Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 18



Leon terkejut, betapa tidak menariknya toko itu, hanya berisikan rongsokan peninggalan sejarah! Tidak ada yang menarik sejauh yang ia lihat menggunakan mata analisisnya. Tapi, Laura tetap saja berjalan masuk sampai menemui pemilik tokonya itu.


Pemilik toko itu adalah seorang pria paruh baya. Dari bekas luka di tangannya, kemungkinan ia adalah mantan seorang prajurit atau pendekar pedang hebat ketika masa mudanya. Laura pun berbicara kepada pemilik toko untuk mengeluarkan hal spesial yang sudah dipesan jauh-jauh hari olehnya, Leon sendiri tidak tahu apa hal spesial tersebut.


Pemilik toko masuk kedalam ruangan dan keluar lagi membawa sebuah kotak. “Ini dia, Nona Muda Silvestre. Pesanan anda terbungkus di dalam kotak hitam," jelas pemilik toko itu lalu memberikan sebuah kotak kepada Laura.


“Ini untukmu, adik kecilku yang manis! Sebuah hadiah karena kau telah berhasil masuk Akademi Ahrion,” kata Laura lalu memberikan kotak hitam itu yang terukir dengan sebuah mantra penghalang sederhana kepada Leon.


Leon membuka kotak itu dan melihat sebuah dagger dengan pembungkus terbuat dari kulit naga, bilah pedang itu sendiri terbuat dari besi terkeras di dunia ini yang disebut dengan ‘Orichalcum’.


“Terima kasih, Kakakku yang cantik!” Leon berterima kasih kepada kakaknya, membuat Laura terlihat tersenyum kemudian pergi melihat-lihat barang di sekitar.


Leon pun menggunakan mata analisis kepada dagger ini.


‘Custom’ Dagger of Calamity (Replica)



(Note): Merupakan replica 80% dari Dagger of Calamity yang dimiliki oleh raja Assassin dari ras Dark Elf ‘Faramir D. Nozario’. Info soal raja ini (tidak diketahui)


(Harap membaca lebih banyak buku sejarah untuk mengetahuinya!)


(Efek): - Meningkatkan kecepatan pengguna sebesar 10%



Memberikan efek racun mematikan terhadap musuh dan akan menghabisi musuh dalam waktu 7 menit (Efek tidak bisa dicegah) (Bisa di tumpuk)


Memungkinkan pengguna menggunakan teknik Teleportasi. Dengan cara melemparkan Dagger ke tempat yang ditargetkan.



“Apa kau senang, Adikku?” tanya Laura kakak sambil mencubit pipi Leon, Leon menganggukkan kepalanya seraya menepis tangan kakaknya, "Kalau begitu, mari kita pergi ke toko lain!”


“Masih ada lagi?” tanya Leon sekaligus terkejut mendengarnya.


“Tentu saja, memangnya kau kira Kakakmu ini pelit dengan Adiknya sendiri?” sahut Laura lalu langsung menarik tangan Leon keluar dari toko ini dan pindah ke toko lain.


...πππ...


Mereka berpindah-pindah dari toko satu ke toko lain untuk membeli barang yang banyak sekali jumlahnya, bukan untuk Leon sendiri tapi untuk kakaknya. Bahkan kereta kuda yang luas yang tadi mereka gunakan sekarang terasa begitu sempit.


“Kak, memangnya untuk apa semua barang ini?” tanya Leon kepada Laura yang sedang memandang keluar jendela kereta kuda tersebut.


“Oh ini." Laura mengeluarkan salah satu pakaian yang ia beli dari dalam tempatnya, "Yang ini bisa untukmu."


Leon melihatnya seraya mengerutkan kedua alisnya. "Kalau yang ini untuk Ibu dan Ayah, yang ini untuk Paman Zen dan Bibi Sarah. Dan yang ini untuk adik sepupu Sovina dan Eleanore,” jelas Laura menjawab semua pertanyaan Leon sambil membongkar semua barang dan menunjukkannya pada adik laki-lakinya itu.


Salah satu paper bag di belakang Laura terlewatkan, membuat rasa penasaran timbul di dalam benak Leon untuk melihatnya.


"Apa itu, Kak?" tanya Leon seraya menunjuknya, membuat Laura seketika menoleh dan melihat ke mana arah adiknya menunjuk barang itu.


"Oh, itu adalah pakaian milik Kakak yang Kakak beli untuk Kakak sendiri. Apakah kau mau melihatnya?" sahut Laura seraya mengambil paper bag itu. Seketika dijawah dengan anggukan kepala oleh Leon, Laura pun membukanya.


Sebuah baju dikeluarkan oleh Laura, sungguh indah meski Leon tak mengerti selera seorang perempuan, namun pikirnya pasti baju itu dipakai oleh Laura di dalam akademinya.


"Indah, bukan?" Laura menyengir tersenyum, Leon hanya ikut mengangguk mengiyakan apa kata kakaknya yang centil itu.