
Tahun 2043 di Valdicius, Leron menuliskan ceritanya ini karena ia yakin sudah tidak ada harapan.
Iya benar, “harapan” satu kata ajaib yang sangat berarti di medan perang yang mengerikan seperti saat ini, di mana semua orang kehilangan semua yang mereka sayangi, seperti dirinya yang kehilangan keluarga dan putri kecilnya ketika semua ini terjadi.
“Kolonel! Kolonel Leron!” Seseorang memanggilnya seketika.
“Siapa di sana?! Apa kau tidak tahu aku sedang menulis surat untuk petinggi militer?!” jawab Leron dengan geram.
Salah satu bawahannya yang berseru-seru seperti orang bodoh di tengah-tengah medan perang ini menuturkan kata maafnya. “Maaf jika saya mengganggu Kolonel Hademar," balasnya dengan wajah ketakutan. "Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan anda kolonel,” lanjutnya.
Leron menutup buku hariannya dan melangkah keluar bersama dengannya, lalu pria itu menanyakan bawahannya apa yang terjadi, bawahannya pun menjawabnya.
“Kolonel ... kita tidak mungkin menang, pasukan kita hanya tersisa tiga batalyon, sedangkan menurut pengamat, pasukan musuh masih tersisa 4-5 batalyon, itu pun belum termasuk pasukan cadangan mereka yang akan sampai di Valdicius tiga jam lalagi
“Sial! Musuh masih memiliki empat batalyon dan itu belum termasuk bala bantuan mereka! Seandainya radio komunikasi masih berfungsi, aku bisa saja meminta bantuan ke pusat untuk mengirim pasukan khusus—Black Squad—maju ke sini, karena dulu aku juga tergabung di sana dan ...”
“Kolonel, Kolonel! Apa yang akan kita lakukan kolonel?!” Prajurit itu berkata sambil mengguncang tubuh Loren
“Siapkan pasukan dan panggil para kapten untuk menemuiku disini, pergilah!” balasnya dan prajurit itu pun segera pergi dari hadapannya.
Leron kembali masuk ke tenda dan membuka kembali buku hariannya untuk menuliskan pesan, ditutup dengan kata indah yang telah ia pikirkan matang-matang selama berada di medan perang ini.
“Kedamaian merupakan hal yang mewah jika kau memilikinya hargailah setiap detiknya.”
Dirasa ada yang kurang dari kata-kata ini, mungkin lebih baik jika ditambahkan kalimat “Si Vis Pacem Para Bellum.”
Tak lama setelah buku harian itu ditutup, para kapten dari setiap squad sudah tiba di depan tenda dengan berbaris rapi menunggu perintah selanjutnya, Leron mempersilahkan mereka masuk kedalam, ia pun mulai menjelaskan strategi berperang yang akan dilancarkan.
“Apa ada yang ingin bertanya?” tanya pria itu kepada mereka setelah usai menjelaskan, salah satu dari mereka mengangkat tangan.
“Perkenalkan Kolonel, nama saya Zod, kapten dari Eagle Squad. Saya memiliki pertanyaan mengenai strategi ini!”
“Mengapa anda memilih menggunakan strategi kekacauan dibandingkan dengan ...”
Perkataannya tiba tiba saja disela oleh salah seorang teman Loren yang juga seorang kapten dari Bear Squad.
“Akan kujawab pertanyaan mu itu Zod, kau pasti berniat menyarankan strategi pengepungan dan ekskusi langsung, tapi itu mustahil!” Semua mata langsung menuju kepadanya dengan tatapan meragukan.
Tak Leron sangka, dia mengerti semua yang ia katakan barusan dengan tergesa-gesa.
“Baiklah semuanya sudah jelas! Siapkan tim kalian kita akan menyerang tengah malam ini!” Leron mengatakannya dengan lantang, semuanya bersorak seakan mereka lupa kalau mereka kalah jumlah dibandingkan musuh.
...πππ...
2 jam di medan perang.
Dentuman bom meledak di mana-mana, peluru melesat menghantam segalanya, hutan terbakar begitu pula gudang senjata dan makanan musuh yang membuat mereka semakin panik untuk melawan serangan mereka.
“Incar pemimpinnya dan tembak dia!” Zod berteriak memimpin squadnya.
“Serang!” sorak semua orang karena merasa kemenangan sudah di depan mata. Semua orang maju dan memukul mundur musuh, tak peduli ada peluru di tubuh mereka, mereka tetap maju dan menghabisi musuh seperti harimau yang kelaparan.
“Kolonel, kita akan menang!“ Salah seorang prajurit bersorak. “Kita pasti menang!” balas lainnya memang saat itu sudah terlihat kemenangan ada di depan mata, semua dendam yang dimiliki seakan akan hilang sebentar lagi dengan kemenangan ini.
Namun ditengah momen bahagia itu, ada kabar duka yang menghancurkan yang dibawa oleh seorang prajurit.
“Kapten Ong dari Bear squad telah tumbang! Kapten Ong telah tumbang!”
Kabar itu langsung membuat Leron meneteskan air mata, Ong adalah sahabatnya dan juga tangan kanannya yang telah gugur di sini.
Tiba tiba sebuah tembak ditodongkan di kepalanya, “Maaf kolonel Leron, waktumu telah habis. Sampaikan salamku kepada kapten Ong jika kau bertemu dengannya.”
Siapa dia ini? Aku tak mengenal suaranya, jika aku bergerak akankah dia langsung menembak? Sial! Apa mungkin mata-mata musuh?! batin Leron dalam benaknya.
Aku tak akan menyerah, akan kutembak dia!
“Kolonel Leron, до свидания do svidaniya!!!”
Dor!
Dalam benaknya, Leron bertanya, apakah ini akhirnya aku tak tahu bagaimana lagi? Tapi ... yang pasti aku telah gagal membalaskan dendam rekan-rekanku, aku mohon maafkanlah aku, maafkan lah pemimpinmu ini yang tidak bisa menepati janjinya untuk membalaskan dendam kalian.