
“Jadi kau akan bergabung dengan kami, bukan?” tanya Jenny dengan wajah kesal. Roseria menyengirkan senyuman pada wajahnya, menatap gadis di depannya dengan wajah mabuknya.
“Tentu saja, aku akan bergabung dengan kalian selama si tampan ini ada di sana," jawab Roseria dengan senyuman palsu.
“Leon, berikan kontraknya kepadanya. Aku sudah muak melihat mukanya, aku akan keluar lebih dulu dan menunggu di depan," pinta Jenny kemudian dia meninggalkan Leon dan Roseria di sana.
“Ini kontraknya.” Leon memberikan sebuah gulungan kertas kepada Roseria, dan Roseria pun menyetujui kontrak tersebut.
“Mulai sekarang, kita akan selalu bersama, bukan?” lirih Roseria sambil berjalan di samping Leon dengan erotis.
Leon menatapnya ketus, tak menarik sama sekali dan hanya mengalihkan pandangannya. Jika bukan karna hendak mengajak Roseria bergabung, ia juga malas meladeni wanita penggoda seperti ini. Ia telah memiliki Isabella di dalam hatinya.
"Kalau begitu kau ikutlah dengan kami ke penginapan," ajak Leon dan bergegas pergi. Roseria mengikutinya dari belakang dalam diam, namun wajahnya penuh dengan senyuman tipu daya dan godaan.
Tap. Tap. Tap.
Sampailah Leon di depan, Jenny menatapnya. "Sudah selesai? Sekarang saatnya kita kembali ke penginapan lebih dahulu," ajak gadis itu.
Leon mengangguk, mereka bertiga pun berjalan pergi, kembali menuju ke penginapan di mana Jenny dan Leon menginap sebelumnya.
Sesampainya di sana, mereka berdua segera membereskan barang yang mereka miliki karena pekerjaan mereka di Tovarre sudah selesai. Roseria membantu Leon untuk mengemasi barang miliknya sekaligus mengajari cara menyimpan barang dengan cepat dan efektif.
“Kau memiliki Spatial ring?!” pekik Roseria terkejut melihat cincin yang digunakan oleh Leon karena jumlah Spatial Ring sangat sedikit dan tidak semua orang bisa memilikinya.
“Kau juga memilikinya, bukan?” sahut Leon ketika melihat cincin yang digunakan oleh Roseria di jarinya.
“Tentu saja aku memilikinya! Ini kudapatkan setelah mengambil dari seorang Raja Elf di masa lalu," timpal Roseria memuji diri dan bangga.
Mendengar perkataannya tersebut membuat Jenny dan Leon terkejut, berdasarkan penampilan usianya terlihat seperti sekitar 22 tahun, namun jika penjelasan yang dia katakan benar maka usianya sudah sekitar 800 tahun.
“Kau tahu, tidak baik menanyakan usia kepada seorang wanita, bukan? Tapi khusus untukmu aku tidak masalah," timpal Roseria kemudian dia melanjutkan, "saat ini usiaku kurang lebih 897 tahun.”
“Bagaimana bisa? Kau masih terlihat sangat muda,” salut Jenny karena tidak percaya. Roseria pun menjelaskan kalau dirinya mendapatkan hal ini setelah dia meminum air dari Chalice of Life milik seorang Ratu Elf di masa lampau.
“Bukankah ‘Chalice of Life’ hanya sebuah dongeng belaka?” tanya Jenny karena dia tidak pernah melihat benda itu sebelumnya.
“Itu nyata, hanya saja aku tidak memilikinya sekarang.” Roseria bangga, menatap Jenny dengan ekspresi seakan menghina.
“Kau sudah selesai Jenny?” tanya Leon kepada Jenny yang sedang sibuk merapikan barangnya. Setelah Jenny selesai, mereka semua pergi keluar dari penginapan dan berniat untuk kembali ke tempat Militer kerajaan.
Tiba-tiba saja Leon teringat sesuatu kalau dia hanya membawa satu kuda sebelumnya.
“Kita hanya memiliki satu kuda. Apakah ini cukup?” tanya Leon sambil berusaha mengendalikan kuda yang dia tunggangi.
“Itu cukup, aku akan duduk di depan dan mengendarai kudanya.” Roseria dengan cepat naik ke atas kuda dan duduk tepat di depan Leon, dan Jenny pun mengikuti dengan duduk dibelakang Leon.
“Lihat. Cukup, bukan?” Jenny berbisik sambil memeluk Leon yang berada di depannya.
“Leon, berpegangan lah di tubuhku!” Roseria menarik tangan Leon ke perutnya lalu memacu kuda yang mereka tunggangi dengan kecepatan penuh. Leon hanya bisa menghela nafas kesal.
“Roseria, awas!” seru Leon karena kuda yang mereka tunggangi tidak terkontrol dan hampir membuat mereka semua tercebur ke dalam sungai.
"Ops, maaf sayang!” Roseria dengan sigap mengendalikan kudanya.
“Kau terlihat lelah Roseria, mau aku saja yang mengendarai kudanya?” tanya Leon karena melihat kondisi Roseria yang terlihat kelelahan.
“Tenang saja, aku bisa melakukan ini, sayang!” sahut Roseria. Tiba-tiba saja Roseria hampir terjatuh dari kuda beruntungnya Leon dengan sigap menangkapnya.