
Tanpa suara apa pun, kepala Niel sudah terlepas dari tubuhnya. Leon pun membakar tubuh Niel di tempat yang jauh dari meja perundingan.
Blar!
“Semoga di kehidupanmu selanjutnya kau tidak memilih pilihan yang egois lagi,” cibir Leon sekaligus mendoakan yang terbaik untuknya.
Setelah mendoakan, pria itu kembali ke meja perundingan dan menggunakan sihirnya untuk membersihkan bekas darah yang ada. Setelah itu baru ia duduk kembali dan menghilangkan mantra waktunya.
Semua orang merasa bingung dengan apa yang terjadi tak terkecuali Isabella dan Baltasar. Leon pun memanipulasi ingatan warga desa dan berkata, "Mulai saat ini, desa akan diurus dan dijaga olehku. Sang kepala desa sebelumnya memutuskan untuk pergi karena tidak mau lagi berurusan dengan Orc."
“Mulai saat ini kita berdamai," lanjutnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Baltasar. Baltasar tidak mengerti apa yang terjadi, namun ia paham bahwa tidak mungkin kepala desa sebelumnya pergi begitu saja.
Hal itu tidak dipedulikan oleh Baltasar, ia menerima tawaran perdamaian itu. Semua orang yang hadir merasa senang dan mengadakan perayaan, tidak hanya manusia yang ikut bahkan para Orc juga ikut berpesta.
Keharmonisan yang terjadi antar ras yang berbeda akhirnya tercipta walau memang harus sedikit mengotori tanganku, pikir Leon dalam benaknya. Isabella tiba-tiba saja menarik tangan Leon dan mengajaknya untuk berdansa bersamanya untuk merayakan kedamaian yang terjadi.
Leon pun mengikuti kekasih hatinya itu dan berdansa bersama, semua anggota tim Leon juga berada di sana untuk merayakan kecuali Roseria dan Mark. Pesta diakhiri dengan atraksi pertarungan gulat antara beberapa warga desa dengan Orc, dan pertarungan ini berakhir dengan seri.
...πππ...
Ketika melihat ke arah sungai, Niel terkejut melihat dirinya kembali berusia muda sekitar umur 20 an awal.
“Di mana Ini? Aku sudah mati, bukan?” tanya Niel dalam benaknya.
Dari cahaya bulan tersebut terbentuk sosok wanita dengan pakaian kain berwarna campuran biru dan putih disertai dengan selendang berwarna merah menghampiri Niel. Tidak lain sosok itu adalah Dewi Chang’e, sosok dewi yang memberikan pedang yang digunakannya sebelumnya.
Niel dengan cepat membungkukkan badannya di hadapan dewi itu.
“Oh, Dewi Chang’e," sambut Niel.
Sang dewi pun menyentuh pundak Niel dan menyuruhnya berdiri. Ketika Niel berdiri, Dewi Chang’e memeluk Niel dengan sangat erat. "Oh, anakku sayang. Mengapa engkau mengunjungiku lagi? Apa pedang yang kuberikan tidak cukup?” tanya Dewi Chang’e dengan penuh perhatian selagi memeluk Niel.
“Maafkan aku, Dewi Chang’e. Namun kau tahu aku ini bukan anakmu melainkan cucu dari cucumu,” sahut Niel namun Fewi Chang’e masih tetap memeluknya.
“Kau itu keturunanku dengan Hou Yi, bagaimana bisa aku sebagai seorang ibu membiarkan anaknya begitu saja, bukan?” tanya Dewi Chang’e sambil terus mengelus kepala Niel dengan penuh kasih sayang.
Perlahan air mata Niel keluar dan isak tangisnya terdengar dengan keras. Dewi Chang’e dengan sabar memeluk dan menenangkan keturunannya itu lalu bertanya dengannya apa yang terjadi, Niel pun menceritakan apa yang terjadi dan Dewi Chang’e yang mendengarkannya perlahan menjadi sangat marah.
“Apa?! Apostle siapa yang berani-beraninya menyerang keturunanku!” seru Dewi Chang’e dengan nada marah.
“Dewi Chang’e, kumohon tenanglah. Ini bukan masalah besar." Niel berusaha menenangkan Dewi Chang’e namun tidak berhasil.
“Tentu saja ini masalah. Itu tandanya ada salah satu dewa atau dewi yang tidak menghormatiku dan keturunanku!” timpal Dewi Chang’e dengan nada kesal.
“Aku tidak keberatan, sungguh, tapi bisakah kau mengizinkanku untuk berada di sini atau terlahir lagi ke dunia?” tawar Niel.