
Niel menggelengkan kepalanya sebagai tanda kalau dia tidak setuju.
“Bagaimana bisa kami melakukan itu! Begini saja, bagaimana kalau kami akan memberikan kalian uang?” tanya Niel karena dia tidak mungkin bisa memberikan petarung terbaik di desanya jatuh ke tangan para Orc entah untuk alasan apa pun.
“Uang? Kau pikir semua hal bisa diselesaikan dengan uang? Manusia, kalian memang benar-benar bodoh dan rakus!” seru Baltasar yang menolak mentah-mentah saran Niel dan menghinanya.
“Berhentilah menghina kami! Nak Leon, cepat bantu kami dan habisi para Orc ini dengan pasukan Orcmu! Kami selamanya akan berhutang atas jasamu tersebut,” sumpah Niel yang sudah mulai kehabisan kesabaran dengan nada yang memerintah.
Leon hanya tersenyum kecil lalu menatap Niel dengan tatapan dinginnya dan berkata, “Memangnya siapa kau berani memerintahku?”
Kata-kata pendek Leon membuat tidak hanya Niel tetapi Baltasar juga merasa ketakutan, seolah di setiap katanya itu seperti ada terror yang tidak bisa di ceritakan.
“M-maaf, tapi sebagai sesama manusia, bukankah wajar jika kau membantu kami memusnahkan para Orc?” urai Niel dengan wajah yakin walau dalam hatinya masih ketakutan dengan tatapan Leon yang dingin.
BRAK!
Isabella memukul meja dan berseru, “Kalau dia tidak ingin jangan memaksanya pak tua!”
Gadis itu marah karena ia yakin bahwa Leon tidak ingin membantu warga desa dengan membunuh para Orc, Isabella juga tidak ingin Leon merasa bersalah dan terbebani karena melakukan hal yang tidak diinginkannya.
“Apa kalian gila? Kalian harusnya mendukung kami para manusia! Kita ini berasal dari ras yang sama! Apa kau mau melupakan kejahatan para Orc ini?!" seru Niel dengan kepala panas. "Nak Leon, perintahkan untuk mengerahkan pasukanmu untuk menyerang para Orc ini. Sekarang!” perintah Niel tanpa menunjukkan basa-basi lagi ataupun sedikit tata krama terhadap Leon.
Semua orang yang menyaksikan terkejut melihat apa yang Niel lakukan. Mendengar nama tuannya diperlakukan seperti itu oleh Niel, Boreas marah besar dan berniat memenggal kepala Niel, namun Leon menyuruh Boreas untuk tetap di belakangnya dan Isabella dan tidak menyerang Niel sama sekali.
Isabella yang juga berada di dekat Leon dan menyaksikan bagaimana Niel memperlakukan kekasihnya, ia ingin melakukan hal yang sama namun memutuskan untuk diam dan menenangkan Leon karena ia juga tidak ingin membuat keinginan Leon agar kedua belah pihak berdamai menjadi gagal.
Baltasar yang juga melihat hal itu merasa terkejut namun ia tidak terlalu terkejut karena sudah menduga hal ini akan terjadi.
“Kau lihat, Nak. Inilah alasanku mengatakan kalau manusia adalah makhluk yang sangat tidak bisa dipercaya, egois, dan sombong! Dan mereka bisa saja menggunakanmu hanya untuk keuntungan mereka pribadi!” seru Baltasar dengan sedikit marah sambil menunjuk ke arah Niel.
“Apa kau bilang?!” Niel menjadi semakin marah karena tidak terima dengan perkataan Baltasar.
Bagi Niel, para Orc lebih buruk dari makhluk mana pun karena mereka selalu melakukan apa yang mereka mau tanpa memiliki rasa takut sedikit pun.
“Kau mendengar yang kukatakan bukan, pak tua?!” seru Baltasar dengan tatapannya yang bengis dan disertai dengan senyuman liciknya karena dia mengetahui kalau Niel memiliki temperamen yang sangat buruk.
“Cih! Semuanya, apa kalian terima dengan kata-kata makhluk ini?!" seru Niel kepada warga desanya untuk mencari dukungan.
Mereka semua dengan serentak berseru, “Tidak!”
“Apa kita harus memaafkan kesalahan mereka?” lanjut Niel memprovokasi penduduk.
“Tidak! Kita harus melawan mereka!” seru para warga desa sambil mengangkat senjata mereka.