Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 33



"Tapi aku tidak ingin kehilangan dirimu! Bawalah aku bersamamu!” seru Isabella menangis ketika mereka berpelukan.


Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi, ini adalah pelukan terakhir yang bisa mereka berdua rasakan antara satu sama lain.


“Maaf, aku benar-benar minta maaf telah menyusahkanmu selama ini,” sahut Leon juga mulai menangis tanpa ia sadari. Entah mengapa rasa sedih itu menular padanya.


“Kau tidak menyusahkanku tidak sama sekali!" Isabella tak mengindahkan kata-kata Leon padanya. Leon pun menangkup kedua tangan gadis itu.


“Hei, maukah kau berjanji untukku?” tanya Leon kepada Isabella yang berusaha menahan air matanya untuk mengalir keluar dari poros matanya.


“Berjanji apa?” Isabella bertanya kepadanya.


"Kalau kau akan selalu menungguku,” jawab Leon. Seketika wajahnya berubah menjadi bersemu merah karena malu mengatakan hal tersebut.


“Iya, aku akan selalu menunggumu," jawab Isabella yakin kemudian berhenti menangis dan mengulum senyuman pada wajahnya yang manis. Entah apa yang ada dalam pikiran Leon saat itu, Leon memeluk gadis yang kini berdiri di hadapannya.


Malam itu benar-benar malam yang luar biasa karena pada akhirnya Leon bisa mengungkapkan perasaannya kepada Isabella. Ternyata mereka berdua saling menyukai satu sama lain. Namun sayang, pada pagi harinya mereka akan berpisah untuk pertama kalinya.


...πππ...


“Boss, apa kau serius akan pergi?” tanya Ray dengan penuh khawatir. Dijawab anggukan kepala oleh Leon.


“Kawan, kenapa kau tidak bilang sejak kemarin?” sahut Budi berkata kemudian dia memberikan Leon sebuah hadiah berupa pedang dan cincin.


“Terima kasih, kawan.” Leon menepuk bahu lawan bicaranya kemudian melihat Isabella dan Priciliana yang datang bersamaan. Mereka memberi Leon hadiah berupa makanan kering dan buah-buahan.


“Hei, cepatlah, Nak! Kau itu bukan akan pergi ke medan perang!” seru Draco D menunggunya di depan.


“Apa kau bilang tadi?!” sahut Draco D yang mendengarnya dengan jelas. “Tidak ada,“ jawab Budi dengan ekspresi yang mulai ketakutan sendiri.


“Bisa beri aku waktu sebentar, Guru?” tanya Leon. Guru memberikannya waktu tambahan sebesar lima menit. Ia berjalan agak menjauhi semua orang kemudian memanggil Isabella.


“Isabella kemarilah. Ada sesuatu yang ingin kuberikan untukmu."


Datanglah gadis itu dengan senang dan riang. "Apa itu, Leon?" Isabella bergegas lari ke arahnya kemudian memeluk Leon. Leon pun memberikan hadiah perpisahan berupa kalung yang ia beli  dua hari sebelumnya di toko seorang pengrajin kalung.


“Aku harap kau menyukai kalung ini," ujarnya. Isabella terus memandangi kalung yang Leon pasangkan di lehernya sebelum memuji kalung itu, “ Iya, aku menyukainya!"


Namun gadis itu bingung akan suatu hal, "Tapi, kenapa ini berbentuk dua sayap yang membentuk seperti sebuah hati?”


“Yang satu ini seperti sayap Iblis karena melambangkan diriku yang dianggap seperti monster, dan sayap malaikat melambangkan dirimu karena kau adalah malaikat bagiku,” jawab anak itu dengan romantis hingga meluluhkan hati Isabella seketika di tempat dan waktu itu juga.


Sontak membuat sabella memeluknya dan dibalas dengan pelukan kembali, sebelum akhirnya Guru berseru memanggil Leon.


“Apa kalian berdua ingin seperti itu terus? Cepat masuklah ke dalam gerbang ini, Nak!” pekik Draco D sudah tidak sabar.


Kemudian Leon melepaskan pelukannya dan berbisik, “Tunggulah aku, Isabella. Kita akan bertemu lagi dan aku akan kembali."


“Selamat tinggal, semuanya! Jangan lupakan diriku!” seru Leon seraya melambaikan tangannya kemudian masuk ke dunia ilusi. Semua teman-temannya melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan mereka.


Ketika Leon masuk, ia berada di tengah hutan yang sangat lebat dan gelap. Hal pertama yang ia lakukan setelah keluar adalah mencoba menganalisis pedang dan cincin yang diberikan oleh Budi.