Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 74



Camila pun langsung mengisi air itu lagi dengan kekuatan sihirnya sebagai seorang malaikat.


“Luar biasa, kau memang hebat! Seandainya aku itu malaikat juga, pasti tidak perlu repot-repot mengambil air jika haus," puji  Mark sekaligus menggerutu sendiri. Camila hanya tertawa mendengar perkataan suaminya itu.


“Jangan khawatir, aku tetap mencintaimu walau kau hanya manusia," sahut Camila sambil memeluk Mark. Membuat senyuman di wajah tampan Mark terukir indah.


“Iya aku juga mencintaimu, Seraphimku tercinta," sahut Mark lalu dia mendekap Camila sambil memeluknya dengan sangat erat.


“Sampai kapan kau mau terus memelukku, Sayang?” tanya Camila seraya tertawa dengan keras.


“Sampai akhir hayatku," jawab  Mark kemudian tertawa karena merasa geli dengan omongannya sendiri.


Ketika sore hari menjelang malam hari, Mark dan Camila seperti biasa duduk di halaman belakang mereka sambil menunggu matahari terbenam. 


“Sayang!” seru Mark sambil memberikan minuman kepada Camila, Camila pun mengambil minuman tersebut dan meminumnya. “Aku penasaran, apakah malaikat bisa meninggal?” tanya Mark hingga membuat Camila terkejut dan menyemburkan minuman yang dia sedang minum ke arah Mark.


"Puah! Uhuk! Uhuk! Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja semua yang bernyawa akan merasakan kematian walau berbeda-beda," jawab Camila seraya mengelap sisi mulutnya yang basah.


“Tunggu sebentar, jangan dilanjutkan. Bajuku sedang basah, perlu untuk dikeringkan!” kata Mark sambil membuka bajunya dan menyisakan otot-ototnya yang kekar.


Ketika Camila melihat tubuh Mark mukanya langsung berubah menjadi merah.


“Iya lanjutkan!” pinta Mark.


“Uhm ... bagi malaikat, jika kau mati ada dua hal yang menunggumu kembali ke kehampaan, atau jatuh sebagai manusia biasa," jelas Camila  dengan wajah yang sedikit murung. Mark mendekati Camila dan memeluknya untuk membuatnya tersenyum kembali.


Camila menoleh menatap suaminya, senyuman tertular pada wajahnya. “Iya!” sahutnya sambil tersenyum lalu membalas pelukan Mark hingga dia terjatuh.


“Ouch! Kau menangkapku sekarang. Apa yang akan kau lakukan?” kata Mark berusaha menggoda Camila.


“Sayang, ada sesuatu yang ingin kusampaikan!” Camila melepas pelukan Mark, menatap suaminya dengan nada serius.


Mark yang terjatuh langsung duduk ketika melihat wajah Istrinya sedang serius. “Apa aku melakukan kesalahan hari ini? Maaf kalau aku salah," tanya Mark seraya menundukan kepala sebagai gestur menyesal karena biasanya ketika Camila serius itu berarti Mark melakukan kesalahan.


Camila tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak ketika melihat tampang suaminya yang gugup dan ketakutan. “Kemarilah sayang!” pinta Camila menarik kepala Mark mendekat ke arah perutnya lalu kemudian membisikkan, “Aku hamil sayang!” 


Mark terkejut mendengar hal tersebut dan langsung memeluk Camila sambil menangis bahagia ketika mendengar Istrinya yang hamil.


Sejak saat itu, perhatian Mark terhadap Istrinya begitu pula perhatian Camila kepada Mark semakin meningkat. Mereka berdua juga semakin jatuh cinta dan tidak mau dipisahkan, sampai suatu ketika Mark dan Camila sedang berjalan di luar untuk berbelanja.


Camila merasakan perasaan gusar seperti seolah ada sosok yang mau mengancam nyawa Mark. Hingga malam harinya, Camila tetap tidak bisa tidur nyenyak mengetahui nyawa suaminya terancam yang kemungkinan besar penyebabnya adalah dirinya sendiri.


Camila memutuskan untuk pergi menjauh dari Mark demi keselamatan Mark sendiri. Ketika Mark tertidur, Camila memutuskan untuk pergi.


Sambil terisak dan meneteskan air mata, Camila berbisik kepada Mark yang sedang tertidur, “Maaf … maafkan Camila, tapi aku tidak ingin kau berada dalam bahaya. Biarlah aku dan anak kita pergi ke tempat yang aman untuk sementara waktu."


Kemudian Camila mencium Mark sekaligus memberikan sebagian kekuatannya kepada Mark. Ketika memberikan sebagian kekuatannya kepada suaminya, sayap yang awalnya Camila miliki berkurang menjadi 4 sayap dari jumlah asli yang berjumlah 6 sayap karena diberikan kepada suaminya itu.