Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 103



“Lord, apa perintahmu?” tanya Den.


“Cari Boreas untukku dan laporkan kepadaku jika kalian menemukannya!" titah Leon menjawab Den. Seketika dengan cepat, semua orc bayangan yang dipimpin oleh Den bergerak pergi dan meninggalkan Tyr.


“Tyr, sejak kapan kau mengikuti manusia ini?” tanya Baltasar heran. Tiba-tiba saja Tyr mengayunkan palu besarnya tepat ke arah leher Baltasar dan menatapnya dengan tatapan penuh amarah.


“Jangan pernah menyamai Lord dengan manusia lain jika kau tidak ingin kehilangan gelarmu sebagai Raja," ancam Tyr.


Leon pun meminta Tyr untuk menurunkan palunya dan memintanya untuk mendampingi pergi sebagai penjaganya.


“Dengan senang hati, Lordku," jawab Tyr dengan ramah.


...πππ...


Leon segera pergi menuju ke tempat di mana dia merasakan keberadaan Isabella sebelumnya. Tyr dan Aguya mengikuti di belakangnya.


Selama dalam perjalanan, Aguya dan Tyr saling mengobrol dan dengan cepat mereka saling akrab satu sama lain.


“Aguya ... Tyr ... bersiaplah!” pinta Leon karena menyadari kalau ada yang mengawasi mereka.


Tyr segera maju ke depan tuannya itu untuk melindunginya. Ia mengawasi sekitar sambil mengangkat palu besarnya untuk berjaga-jaga jika mereka disergap.


“Tuanku ... sepertinya musuh berada di bagian Selatan kita. Apa perlu kubakar hutan ini?” tanya Aguya kepada Leon. 


Namun jawaban Leon adalah gelengan kepala karena jika hutan ini dibakar, maka akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar. Hal ini bisa saja merusak kedamaian yang baru saja mau terjalin.


“Keluarlah kalian jika tidak ingin mati di tanganku!” seru Tyr dengan teriakannya yang keras namun tidak ada jawaban atau pergerakan sedikitpun di balik gelapnya hutan.


Leon pun memerintahkan bawahannya untuk melupakan hal tersebut dan fokus saja dengan tujuan awal. Tyr dan Aguya mengangguk dan mengikuti tuan mereka pergi.


Tak lama setelah mereka melanjutkan perjalanan, Den memberitahu keberadaan Boreas melalui telepati kepada Leon. Leon pun mempercepat gerakannya dan sampai di sebuah tempat di mana banyak mayat Orc berserakan beserta kereta kuda dan beberapa petualang manusia yang sedang menyembuhkan luka-luka mereka.


“Lord, kami sudah menjalankan perintahmu,” kata Boreas sambil membungkukkan badannya di hadapan Leon.


“Lord, izinkan kami kembali berada di balik bayanganmu agar kami bisa selalu bertarung untukmu,” pinta Den begitu juga dengan para Orc bayangan yang dia bawa.


Leon menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Dengan cepat, semua Orc yang bersama Den berubah menjadi bayangan dan menyatu dengan bayangan milik Leon.


“Terima kasih, Lordku,” kata Den dengan menunjukkan rasa hormatnya sebelum ikut menyatu dengan bayangan miliki Leon.


Tidak lama setelah itu, Tyr dan Aguya yang berada di belakang Leon sampai. Tyr kemudian mengikuti Orc bayangan lainnya dan menyatu dengan bayangan milik Leon, sedangkan Aguya mengecilkan tubuhnya dan duduk di pundak kiri Leon.


“Boreas, di mana Isabella?” tanya Leon dengan tatapan seriusnya kepada bawahannya itu yang terlihat sedikit gugup, karena ketika pertarungan Boreas, lebih mementingkan dirinya untuk mengalahkan Uzza ketimbang mengawasi Isabella.


“Leon ... apa itu kau?”


Seorang wanita keluar dari balik kerumunan Orc dan manusia. Leon samar-samar melihatnya, entah mengapa angin tiba-tiba begitu kencang saat itu.


Isabella berlari sekencang mungkin ke arah Leon dan kemudian memeluk pria itu dari belakang.


“Kekasihku ... bagaimana misi pertamamu? Apa kau berhasil? Apa kau terluka? Apakah ada yang bisa kubantu?” sambut Isabella menghujani Leon dengan banyak pertanyaan sampai-sampai Leon tidak mampu berkata-kata. 


Pria itu meletakkan jarinya di depan bibir Isabella sebagai isyarat untuk berhenti melontarkan pertanyaan lagi. Setelah Isabella berhenti bertanya, Leon mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan satu per satu. Namun rasa rindunya menyebabkan dirinya gugup saat berkata-kata.


“Misi kali ini sukses, dan seperti yang kau lihat aku tidak terluka,” jawab Leon sambil menunjukkan tubuhnya kepada Isabella agar lebih meyakinkan.


“Syukurlah aku sangat khawatir kepadamu," sahut Isabella dengan rasa lega yang terlukiskan di wajahnya.


,