
“Kau ini umur berapa, sih?" tanya Budi dengan kesal dan berapi-api.
“Usiaku 18 tahun. Memangnya kenapa?!” jawab Prisciliana ikut kesal karna emosi.
“Cantik. Kau sangat cantik ketika sedang memarahiku,” puji Budi lalu memandangi kedua sorot mata Prisciliana dan menaruh jarinya di mulutnya sebagai isyarat untuk berhenti memarahinya.
“Berhenti mengalihkan topik, Budi !” Prisciliana memarahi temannya itu dengan wajahnya yang memerah. Tanpa sadar, Budi mendekatkan wajahnya kepada gadis di depannya itu.
“Jadilah penyembuh hatiku, Prisciliana," pinta Budi dengan nada bicara dramatis, membuat Prisciliana bergidik ngeri.
“A-apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?! Aku ini bukan dari keluarga bangsawan manapun,” sahut Prisciliana seraya menjauhkan wajahnya dari Budi.
“Aku tidak peduli. Kau adalah orang yang kusukai, lagipula namamu sesuai dengan nama belakangku,” ungkap Budi lalu mengantar Prisciliana kembali ke kamarnya. Prisciliana masih tak dapat menahan rasa tersipu malu yang menyerangnya.
“Kumohon terimalah, dewiku yang cantik." Budi menangkup kedua tangan Prisciliana hingga membuat perempuan itu semakin malu dibuatnya.
“Berisik! Iya aku menerimanya, asal kau mendengarkanku," jawab Prisciliana kemudian berbisik kepada laki-laki di depannya itu. "Aku sebenarnya sudah menyukaimu sejak peristiwa ketika kau bertarung di arena melawan Alfonso."
Budi tertegun ketika menyadari bahwa perasaan mereka berdua sama halnya, ia pun mengukir senyuman pada wajahnya dan mengelus rambut Prisciliana yang mungkin saat itu juga sudah menjadi kekasihnya. “Sudah tidurlah. Atau ... kau mau tidur bersamaku di kamarku?“
Prisciliana mendelikkan kedua matanya, ia mendaratkan pukulan kecil pada bahu Budi, "Hey, kita ini masih belum sah. Jangan berbicara seperti itu. Aku pergi dulu, bye!"
Budi pun melambaikan tangannya, tertawa, lalu kembali ke kamarnya untuk tidur malam itu.
Sementara itu di kamar Ray. Ia duduk di atas kasurnya dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Bingung karna tidak ada Budi dan Prisciliana di sana.
“Kemana perginya mereka berdua? Apa aku ditinggal sendiri disini?"
Beralih ke kamar Draco D. Pria itu duduk di atas kasurnya dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Berharap bahwa tidak ada yang terjadi dengan murid didikannya di alam lain.
“Semoga kau baik-baik saja, Nak," gumam Draco D saat itu. Ia memandangi bulan dan langit malam yang gelap tanpa bintang di depan jendela kamarnya itu.
Masuklah seorang pria ke dalam kamarnya, “Apa kau mengkhawatirkan muridmu itu, Draco kawanku?”
“Diamlah. Kau tidak tau apa-apa,” sahut Draco D dengan kesal. Ia sedang ingin sendirian saat itu.
“Kau ini benar-benar tega mengirim anak tampan dan hebat seperti dia menuju ke tempat kematian seperti itu sendirian!"
Masuklah seorang perempuan yang datang dari luar kamar, kedua pria menatapnya ketika mendengar asal suaranya. Ia adalah Lucilia van Holser.
“Diamlah, ******! Aku tidak akan mendengar apapun yang dikatakan oleh wanita penggoda seperti dirimu!” Draco D benar-benar emosi saat itu, entah apa yang terjadi dengannya.
“Kau ini. Apa kau benar-benar tidak menyukaiku?!” Lucilia menjawab lalu memegang tangan Draco dan mengarahkannya kepada kedua benda besar pada tubuhnya lalu berkata dengan nada erotis, “Apakah dadaku ini kurang besar untuk memuaskanmu, Sayang?”
Lars membeku di tempat, ia menoleh karna tak ingin melihat mereka. “Uhm Draco, Lucilia. Bisakah kalian melakukan hal mesum itu setelah aku pergi?” tuntut Lars Dunmark.
Tak ada jawaban dari mereka berdua. Lars pun membalikkan tubuhnya, "Baiklah, akan kutinggalkan kalian berdua sendirian."
“Lars! Jangan pergi kumohon!"
“Ayo kita melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama, Draco manisku!” ajak Lucilia berkata dengan nada erotis dan tipuan mautnya lalu duduk di pangkuan Draco.
“Lucillia, kumohon hentikan!” Draco mulai terangsang oleh kekuatan yang wanita ular itu miliki.
“Tapi sayangnya kau sudah bersumpah untuk tidak melamar wanita manapun setelah kutolak, bukan, Dracoku yang malang?" Lucilia memeluk Draco dan mengelus kepalanya.
“Seandainya dulu tidak kutolak, mungkin kau tidak akan begini dan kehilangan mata kirimu itu!” Lucilia menangis kemudian meminta maaf karena perlakuannya dulu.
“Sudah, lagi pula mata kiriku hilang bukan karena salahmu," sahut Draco D. berusaha menenangkan Lucilia kemudian mereka mengobrol sepanjang malam sampai pada pertanyaan terakhir.
"Apa kau tidak peduli dengan nasib Leon?” tanya Lucilia kemudian dijawab oleh Draco D, “Aku mengkhawatirkannya, sangat mengkhawatirkannya. Memasukkannya ke dalam dunia ilusi bukanlah yang kuinginkan, tetapi itu keinginan Lars!”
“Kenapa kau tidak menolaknya!” Lucilia bertanya balik.
“Karena Lars mengancam akan membunuh semua anggota Party Dragonite jika aku menolaknya,” jawab Draco D. “Leon bagiku sudah seperti anakku sendiri," lanjutnya.