Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 32



Ketika Leon mengatakannya, Isabella menarik anak itu keluar kemudian dia menghadangnya dan bertanya, "Apa kau benar-benar membunuh Alfonso?!”


“Kalau benar memangnya mengapa? Itu bukan urusanmu juga, bukan, Isabell?” sahut Leon menjawab pertanyaannya.


“Apa kau gila?! Tentu saja itu juga urusanku, memangnya aku akan diam saja jika mereka berusaha membunuhmu?!” Isabella menjawab dan berteriak khawatir, terlihat air mata menetes dari matanya.


“A-aku khawatir tentangmu. Kau tahu itu, bukan?” lanjut Isabella berkata dengan berusaha menahan tangis. Dengan reflek, Leon  memeluknya.


“Sudah, aku paham. Jadi maafkan aku, ya?” sahut Leon sambil memeluknya dengan erat.


“Kalau mereka mengusirmu, aku juga akan ikut denganmu.” Isabella berbisik di telinganya. Leon hanya bisa tersenyum karna mengetahui kalau ada orang-orang yang selalu mendukungnya.


Terdengar langkah kaki.


Tap. Tap. Tap.


“Jadi kalian berdua di sini?" tutur Draco D ketika datang.


“Guru?” Leon dan Isabella berkata di saat yang bersamaan.


“Ikut aku sekarang!” pinta Draco D tegas.


Mereka berdua berjalan bersama mengikuti guru sampai ke ruangannya


“Leon Silvestre! Kau adalah anak paling berbakat yang pernah kutemui. Namun sayang, kejadian hari ini membuatmu terlihat seperti monster bagi anak yang lain!”


“Guru, jangan menghukumnya kumohon!” seru Isabella dengan kekhawatiran, terlihat jelas di wajahnya.


“Diam Isabella. Ini bukan saatnya untuk khawatir. Jadi, Nak … aku punya tawaran untukmu. Waktumu di Academy Ahrion hanya dua tahun. Selama tiga tahun, kau akan dikirim untuk ikut bergabung dalam militer," jelas Draco D.


Tanpa ba bi bu, Leon menerima tawaran itu.


“Baik, Guru. Akan kuterima tawaran itu," jawab Leon.


“Tidak! Aku menolaknya, Guru! Bagaimana bisa kau mengirimnya ke militer? Umurnya masih kecil” Isabella membentak Guru berusaha untuk melindungi diri Leon.


“Ya karena tampangmu yang masih muda memang agak sulit pasti di awal. Kemarilah, aku punya sebuah solusi untuk mu, Nak," sahut Draco D.


Leon mengikuti guru dan Isabella mengikuti di belakangnya. Mereka berjalan keluar kemudian masuk ke sebuah bangunan tua dan berdiri tepat di sebuah pilar besar yang seolah terlihat seperti sebuah gerbang.


“Ini adalah pintu Dunia Ilusi Abyss. Kau bisa meningkatkan kekuatanmu di dalam sini jika kau mau," jelas Draco D.


"Waktu di dunia sana dengan waktu di sini sangat berbeda. Satu tahun disini sama dengan 3 tahun menurut jalannya waktu disana."


Mendengar penjelasan guru, Leon sangat terkejut karena selama ini buku yang ia baca tidak pernah ada yang memberitahu soal hal ini. Jika seperti itu, ia bisa mempercepat pertumbuhannya, bukan? Ini benar benar kesempatan luar biasa menurutnya.


“Jadi aku bisa menghabiskan waktu enam tahun di dunia sana sebelum keluar dan bergabung dengan Militer?” Leon berusaha memastikan apa yang ia pahami sejauh ini.


“Hahaha … kau benar! Memang anak yang sangat cerdas!” puji Draco D. “Jangan khawatir, Nak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi tanpa perlengkapan sedikit pun," lanjutnya.


“Guru, apakah ini aman?” tanya Isabella karena khawatir.


“Yah ... tidak 100% aman, jadi jika kau punya sesuatu yang ingin dilakukan bersama lebih baik lakukan sekarang," jawab Draco D apa adanya.


"Kalian berdua punya waktu tiga hari."


“Terima kasih, Guru !” sahut Leon. Kemudian ia dan Isabella pergi dan menghabiskan hari berdua.


Tiga hari kemudian, pada malam hari.


“Leon … kau tahu, kan, kalau kau tidak harus ke sana?"  Isabella bersandar di pundak laki-laki di sebelahnya ketika mereka sedang berdua di kamar. Sungguh mengesankan bagi siapapun yang melihat pemandangan ini.


“Tapi memang tidak ada cara lain, bukan?” sahut Leon menjawab kemudian mengelus kepala Isabell dengan harapan dia merasa lebih tenang.


“Bagaimana kalau kita pergi berdua? Aku bisa selalu melindungimu dan bersama-sama pasti jauh lebih aman," usul gadis itu.


“Tidak! Membiarkanmu kehilangan mimpimu untuk lulus dari Academy Ahrion? Tentu saja tidak akan kubiarkan," jawab Leon kemudian memeluknya secara tak sadar.