Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 28



“Budi! Apa kau yakin?” tanya Leon cemas. Budi menganggukkan kepalanya yakin dan menjawab, "Tenang saja, akan kuhabisi dia dalam 5 detik!”


Pertarungan dimulai dengan Alfonso yang bergerak dengan cepat dan menyerang dengan dua buah pedang panjangnya ke arah Budi, namun tidak ada yang kena. Anak itu sungguh gesit.


“Heh, kau tidak sekuat itu ternyata!” seru Budi lalu menyerang Alfonso dengan pedang besar yang sebelumnya digunakan oleh Ray.


Sing!


Bruak!


Serangan Budi berhasil membuat Alfonso terjatuh dan memuntahkan darah dari mulutnya.


“Ini saja?” tanya Budi sebelum kembali ke pinggiran arena tempat Leon menontonnya. Alfonso sudah tak berdaya dan tak sanggup berbicara apapun lagi.


“Lihat! Hanya dalam 5 detik selesai, bukan?” tutur Budi kemudian tertawa dengan wajah yang terlihat puas.


“Kau pikir ini sudah selesai, hah?!” Alfonso berdiri dari tempatnya dan menjadi seorang pengecut dengan mengandalkan orang lain,  “Pelayan! Bunuh orang ini untukku!"


Tiba tiba saja muncul sepuluh orang ahli di ranah Sky Realm lapisan puncak dengan senjata dan armor lengkap. “Sekarang pertarungan sampai mati dimulai!” 


“Tidak ada yang boleh keluar arena kecuali kalau Budi sudah mati!” lanjutnya.


Pertarungan ini juga disaksikan oleh beberapa ahli di akademi dan para profesor serta kepala Akademi Ahrion, mereka setuju dengan persyaratan tersebut.


Mereka sudah gila, benar-benar gila! batin Leon dalam hatinya.


“Budi kemarilah!” seru Leon memanggil Budi dan mengatakan untuk bertukar posisi.


“Apa kau yakin? Bagaimana kalau kita berdua saja yang bertarung bersama?” sahut Budi karena tau apa yang Leon maksud.


“Tenang saja, aku bisa melawan mereka semua sendiri. Percayalah padaku, Bud." Leon berkata berusaha meyakinkan rekannya.


“Kawan, berhati-hatilah! Aku akan mencari guru Draco untuk membantu segera,” kata Budi. Ia keluar dari arena ketika Leon masuk.


“Oh, dan satu lagi. Semoga Tuhan melindungimu," lanjut Budi.


“Ya. Terima kasih, kawan," sahut Leon.


Dengan begitu hanya tersisa dirinya seorang di arena melawan. Ada 11 orang di sana, yang 10 diantaranya berada di Ranah Kultivasi yang jauh lebih tinggi dari pada diri Leon.


“Habisi dia?”


Seketika sepuluh orang itu membentuk semacam formasi yang terdiri dari posisi depan, tengah, dan belakang. Di depan ada tiga orang Magic Swordsman, lalu di tengah ada dua Mage dan satu summoner, dan di belakang dua spearman dan dua Healer.


“Maaf, Nak. Kau harus mati hari ini,” ujar salah seorang dari mereka.


“Kami tidak memiliki dendam sama sekali denganmu," timpal yang lainnya karna hanya menjalankan tugas mereka.


“Ataupun dengan keluargamu," sahut yang lain lagi.


“Dari yang kudengar, kau ahli dalam sihir, bukan?” tanya mereka yang lain.


“Hahaha. Sudah lama aku tidak membunuh seorang Mage!” timpal yang lainnya.


“Ya, untuk berjaga-jaga saja. Domain 'Shadow Barrier'!” seru salah seorang di antara mereka.


Seketika seluruh arena tertutup oleh bayangan dan membuat jarak pandangan Leon berkurang drastis.


“Untuk sentuhan terakhir!” seru orang pertama.


“Aku mengerti!” sahut orang kelima.


[Domain ‘Brute king Territory: Ashura’] 


Sial, apa-apaan ini! Seluruh tertutup oleh Domainnya! Aku tidak bisa mengeluarkan sihir apapun, jarak domainnya hanya berbentuk lingkaran tapi pas sekali dengan bentuk arena ini. Yah, sepertinya harus kulakukan dengan menggunakan seni pedang, batin Leon saat itu.


Leon mengambil dua dagger yang ia miliki, yang satu ia beli dan satu lagi pemberian dari kakak perempuannya—Laura.


“Jadi, apakah kita akan mulai sekarang?" tanya Leon berseru dan mencoba untuk mengetahui posisi mereka satu per satu.


Hening.


Tiba-tiba saja ada serangan dari sisi sebelah kanannya, beruntungnya bisa ia tangkis dengan mudah 


Tsing!


Daggernya menahan serangan pedang dari belakang, bisa ia rasakan ada serangan datang dari depannya dan diikuti dari sisi samping kiri.