
Niel yang melihat Boreas dan bawahannya sedang membantu anak-anak, tiba-tiba mengeluarkan senjata berat dan berterima kasih kepadanya dan berharap mereka mau membantu melawan Baltasar. Boreas menggelengkan kepalanya sebagai tanda kalau dia tidak akan maju ke garis depan, namun ia akan membantu mempertahankan desa ini jika dibutuhkan karena Leon masih berada di sana.
“Semoga Tuhan memberkatimu, Tuan Orc," kata Niel sambil menyilangkan tangan kanannya ke dadanya lalu pergi memimpin warga desa untuk bertarung.
Semua warga desa yang ikut bertarung sudah maju ke depan gerbang desa mereka. Niel memimpin para petarung dan militer yang berada di desanya yang bertotalkan 350 orang untuk melawan Baltasar dan pasukan Orcnya.
Tidak ada lagi rasa takut yang terlihat di wajah mereka semua karena mereka tahu jika mereka tidak bisa mengalahkan ini maka tidak ada lagi tempat untuk mereka tinggal.
...πππ...
Di sisi para Orc.
“Tuanku, apa kau yakin ingin melakukan ini? Bukankah kita memutuskan untuk—” tanya salah satu bawahan Baltasar namun terpotong karena Baltasar menyuruhnya untuk diam.
“Shh ... diamlah. Kau hanya harus menuruti perintahku,” jawab Boreas kemudian menghentikan pasukan Orcnya yang sedang bergerak.
Semua Orc itu pun berhenti bergerak dengan barisan yang rapi dan terstruktur sesuai instruksi Raja mereka. Sontak Baltasar memerintah mereka semua untuk duduk dan beristirahat untuk sementara.
“Karo! Bakar semangat mereka!” perintah Baltasar. Karo pun berdiri tepat di tengah-tengah dan menjadi perhatian semua Orc di sana.
“Apa kalian lapar?!” seru Karo.
“Iyaa!” jawab semua Orc secara serentak.
“Apa kalian bosan dengan mainan kalian?” tanya Karo sekali lagi.
“Iyaaa!” teriak semua Orc lagi.
“Apa kalian mau menghancurkan para manusia untuk Khan?” tanya Karo untuk yang terakhir kalinya.
“Iyaaa!!” jawab semua Orc dengan penuh semangat.
“Khan!”
“Khan!”
“Khan!”
Baltasar pun melemparkan pedang besarnya ke arah tubuh Karo yang berniat untuk duduk kembali di dalam barisan, pedang itu langsung membelah tubuh Karo menjadi dua bagian dan darahnya mengalir ke segala tempat di sekitarnya.
Crat!
“Kita bergerak sekarang!” perintah Baltasar dengan tatapan bengisnya sambil menarik pedang yang dia lempar dari tubuh Karo, semua Orc yang melihat itu langsung menuruti perintah Baltasar dan kembali bergerak sesuai keinginannya meninggalkan mayat Karo di sana begitu saja.
“Dasar tidak becus! Cuih!" Salah satu Orc meludah ke arah arah mayat Karo yang sudah terbelah menjadi dua. Dan banyak Orc lainnya menginjak injak bekas tubuh Karo karena bagi mereka jika Baltasar membunuh salah satu dari mereka, itu tandanya orang tersebut melakukan kesalahan besar yang membuat Baltasar marah.
...πππ...
Di sisi manusia.
“Tuan Niel! Mereka bergerak kemari kembali!” seru salah seorang warga sepulang dari pengamatannya.
Niel sebagai kepala desa langsung memerintahkan warganya untuk membuat barikade di belakang mereka berbaris.
“Ayo semuanya!” seru salah seorang warga yang mengambil kayu besar untuk digunakan sebagai barikade besar.
Para warga yang lain pun juga ikut membangun barikade itu sampai akhirnya terdengar bunyi sangkakala perang.
Dhooouuu ...dhooouuu!
Sangkakala perang dibunyikan atas perintah Baltasar kepada bawahannya, Niel dan warga desa lainnya segera menyelesaikan pekerjaan mereka dan maju ke garis depan.
“Khan!” seru Niel dengan nada marah dan tatapannya yang tajam.
Baltasar hanya tersenyum melihat amarah para manusia dan tidak menanggapi dengan memberi perintah untuk menyerang.
“Kau ... penerus dari Noel?” tanya Baltasar karena dia hanya mengingat kepala desa sebelumnya.
“Benar. Dia adalah Niel Sadore, anak dari Noel Sadore," jawab salah satu warga sambil menunjuk ke arah Niel.
Niel pun menyuruh orang tersebut untuk diam karena dia ingin berbicara. “Khan, apa maksudmu dengan membawa pasukan Orc ini kemari?” tanya Niel dengan wajah serius.