
Camila pergi dengan menggunakan teleportasi ke tempat yang jauh dari rumah mereka berdua. Sekilas ia melihat ke belakang, menangis dan merasa hancur ketika meninggalkan apa yang ia sayangi.
Keesokan harinya, ketika Mark terbangun, dia langsung panik ketika mengetahui Camila tidak berada di sampingnya. Mark mencari Camila di rumah dengan memanggil namanya.
“Camila! Kau di mana?!” seru Mark namun tidak ada jawaban sama sekali. “Sayang … bercandanya tidak lucu!” Mark mulai khawatir dan akhirnya merenung di pinggir rumahnya dan menggumam.
“Dia tak mungkin pergi tanpa memberitahuku. Mengapa? Apa aku salah? Kumohon Camila jangan pergi dariku.” Mark menggumam sendiri, ia tidak sadar jika sesuatu membuatnya sadar akan sesuatu.
Dia terkejut mendengar sesuatu berbunyi di belakangnya. Sebuah sayap yang sama seperti milik istrinya—Camila.
“Sayap? Ini kan sayap milik Camila?” Mark teheran-heran ketika punggungnya mengeluarkan sayap bercahaya berwarna putih. “Apakah mungkin ada yang berani mengancam nyawa Camila?!” Mark mengeluarkan aura membunuhnya setelah sekian lama tidak menggunakannya.
Pria itu sontak pergi ke kamarnya dan membuka kotak yang sudah lama dia tidak ingin gunakan kembali. Mark mengeluarkan dua buah pedang panjang yang dulu dia dapatkan dari temannya raja Elf Ash.
“Aku tidak dapat membantu Ash, tapi aku tidak akan membiarkan Camila mengalami nasib yang sama dengannya.” Mark berkata kepada dirinya sendiri dengan ekspresi wajah yang sangat murka.
...πππ...
Setelah hilangnya Camila dari kehidupan Mark, Mark yang awalnya sudah berhenti menjadi Assassin kembali menjadi dirinya yang sebelumnya. Namanya mulai terdengar lagi dan ditakuti oleh semua orang, terutama bagi semua pria yang pernah berhubungan dengan Camila sebelumnya.
Satu per satu pria yang Mark ketahui pernah menatap atau mengincar Camila dibunuh oleh Mark.
“T-tunggu! Tunggu sebentar! A-aku tidak tahu di mana Camila berada!" seru seorang pria dengan sangat ketakutan ketika melihat Mark berada di depannya dan telah membunuh semua orang disekelilingnya saat itu.
“Bohong! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau menatap Istriku dengan kedua mata mesum-mu itu?!" sahut Mark dengan nada marah. Tak lewat sedetik, Mark menebas kepala orang tersebut dan pergi dari tempat kejadian.
Pria itu kini pergi kembali ke tempat persembunyiannya di sebuah bangunan kosong di atas gunung. Tempat itu digunakan Mark sebagai tempatnya beristirahat sekaligus menyusun petunjuk keberadaan Camila.
Ketika sedang berjalan menuju tempat tidurnya, Mark merasa pusing yang teramat sangat dan akhirnya terjatuh. Ketika ia tidak sadarkan diri, ia melihat sosok Camila sedang berada di sebuah penjara sangat besar bersama dengan beberapa malaikat lainnya, penjara itu sama sekali tidak mirip dengan penjara mana pun yang pernah Mark lihat di dunia ini.
Camila tiba-tiba saja merasakan hawa keberadaan Mark di dekatnya meski tidak yakin. “Sayang apakah itu kau?” tanya Camila menggunakan telepati.
“Camila! Camila sayang, kau bisa melihatku?” sahut Mark merasa senang bisa mendengar suara lembut istrinya kembali.
“Sayang, pergilah! Kau bisa dalam bahaya nanti!” seru Camila melalui telepatinya.
Mark menggelengkan kepalanya. "Jangan khawatir, Sayang. Aku akan segera membebaskanmu!” seru Mark terburu-buru.
“Aku tahu kau akan mengatakan itu, namun kau yang sekarang tidak akan sanggup bertarung dengan mereka!” seru Camila melanjutkan.
“Mereka? Siapa mereka? Bagaimana dengan bayi kita, sayang?” sahut Mark dengan penuh cemas.
“Anak kita sepertinya sebentar lagi akan lahir …," jawab Camila dengan nada bahagia. "Maaf aku tidak bisa berada di dekatmu ketika ia lahir."
Mark merasakan sakit yang mendalam sebagai seorang suami yang jauh dari istrinya saat hendak melahirkan.
“Tidak apa-apa sayang, aku tidak marah kepadamu. Justru aku yang meminta maaf karena tak mengurusmu ketika kau sedang mengandung," sahut Mark sedih.
“Sayang, apakah yang kau maksud mereka itu adalah para dewa dan dewi?” tanya Mark lagi karena berusaha menebak setelah memutar otaknya untuk berpikir sangat keras.
“Benar," jawab Camila dengan sedikit ragu karena dia takut suaminya akan membahayakan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan dirinya.