
Di hari yang masih siang, terlihat kedua sosok yang diam termenung. Ialah Leon dan kepala desa. mereka duduk saling berhadapan dengan maksud untuk membicarakan masalah antara Orc dan manusia. Enma dan El yang berada di sana tidak berani berkata apa-apa karena suasana yang cukup serius dan sunyi.
Tidak ada yang berbicara di antara kedua pihak entah itu kepala desa atau Leon. Mereka berdua saling bertatapan dengan tatapan serius dan dingin, tidak ada satu pun di antara mereka yang melepaskan tatapan tersebut seolah mereka sedang berdebat melalui tatapan mata.
“Jadi kau sudah berbicara dengan raja para Orc itu?” tanya kepala desa.
“Iya,” jawab Leon.
“Apa kau pikir kami akan membiarkan dia begitu saja? Dia harus mati karena sudah membunuh banyak orang-orang kami!” seru Kepala Desa dengan amarah yang meluap-luap.
Leon hanya diam saja dan menatap dengan tatapan dingin lalu mengeluarkan aura membunuh miliknya yang seolah-olah membuat kepala desa itu seperti sedang melihat monster yang sangat kuat.
“Kau bilang apa?” tanya Leon dengan tatapan dingin dan senyuman licik di wajahnya membuat sang kepala desa tambah ketakutan melihat Leon.
Enma sontak menegur Leon agar tidak membuat sang kepala desa merasa tertekan dengan berkata, “Leon, berhentilah jangan membuat Tuan Niel merasa terancam.”
Leon mengangguk sebagai tanda mengerti kemudian menarik kembali aura kematian miliknya. Sang kepala desa mulai merasa lebih baik dan tidak menunjukan pandangannya yang penuh amarah di hadapan Leon.
“Memangnya kalaupun kami menerima tawaran itu, sang Khan para Orc akan menerimanya?” tanya kepala desa Niel.
“Pak tua, sudahlah ... percaya saja kepada Leon! Karena aku yakin Leon sudah memikirkan semua hal yang anda khawatirkan,” seru El dengan mukanya yang merasa bosan karena hanya melihat perbincangan antara kepala desa dan Leon.
“Anggaplah aku percaya, bagaimana caranya ..." Ketika kepala desa Niel masih berbicara tiba-tiba saja terpotong oleh salah satu warga desa yang masuk dengan terengah-engah ke dalam ruangan. Orang itu berbicara dengan Niel sang kepala desa.
“Tuan, p-para Orc datang! Sang Khan sendiri yang memimpin mereka!” seru orang itu dengan nada panik kepada kepala desanya.
"Apa?!" Hal itu langsung membuat Niel menjadi waspada dan memutuskan untuk keluar dari ruangan.
Niel yang tidak peduli dengan kata-kata Leon memutuskan untuk pergi keluar dari ruangan tersebut.
Di luar ruangan
“Orc!”
“Mereka dipimpin oleh Khan mereka!”
Para warga menunjuk ke arah depan, terlihat banyak rombongan dari kejauhan, ribuan Orc bergerak ke arah mereka yang dipimpin oleh Baltasar sendiri.
“Tuan Orc baik, apa kau satu kelompok dengan Khan?” tanya salah seorang warga kepada Boreas.
Boreas hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda kalau dia tidak mengikuti Baltasar lagi.
“Jangan khawatir, selama Lordku berada di sini aku akan bertarung untuk kalian,” sumpah Boreas untuk menenangkan perasaan orang yang menanyainya.
Niel—sang kepala desa—keluar dari ruangan dan melihat puluhan ribu Orc bergerak menuju ke arah desanya. Matanya benar-benar terkejut dan juga amarahnya menjadi lebih memuncak ketika melihat sang Khan itu sendiri yang memimpin para Orc.
“Khan!” seru pria itu.
“Baltasar, sang Khan dari para pemimpin Orc, akan kubunuh kau hari ini!” lanjut Niel berseru. Dengan cepat ia memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap bertarung.
Semua warga desa langsung bersiap dengan senjata mereka masing-masing, dari wajah mereka terlihat ekspresi tidak takut akan kematian meski mereka tahu mustahil bagi mereka untuk bertarung melawan ribuan Orc terutama melawan Baltasar sang Khan mereka.