
Mark yang kelelahan memutuskan untuk beristirahat dengan mengunjungi sebuah Bar untuk memesan makanan dan minuman di sana.
“Tolong beri aku daging dan minuman," pinta Mark kepada penjaga Bar itu. Barista di sana segera menyiapkan pesanan untuknya.
“Ini dia segelas minuman dan setengah porsi ayam panggang, Tuan." Pelayan itu menyajikan makanannya kepada Mark kemudian Mark memberikan uang sebesar 100 Sein sebagai bayarannya.
Ketika Mark sedang makan, ia merasa kehadirannya sedang diawasi oleh seseorang. Walau tidak yakin siapa, tapi ia langsung meningkatkan penjagaannya. Sampai ada seseorang menepuk bahunya, Mark sontak menoleh ke sampingnya dan bersiap menyerang, dia melihat sosok wanita berambut pendek berwarna pirang yang dia sangat kenal.
“Irina? Irina van Holser. Apa yang kau lakukan di sini?” Mark terkejut ketika melihat Irina teman lamanya sewaktu dia sering melakukan operasi pembunuhan diam-diam selama perang berlangsung.
“Mark Sefio Nathan? Bagaimana dengan kau?” Irina balik bertanya kepada Mark dan Mark.
“Menyantap makan malamku," jawab Mark dengan raut wajah dinginnya.
“Bodoh. Bukan itu pertanyaan yang kumaksud. Sudah, cepatlah ikut aku ke kamarku, di sini terlalu banyak orang," ajak Irina berseru kemudian menarik Mark pergi menuju ke kamarnya untuk berbicara demi mencegah bocornya informasi.
Mark mengikuti Irina ke kamarnya dan sesampainya di sana, Irina langsung mengunci kamarnya dan bertanya kepada Mark, “Demi para Dewa dan Dewi, sebenarnya apa yang kau ingin lakukan di Yugaria, Mark?”
“Alasanku kesini adalah untuk membunuh Asnov Sovexis. Lalu, apa tujuanmu ke sini?”
Mark berjalan mendekati jendela untuk melihat keadaan dan menutup tirainya. Ketika Mark berbalik badan, Irina sudah menghunuskan pedangnya tepat ke arah leher Mark.
Wush!
Mark langsung menangkis pedang Irina dengan pedangnya dan berbalik mengancam Irina dengan pedangnya lalu menanyakan, “Kenapa Irina? Bukankah kita teman?”
“Jadi … kau berniat membunuhku, hm?” Mark melepaskan pedangnya dan perasaannya hancur berkeping-keping karena musuh yang dia harus hadapi adalah temannya sendiri.
Irina juga tidak mau membunuh Mark, tetapi jika dia membiarkan Mark hidup sama saja dengan dia melalaikan tugasnya.
"Bisakah kau berjanji kepadaku kalau kau tidak akan membunuh Asnov dalam 3 hari kedepan, Mark? Karena setelah rentang waktu itu, akan ada orang lain yang menggantikanku," pinta Irina karena menurutnya ini adalah jalan terakhir agar dia tidak membunuh temannya sendiri.
“Dua hari itu waktu paling lama yang bisa kuundur, Irina. Tujuanku adalah mencegahnya memimpin penyerangan ke Desbenadia dalam waktu 4 hari yang akan datang," sahut Mark dengan nada serius.
Irina menurunkan pedangnya dan tersadar kalau nyawa temannya juga dalam bahaya.
“Jadi kau pasti dikirim oleh Ash, bukan? Apa kau sadar berapa banyak pembunuh bayaran yang telah dikirim oleh para Raja lain sebelum Ash hanya untuk membunuh Asnov?”
“Yang mereka kirim itu bukan diriku, bukan? Tenang saja, aku pasti bisa menyelesaikan ini dengan aman," tutur Mark berusaha menenangkan Irina yang terlihat sedikit khawatir.
“Apakah kau sudah gila? Mendapatkan julukan sebagai dewa assassin membuatmu menjadi besar kepala ya, Mark!" Irina berseru dengan nada penuh kekesalan melihat temannya itu.
Mark mengalihkan pandangannya, kedua sorot matanya tertuju pada Irina yang gelisah.
“Jadi kau ingin aku bagaimana?” tanya pria itu.
“Pergilah bersamaku, Mark. Kita bisa kabur ke kerajaan Engrasia dan menjalani kehidupan bersama," pinta Irina dengan mata yang berkaca-kaca kepada Mark. Mark justru menggunakan teknik akupunturnya kepada Irina agar dia tidak sadarkan diri untuk sementara waktu.