
“Aku akan bergabung untuk melihat bocah bernama Leon ini," tambah Mark kemudian dia pergi meninggalkan Enma dan El di ruangan itu.
“Sial! Rasanya tadi hampir ingin mati," umpat Enma dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia mencoba bernafas dengan baik dan menghapus peluh yang keluar dari poros tubuhnya.
“Iya, kau benar. Bagaimana bisa ada orang seperti itu?" El menggelengkan kepalanya.
Enma pun merogoh tas yang berisi barang-barangnya. “Baiklah, kita harus memberikan kontrak ini, bukan? Eh, di mana kontraknya?!” Enma merasa panik karena tidak bisa menemukan kertas kontrak yang dia bawa.
Tidak lama kemudian Mark kembali ke dalam ruangan dan membawa beberapa barang-barang miliknya. Dia juga kemudian memberikan sebuah kertas yang sudah tertulis tanda tangannya di atas kepada El. Ketika El melihat kertas tersebut, ternyata itu adalah kontrak yang mereka cari.
“Dengar, ya. Mengapa kau tidak bilang kalau kau mengambil kontraknya?” tanya Enma mendorong Mark hingga ke sudut tembok dengan wajah yang sangat kesal, namun Mark hanya tersenyum dengan keberanian gadis itu.
“Kau, kan, tidak bertanya.” Mark tertawa.
Enma yang sedang kesal berusaha menahan amarahnya dan melepaskan Mark. Mark kemudian pergi keluar dan mengambil kudanya untuk bersiap pergi menuju ke tempat guild Venom berada.
“Apa kau berniat meninggalkan kami di sini, ha?” ujar Enma dengan sangat kesal karena hanya ada satu kuda yang tersedia.
“Kalian bisa duduk di belakangku," sahut Mark tanpa melihat mereka. Tatapannya dingin, baru saja menampakkan sisi ketampanan wajahnya yang menutupi sifat semena-menanya.
El tanpa pikir panjang langsung naik ke kuda tersebut dan mengajak Enma untuk naik juga bersamanya, namun Enma menolak karena merasa tidak sudi untuk naik kuda bersama dengan orang yang membuatnya kesal.
“Yah … kalau begitu kami pergi duluan saja.” Mark kemudian memacu kudanya dan meninggalkan Enma sendirian disana.
Enma yang berusaha sabar melihat tingkah laku Mark pun akhirnya melampiaskan kekesalannya kepada sebuah bangunan tua yang kosong. Enma menghancurkan bangunan itu dengan sihir apinya dalam sekali serang, kemudian memutuskan untuk pergi ketika sudah merasa tenang.
Enma berjalan dan akhirnya memutuskan untuk menyewa kereta kuda karena jarak yang perlu ditempuhnya cukup panjang.
“80 Dein untuk ke sana," ujar pedagang itu kepada Enma. Enma membulatkan kedua matanya dan membentak pedagang itu.
“Apa kau gila! 30 Dein!” sahutnya menawar.
“70 Dein!” tegas pedagang itu lagi karena menolak tawaran Enma.
“50 Dein! Tidak kurang tidak lebih!” Enma berusaha menawar biaya yang perlu dikeluarkannya untuk kembali ke pusat kota kerajaan Engrasia.
“55. Hanya itu harga paling rendah yang bisa kutawarkan, Nona. Apa kau tahu? Pusat kota Engrasia itu cukup jauh dari sini? 55 adalah harga terendah yg bisa kutawarkan!” sahut pedagang itu tetap bersikeras dengan harga yang dia inginkan.
“Baiklah, 55 Dein.” Enma pun memutuskan untuk menerima harga tersebut karena dia tahu tidak mungkin untuk menurunkan harganya lagi.
“Naiklah cepat!” ajak pedagang itu berseru. Enma pun segera naik ke belakang kereta kuda itu.
Selama dalam perjalanan, Enma meneruskan membaca buku yang dulu dia temukan di sebuah perpustakaan kuno di academy kerajaan Engrasia. Buku itu sudah terlihat tua sekali dan berdebu. Tertulis di halaman depannya dalam bahasa Elf kuno yang jika diartikan memiliki makna "3 penguasa (monologue)".
“Belum sempat kubaca buku ini dengan seksama selama ini. Sepertinya sekarang adalah saat yang bagus untuk membacanya.” Enma kemudian membuka buku tersebut dan membacanya dalam hati.
“Elf, Orc, dan Manusia selalu saling memerangi satu sama lain dari zaman dahulu. Manusia sangat membenci Orc karena sifat mereka yang selalu mengambil para wanita dikalangan Manusia, dan Orc sangat membenci Elf karena para Elf dimata mereka selalu berusaha menghentikan rencana mereka, sedangkan di mata manusia Elf dianggap sebagai makhluk yang sombong dan terlalu kuat bagi mereka.” Enma membalikan halamannya dan meneruskan membaca ke bagian tengah.