
Kemudian Leon pergi masuk ke dalam ruangannya sendiri untuk beristirahat. Ketika ia memejamkan mata mencoba untuk tidur, terasa dari belakang ada sesuatu yang menyentuh pundaknya. Ia tidak memedulikannya dan tetap melanjutkan tidur.
Ketika pagi hari.
Leon melihat Isabella tepat berada di samping tempat tidurnya, sedang menatap wajahnya dan tersenyum. Entah mengapa, gadis itu begitu cantik saat itu.
“Pagi, Leon." Isabella bangun dan langsung bergerak berusaha untuk memeluk pria kesayangannya itu.
“Pagi juga," sahut Leon dengan wajah heran.
"Tunggu, kapan kau pindah kesini?” tanya pria itu hingga membuat Isabella terkikik.
“Rahasia! Hahaha!” Diikuti dengan senyumannya yang manis.
Mereka berdua bangun dan segera bersiap untuk keluar. Leon membuka kamar mandinya dan meminta Isabella untuk mandi di sana, "Mandilah duluan."
Setelah mandi.
Leon segera pergi ke dapur, memasak bahan makanan yang tersedia di sana dan menyajikannya untuk mereka berdua. Setelah Isabella selesai mandi, Leon segera masuk ke dalam dan mandi.
Karena hari ini adalah hari di mana Leon akan bergabung dengan pasukan militer, membangun kesan pertama adalah hal yang penting untuk memiliki hubungan yang baik dengan atasan.
Setelah semua selesai, ia dan Isabella segera turun menuju ke aula gedung Party Dragonite untuk berkumpul dengan yang lainnya di sana.
“Leon! Isabell! Kemarilah, kami semua sudah menunggu kalian berdua," pinta Budi. Semua orang segera menengok ke arah mereka berdua.
Ia dan Isabella segera berjalan mendekati Budi dan Prisciliana yang sedang duduk bersama.
Ketika mereka berdua sedang berjalan, terlihat beberapa anggota party yang baru, saling berbisik seperti sedang menyebarkan rumor.
“Sudah, boss. Hiraukan saja mereka. Mungkin karena mereka murid baru dan tidak pernah melihat boss di sini sebelumnya," bisik Ray berusaha menenangkan diri Leon yang sebenarnya sama sekali tak memedulikan hal itu.
“Kawan, kenapa kau tidak bilang dari kemarin? Kalau aku tahu itu, pasti akan kubelikan barang-barang bagus untukmu kemarin," timpal Budi kesal dan geram.
“Boss, boleh aku ikut?” tanya Ray dengan raut wajah yang memohon. Leon menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
“Kawan, bagaimana kalau nanti kita pergi membeli senjata baru untukmu di pelelangan?" usul Budi yang tampaknya begitu antusias.
Di sela pembicaraan para laki-laki, Prisciliana duduk di sebelah Isabella yang tengah memandang Leon penuh cinta. Bisa dilihat dari kedua sorot matanya. Prisciliana menepuk bahu sahabatnya itu hingga membubarkan lamunan Isabella.
"Jadi kau dan Leon sudah tidur bersama, Isabell? Pasti menyenangkan sekali, bukan?” tanya gadis itu kepada Isabella. “Apa saja yang dia lakukan kepadamu? Apakah dia hebat?”
Isabella hanya terdiam dengan wajahnya yang bersemu merah padam.
“Diam!” seru Leon. Seketika suasana menjadi hening.
Kemudian di tengah keheningan, Guru masuk ke aula bersama seorang wanita yang dulu sempat menggoda Leon untuk masuk ke dalam partynya.
“Wah, kalian semua sudah di sini," pekik Lucilia.
Siapa dia? Mengapa wanita itu ada di sini? Bukankah dia berasal dari Party lain? pikir Leon di dalam batinnya.
“Pagi semuanya," sapa Draco D yang terlihat segar hari itu.
“Pagi Guru!” Semua serentak menjawab.
“Baiklah, pagi ini karena semua anggota sudah berkumpul, ada beberapa yang ingin Guru sampaikan kepada kalian," lanjut Draco D.
Guru kemudian memberi isyarat kepada Leon untuk datang maju ke depan. Ia segera bangun dari kursi tempatnya duduk tadi dan maju ke arah Guru.