
“Boreas! Apa kau sadar kalau kau bukan tandinganku!” tegas Varbuk yang mulai mengeluarkan kekuatan penuhnya. Untuk sesaat, terasa bumi seperti bergetar dan tanah di sekitar Varbuk hancur, ukuran badan Varbuk juga meningkat drastis dari sekitar 2 meter menjadi 8 meter.
“Kau pikir aku akan membiarkanmu menyerang Lord? Majulah dan hadapi aku, Varbuk!” sahut Boreas menantang Varbuk. Dalam hitungan detik, Varbuk melayangkan pukulan pertamanya ke arah Boreas namun dapat dihindari dengan mudah olehnya.
Sing!
Boreas pun melompat ke udara dan menyerang Varbuk dengan teknik "Mountain Destroyer".
Duar!
Tangan Varbuk terbelah menjadi dua, area tempat mereka bertarung menjadi memiliki lubang yang sangat besar karena serangan Boreas barusan. Leon yang merasa kagum menepuk tangannya dan segera memutuskan membantu Boreas.
"Biar kubantu, Boreas," pinta Leon pada bawahannya itu. Namun hasilnya nihil baginya, Boreas tak mengiyakan apa yang tuannya minta padanya.
“Lord, aku bisa melakukan ini sendiri!” seru Boreas kepada Leon. Leon mendesaknya, ia hanya menyuruh Boreas menonton dan menjaga Roseria.
“Jadi, kau raja di sini ya?” tanya Leon sambil mengangkat Varbuk ke udara menggunakan sihirnya. Varbuk terkejut, kekuatan yang ada pada lawan bicaranya itu begitu dahsyat.
Leon pun membuat ribuan tombak api berwarna hitam dan juga ada yang berwarna putih dan diarahkan untuk menyerang Varbuk. Varbuk terbakar karena serangan Leon dan tidak mampu menghindarinya karena tubuhnya benar-benar dalam genggaman kekuatan Leon.
Blar!
Semua Orc yang menyaksikan merasa ngeri sekaligus iba terhadap nasib yang harus diterima oleh Varbuk. Setelah menyelesaikan itu semua, Leon melihat wajah ketakutan yang terlukis di setiap Orc yang menyaksikannya.
“Apa ada yang mau menantangku lagi?” tanya Leon dengan tatapan dinginnya yang sangat mengerikan bagaikan predator yang bersiap memangsa mangsanya. Mereka semua menggelengkan kepala dan mengundurkan diri dari sana.
“Lord memang hebat! Aku tahu Lord adalah yang terbaik dan terkuat!” puji Boreas yang merasa senang ketika melihat Leon mengalahkan Varbuk tanpa berkeringat sedikit pun.
Leon mengangguk untuk menunjukan kalau dia baik-baik saja, namun pria itu melepaskan tangan Roseria yang memeluknya. Bukan berarti bila ia berada di medan perang seperti ini, Roseria dapat melakukan tindakan seenaknya padanya meskipun karna ia khawatir.
Ketika melihat pemimpin mereka dengan mudahnya terbunuh oleh Leon, semua Orc yang ada di sana satu per satu membungkukan badan mereka dan menunjukan pindahnya kesetiaan mereka kepada raja yang baru.
“Lordku, mereka semua sekarang menganggapmu sebagai raja mereka!” seru Boreas yang juga ikut menunduk di hadapan Leon.
Leon pun maju mendekat ke arah Boreas kemudian menyuruh semua Orc kembali berdiri, lalu berkata, “Mulai sekarang, kuharap kalian mau mengikutiku. akan kupastikan tidak akan memperlakukan kalian dengan buruk.”
Semua Orc pun bersorak menyerukan nama Leon seolah mereka akan mengikuti Leon bahkan jika itu sampai harus ke ujung dunia sekalipun.
Ditengah sorakan itu, ada satu Orc maju ke depan dan menghadap ke Leon. Boreas segera maju ke depan Leon untuk menghalangi Orc besar itu. Orc itu pun berbicara dengan Boreas dengan gestur tubuh yang marah dan suara yang sangat tinggi. Boreas langsung menyampaikan apa yang dikatakan oleh Orc itu kepada Leon.
“L-Lordku, izinkan aku bertarung dengannya untukmu," pinta Boreas dengan sedikit rasa ragu. Roseria yang memperhatikan tingkah Boreas kemudian menanyakannya atas apa yang terjadi.
Boreas membisikan apa yang terjadi, "Orc yang maju tadi tidak mau mengakui Lord sebagai tuannya dan menginginkan pertarungan satu lawan satu dengan Lord.”
Mendengar perkataan Boreas membuat Roseria naik darah dan sangat kesal terhadap Orc yang menantang Leon. Wanita itu pun berjalan tepat ke hadapan Orc itu dan menendangnya hingga terpental jauh.
Buak!
Orc itu pun bangkit kembali namun ditahan oleh Roseria yang tepat berdiri di depannya dengan ujung tombaknya mengarah ke leher Orc tersebut, Roseria memberikan tatapan dingin dan menakutkan.
“Kalau kau mau melawan orang yang kusayang, langkahi dulu mayatku!” ancam Roseria berniat membunuh Orc tersebut dengan menancapkan tombaknya tepat ke arah lehernya.