
Tunggu sebentar, bukankah nama Draco D. Dulgarso adalah salah satu dari pemilik gelar sembilan senjata pembunuh? Menurut yang kubaca, mereka yang memiliki gelar ini bukanlah orang biasa! Mereka adalah sosok luar biasa yang lebih dari mampu untuk memusnahkan 100,000 prajurit di tingkat Dou Lord puncak sendirian. Tidak kusangka akan ada kesempatan seperti ini. Tentu saja aku akan menerimanya, batin Leon terkagum.
“Mohon bantuannya untuk mendidikku agar menjadi ahli pedang yang hebat, Tuan Draco!” seru Leon dengan lantang dan memberi hormat layaknya seperti di militer dahulu, seketika semua orang heran dengan tingkahnya.
"Sudah, ini bukan di kamp militer kau tahu, Nak.” Draco D mendekati Leon dan memberikannya sebuah jaket dengan lambang 'Party Dragonite' di depannya.
"Selamat bergabung dengan Party Dragonite, Nak. Panggil saja aku Guru atau Master,” lanjutnya kemudian mengusap kepala Leon dan memberikan tiga buah pil kultivasi untuk menembus ke ranah yang lebih tinggi. Setelah itu dia pergi entah kemana, Leon turun dari tempat tes dan kembali ke kerumunan dimana keluarganya menunggu.
Leon langsung disambut oleh dua sepupu perempuannya dan kedua orang tuanya, tak lupa oleh paman dan bibinya. Kemudian mereka berbincang-bincang.
“Hey, Kakak Ipar, bagaimana kalau kita makan-makan di kediamanku untuk merayakan suksesnya anak-anak kita semua? Terutama si Leon kecil satu ini," ajak Zen Grimsbane berkata kepada Samuel sambil mengusap kepala Leon. Ayah setuju dengan ide tersebut, mereka pun segera pergi ke kediaman paman Zen.
Sesampainya di sana.
Leon terkagum dengan luasnya tempat ini dan pemandangan indah Gunung Es Hasnorth yang merupakan gunung es tertinggi di dunia ini. Lalu ia melihat wajah ibu yang tersenyum seperti sedang mengingat masa lalu, Leon pun mendekati Ibunya dan memeluk dia lalu menanyakan apa yang sedang ia pikirkan.
Leon mengambil pedang kayu yang ibunya lempar kemudian bermain pedang dengannya. “Wah putraku memang hebat dengan pedang! Sekarang coba tahan serangan ini, ya, Nak.”
Seline bersiap untuk melakukan serangan penutup, tiba-tiba saja keluar aura pedang yang dingin rasanya seperti mampu membekukan siapa saja yang ada dalam jarak serangannya. Sialnya, tempat Leon berdiri masuk ke dalam jarak serangannya itu.
Sing!
Leon pun berpikir keras, tidak mungkin, kan, aku menggunakan aura membunuh untuk lepas dari sini? Berpikir, ayo berpikir!
Tiba-tiba saja ibu sudah ada di depan Leon, ia memejamkan mata karena mengira akan terkena serangan yang sangat sakit, namun rupanya justru sebaliknya. Ibu justru mencium pipi Leon dan tertawa lalu memeluknya.
"Kau sudah hebat, Nak. Ibu bangga denganmu," kagum Seline, lalu ia mencium pipi Leon lagi sebelum mengajaknya masuk ke kediaman paman atau lebih tepatnya kediaman keluarga bangsawan Grimsbane.
Ketika di dalam, mereka langsung menuju ruang makan, ayah dan paman sedang sibuk mengobrol tentang ujian masuk akademi kali ini, Ibu pergi mendekati ayah, Leon pergi mendekati kedua sepupu perempuannya. Fakta menarik, sebenarnya Leon dan sepupunya berbeda 3 tahun, ia jauh lebih muda dari mereka namun mereka berdua memanggilnya kakak. Memang terdengar aneh, namun semuanya nyata.