Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 1



Kabar itu langsung membuat Leron meneteskan air mata, Ong adalah sahabatnya dan juga tangan kanannya yang telah gugur di sini.


Tiba tiba sebuah tembak ditodongkan di kepalanya, “Maaf kolonel Leron, waktumu telah habis. Sampaikan salamku kepada kapten Ong jika kau bertemu dengannya.”


Siapa dia ini? Aku tak mengenal suaranya, jika aku bergerak akankah dia langsung menembak? Sial! Apa mungkin mata-mata musuh?! batin Leron dalam benaknya.


Aku tak akan menyerah, akan kutembak dia!


“Kolonel Leron, до свидания do svidaniya!!!” 


Dor!


Dalam benaknya, Leron bertanya, apakah ini akhirnya aku tak tahu bagaimana lagi? Tapi ... yang pasti aku telah gagal membalaskan dendam rekan-rekanku, aku mohon maafkanlah aku, maafkan lah pemimpinmu ini yang tidak bisa menepati janjinya untuk membalaskan dendam kalian. 


Jantung yang berdegup, embusan nafas yang lirih, tatapan mata yang tertuju kepada langit. Pupil mata itu menutup perlahan sebagai tanda bahwa dirinya nyaris meninggalkan dunia.


Darah yang mengalir keluar dari perutnya hanya dapat ditahan dengan rasa sakit yang membuat sekujur tubuhnya merasa mati rasa, menembus organ dalamnya hingga membuat dirinya kehabisan banyak darah.


Orang-orang masih berperang hingga mereka menatap pimpinan mereka yang telah kalah telak dari para musuh mereka, mereka semua jatuh tunduk dan tak dapat melawan lagi dengan kekuatan yang sudah tak mereka miliki.


Butiran salju berjatuhan dari langit menutupi luka dan tubuh Leron perlahan, ia masih menghela nafas dan memikirkan nasib kehidupan selanjutnya bagaimana. Apakah aku akan meninggalkan semuanya begitu saja? pikirnya dalam hati.


Dentuman bom, suara senjata tajam, maupun sayatan pedang tak lagi terdengar pada daun telinganya ketika pria itu benar-benar akan meninggalkan dunia dan segala yang ia miliki di tempat ini.


Janji pernikahan suci terhadap Tuhan yang diikat dalam sumpah pernikahan yang diakui sah secara kenegaraan dan ketuhanan. Perjanjian bahwa mereka akan selalu mendampingi hingga maut memisahkan.


Ia juga mengingat putrinya tercinta yang masih terlalu muda untuk ditinggalkannya, gadis kecilku ....


Meninggallah Leron di tempat peperangan terjadi, entah apa nasib pasukan dan timnya untuk selanjutnya, mayatnya pun tak dipandang bahkan sebelah mata saja.


Langit begitu bercahaya hari itu, dirinya berpikir bahwa ia hanya tinggal meninggalkan semua beban yang ia miliki di bumi dan naik ke surga untuk dijemput oleh malaikat pencabut nyawa. Namun, hal tersebut begitu lambat terjadi, tak terpikirkan olehnya.


Pria itu justru seakan-akan berada di tempat ia meninggal meski jiwanya tak lagi ada dalam tubuhnya, ia mengalami serangan yang tak terduga sakit dan parahnya.


SING!


Astaga! Apa ini?! Sakit sekali. Bukankah seharusnya aku sudah berada di surga bersama dengan Tuhan dan para malaikatnya? pikir Leron dalam batinnya.


Dirinya bahkan tak dapat melihat tubuhnya sendiri dan berbicara, ia hanya dapat berbicara dalam batinnya. Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Bukankah aku sudah mati? Apakah, itu semua hanya mimpi?!


Sekeliling pria itu hanya hitam dilihatnya, tak ada hal lain yang ia lihat kecuali tubuhnya sendiri dan kegelapan yang mengelilinginya. Apakah benar, ini adalah jalan menuju ke surga seperti yang dikatakan oleh orang-orang?


Ternyata dirinya salah, ia tak pergi ke surga seperti apa yang ia bayangkan. Namun ....