Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 8



Perkembangan kultivasi Leon cukup cepat, bahkan laki-laki itu dijuluki sebagai 'anak jenius keluarga Silvestre'. Saat ini, ia berada di tingkat Dou Grandmaster lapisan kelima dan dalam hal sihir—ia berlatih diam-diam—sudah berada di tingkat ketiga tier lapisan awal, yang berarti bahwa ia bisa menggunakan mantra kelas tiga sesuka hati tanpa harus khawatir kehabisan mana.


“Tuan muda Leon!” seru salah seorang pelayan memanggilnya dari jauh, ia datang menghampiri tuannya itu.


“Iya tunggu sebentar, Mona Lyne!” sahut Leon yang masih sibuk mempersiapkan dirinya.


“Yang mulia Samuel sudah berada di kereta kudanya, Tuan Muda. Hanya tinggal menunggu anda saja,” timpal pelayan itu menegaskan.


“Memangnya pergi ke Akademi Ahrion sepenting itu, ya, Nona Lyne?" cibir Leon seraya berjalan menuju ke kereta kuda yang berada di hadapannya.


“Tuan muda Leon, aku tahu kau tertarik dengan sihir daripada pedang, namun keluargamu ini adalah keluarga ahli pedang terkenal sepanjang belanda,” balas pelayan itu mengingatkan derajat keluarga Leon.


“Lagipula akademi Ahrion terkenal bagus bagi ilmu pedang dan sihirnya, kau bisa mempelajari keduanya juga di sana, Tuan Muda." Pelayan itu tersenyum, memberikan jasnya lalu memakaikannya.


“Aku tahu itu, Nona Lyne … yang tak kusuka adalah diskriminasi sialan yang terjadi di sana. Di mana para bangsawan merasa paling hebat dibandingkan rakyat jelata,” balas Leon menjawab dengan raut wajah kesal dan serius.


“Hush … Tuan Muda Leon tidak boleh berkata kasar! Lagi pula, Tuan Muda ini, kan, bangsawan? Tidak perlu khawatir soal hal itu, bukan?" Pelayan yang sudah menasihatinya seperti ibunya sendiri Leon hanya berdecak tak mengindahkan nasihat itu. Ia hanya menjawab agar pelayannya itu tutup mulut.


“Aku percaya Nona Lyne, kalau semua orang berhak memiliki kesempatan yang sama dan hak yang sama tanpa diskriminasi," balas Leon dengan wajah yakin, ia pun naik masuk ke dalam kereta kudanya.


“Kau siap, Nak?” tanya Ayah kepada Leon.


“Untuk apa? Memasuki Akademi Ahrion?” tanya Leon kembali dengan heran.


“Kau tenang saja, Nak, tidak akan ada yang berani menghinamu di sana. Kau tidak perlu malu menunjukan kejeniusanmu di sana nantinya,” terang ayah melanjutkan.


“Sayang, tidak mungkin putraku yang tampan ini takut! Bukan begitu, Nak ?” sahut Seline sambil memeluk dan mencium Leon—putranya.


“Hm … Iya, Ibu benar.” 


Waktu terus berjalan, ayah menceritakan kisah bagaimana dulu dia menjadi salah satu ahli pedang tipe longsword di akademi dan ibu adalah ahli pedang tipe Bastard Sword


Dan kisah bagaimana mereka bertemu pertama kali ketika di medan pertempuran arena antar akademi, lalu tak terasa, mereka dan kereta kuda mereka sudah berada di Akademi Ahrion. Waktu terlintas dengan begitu cepat, tak ada yang dapat diduga.


Riuh suara orang-orang memperhatikan kereta kuda mereka, bangsawan selalu diperhatikan selayaknya orang penting. Seluruh mata mereka memandang dengan kagum dan banjir pujian, kereta kuda mewah Leon menelusuri jalan ramai yang dipadati oleh penduduk.


Apalagi ketika sudah sampai di Akademi, putra kecil itu menjadi sorotan dari pandangan para orang-orang di sana. Mereka semua terkagum bak menatap seorang pangeran dari dunia fantasi.