
“Baiklah, untuk kalian semua yang tidak mengenal dia, dengarkanlah. Silahkan, nak, perkenalkan dirimu," tutur Draco D. Leon pun memajukan langkahnya ke depan.
“Baiklah. Perkenalkan, namaku Leon …" Leon menjeda kata-katanya ketika ia sedang berbicara. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang masuk ke dalam Academy. Orang itu tidak lain adalah kepala Academy Ahrion—Lars Dunmark.
“Leon, apa kabarmu?“ tanya Lars Dunmark dengan tersenyum. Dia berjalan mendekat ke arah Leon kemudian memeluknya dengan sangat erat.
“Iya aku baik-baik saja," jawab Leon seraya mendorong pria itu untuk melepaskannya. Terlalu berlebihan.
“Draco, bisa kupinjam anak ini sebentar?” tanya Lars D kemudian segera keluar dan menarik salah satu tangan Leon.
“Kita ini mau kemana, Tuan Lars?” tanya Leon yang berjalan dengan tersentak.
“Kita akan pergi untuk mengetes sudah sekuat apa dirimu saat ini," jawab Lars D mempercepat langkahnya.
Kemudian mereka sampai di depan ruangan. Ketika dibuka pintunya, terlihat sudah ada beberapa orang yang menunggu mereka. Kurang lebih ada delapan orang yang berada di sana. Mereka semua menggunakan jubah yang sama berwarna emas dan putih.
“Maaf kami terlambat!” seru Lars D.
“Tidak masalah, saudara Lars. ” Salah satu dari mereka berkata.
Kemudian Leon duduk di kursi yang sudah diberikan yang letaknya tepat berada di tengah-tengah mereka semua.
“Hari ini kita akan melihat sudah seberapa kuat dirimu, Nak. Ini mungkin bisa menjadi penentu bagimu, apakah kau ingin menguasai sihir lebih lanjut atau tidak," jelas Lars D.
“Baiklah. Apa yang harus kulakukan di sini, Tuan Lars?” tanya Leon penasaran.
“Majulah ke depan, Nak. Berdiri tepat di atas lingkaran sihir itu," titah Lars D kemudian menunjuk ke arah lingkaran sihir yang dia maksud. “Kemudian kau sentuhlah Rune kristal yang ada di depanmu," lanjutnya.
Kemudian Leon melakukan hal yang dikatakan oleh Lars. Tiba-tiba saja rune kristal itu berubah warna menjadi merah gelap dan diikuti dengan tekanan yang sangat kuat menimpa tubuh Leon.
“Arrghh!” pekik Leon kesakitan dengan luar biasa.
“Tahanlah, nak," pinta Lars D.
“Arrghhh AHHH Arghhhh!!” Leon berseru semakin keras diikuti dengan banyak darah yang mulai keluar dari tubuhnya karena tekanan ini seperti merobek-robek tubuhnya.
Buk!
Ia pingsan karna tak sanggup lagi, ia terjatuh dan kehilangan kesadaran karena sudah kekurangan banyak darah. Hal terakhir yang terlihat olehnya adalah ketika beberapa petugas medis datang masuk dan membawanya pergi.
Beberapa saat kemudian.
“Anak yang benar-benar luar biasa!”
“Iya bahkan jika itu diriku, tidak mungkin bisa bertahan dari tekanan yang seperti itu.”
Semuanya sibuk membicarakan kejadian tadi.
“Jadi, apakah menurut kalian jika anak itu bergabung dengan militer kerajaan adalah keputusan yang bagus?” tanya Lars D.
“Bukankah itu berarti membuang-buang bakatnya yang hebat ya?”
“Tapi bukankah dia pernah berurusan dengan keluarga bangsawan Croix yang berujung dengan pembantaian keluarga Silvestre?”
“Itu hanyalah rumor, bukan?”
“Tidak mungkin itu rumor!”
“Lars! Apakah menurutmu itu rumor belaka?”
“Menurutku tidak, lagipula tidak ada alasan lagi keluarga Silvestre bisa berujung dengan tragis jika bukan karena konflik antar keluarga bangsawan,” sahut Lars D.
Dengan begini tidak akan ada yang mencurigai kejadian tersebut dan untuk bocah itu, akan lebih mudah jika dia tidak pernah mendengarnya sama sekali karena itu memasukkannya ke dalam militer adalah pilihan yang terbaik. Dan sekarang yang harus diurus hanyalah apakah dia bisa kita kendalikan atau harus kita bunuh, batin Lars.
Di luar pikiran Lars D.
“Lars! Lars!"
“Ada apa?” tanya Lars menjawab.
“Kau melamunkan apa sih dari tadi?”
“Tidak ada," jawab Lars D.
“Ya kalau begitu sudah saatnya kami semua pergi. Untuk anak itu kalau kau berniat memasukkannya ke militer, mintalah dia untuk bergabung dengan group yang kubuat.”
“Ya, tentu saja. Tapi maaf, siapa namamu?” tanya Lars.
“Pan Quadro Blossom. Jangan lupakan namaku, ya?" jawab orang itu dengan senyuman sebelum pergi keluar ruangan.