-tengah benteng yang tinggi dan tidak tertembus tempat aneh yang bahkan sniper terbaik sekalipun tidak dapat melihat cela untuk menyerang tempat ini.


Tak lama kemudian, ia mendengar sebuah suara, alunan suara yang lembut dan hangat, terdengar baginya seperti suara seorang wanita yang mencoba untuk berkomunikasi dengannya.


Leron berusaha berpikir rasional, ia tepiskan angan-angan aneh itu dengan anggapan mungkin dirinya mengalami halusinasi karena hipotermia yang diakibatkan oleh suhu yang dingin ini. Ya, itu pasti alasannya, halusinasi! Karena tidak mungkin ada wan …


“Wah, wah, kau tidak mendengarkanku, ya, wahai roh kecil?” Wanita itu bertanya dan seketika mata Leron terbuka dan melihat sosoknya yang berparas cantik.


Dengan gaun biru yang elegan dan mata yang bercahaya secerah mentari pagi membuatnya terlihat anggun dan dominan.


Wanita itu menatap Leron seolah dirinya telah melakukan kejahatan besar, tapi tetap saja paras cantik nya itu membuat pria itu merasa jatuh hati! Sial, apa yang kupikirkan? Tak mungkin, kan, aku jatuh cinta dengan halusinasi sendiri?! Apakah ditembak di kepala membuat jiwa ku tak waras?!


“Kau tidak gila, wahai, roh kecil," kata wanita itu sambil membelai kepala Leron lalu dia menggumamkan sesuatu. Seketika ia berwujud seperti sediakala dengan muka dan tubuh tanpa luka sedikit pun. Namun, tiba-tiba saja dia bangun dan membuat Leron tunduk seperti seekor anak anjing di depan majikannya.


“Jangan takut kepadaku, wahai roh kecil!” seru wanita itu sambil membelai pundaknya. 


Wanita itu pun tertawa. “Maaf, roh kecil, tadi isi pikiranmu yang lugu terbaca oleh diriku.” Wanita itu berkata sambil memegang mulutnya untuk menahan tawa, Leron pun memberanikan diri untuk bertanya kepadanya karena penasaran sekaligus kesal.


“Kau tidak perlu tau namaku, karena aku memiliki banyak nama." Lalu ia melanjutkan, “ Tapi jika kau ingin tau panggil saja aku ‘Enid, goddess of Spirit’ saja.”


Wanita itu menjawabnya sambil membisikannya ke kedua daun telinga Leron, seolah-olah tidak ingin didengar oleh orang lain.


“Maaf jika pertanyaanku aneh, Dewi, tapi, di manakah ini? Apakah aku sudah mati atau masih hidup? Tempat ini terlihat seperti benteng yang dingin, tapi keberadaanmu membuat segalanya menjadi hangat, memang kecantikan seorang dewi mampu mengubah ...” 


Wanita itu berjalan menjauh lalu memotong kata-kata pria itu, “Cukup dengan pujian halusmu itu! Akan kujawab pertanyaanmu satu per satu.”


“Untuk pertanyaan pertamamu, tempat ini bernama Libitina, lebih tepatnya kita berada di domainku yang bernama Erebus. Untuk pertanyaanmu yang kedua, jawabannya Iya, dan tidak itu tergantung dari langkahmu selanjutnya.”


Enid menjawab dan pergi entah ke mana, kemudian dia kembali lagi dengan membawa sesuatu di tangannya seperti secarik kertas namun berkilau bagaikan emas. Sorot mata Leron berbinar melihatnya, membuat dia terpaku dalam diam dan terkagum.


Sebenarnya siapa wanita ini? Dewi ini? Ada di mana aku saat ini? Apakah aku telah benar-benar mati dan ke surga?