Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 70



Mark mengangkat tubuh Irina ke atas kasur lalu menyelimutinya dan berjalan menjauh dari lalu mengatakan dengan suara pelan, "Maaf, Irina. Inilah jalan yang sudah kupilih. Semoga kau bisa menemukan kebahagiaan pada laki-laki lain selain diriku yang sudah penuh dengan noda darah ini. Selamat tinggal.” 


Mark melompat keluar dari jendela dan menghilang di kegelapan malam.


“Mark! Mark!” Irina mengigau. “Mark bawa aku jangan tinggalkan diriku sendiri lagi!” Irina terbangun dari mimpinya sampai meneteskan air mata, dia sadar kalau Mark meninggalkannya sendiri di kamarnya dan hal tersebut membuat perasaan Irina menjadi bercampur-aduk antara sedih, marah, gusar, dan bingung.


“Mark kumohon jangan mati! Oh dewa, kumohon lindungilah Mark dari segala bahaya yang mengancamnya nanti!" tuntut Irina menangis tersedu-sedu sambil mendoakan Mark yang merupakan sosok teman, sahabat, serta cinta pertamanya yang tidak akan pernah dia bisa lupakan serta ucapkan.


...πππ...


Di sebuah penginapan kecil, Mark menginap untuk istirahat. Ketika fajar tiba, dia melakukan rutinitasnya setelah berkultivasi.


“1000 ...1001 ... 1002 ...1003!” Mark melakukan hitungan berapa banyak dia telah melakukan push up dengan satu tangan.


“Ini belum cukup. Basis kultivasiku jauh di bawah Asnov yang saat ini sudah berada di tingkat Temperance lapisan ke-9, sedangkan diriku baru berada di tingkat Temperance lapisan 4," gerutu Mark menyadari kalau kemungkinan dalam pertarungan jangka panjang kemungkinannya kalah sangat tinggi dikarenakan jauhnya batasan stamina yang mereka miliki.


Pria itu pun melanjutkan push up-nya hingga mencapai 3000 kali dan memutuskan untuk mengitari kota Yugaria hingga 1000 kali. Ia baru menyelesaikannya tepat ketika waktunya makan siang tiba.


Ia memutuskan untuk makan siang di sebuah toko kecil. Ketika menunggu pesanannya, dia melihat beberapa prajurit elite bawahan Asnov juga masuk dan makan di tempat itu. Mark tidak sengaja mendengar percakapan mereka.


“Kudengar tuan Asnov berniat mempercepat rencana penyerangan?” ujar Prajurit pertama yang berada di sana.


“Iya, itu benar. Tuan Asnov berniat menyerang Desbenadia besok saat fajar," sahut Prajurit kedua.


“Bukankah terlalu beresiko jika ia melakukannya sekarang?” timpal Prajurit ketiga.


“Apa kau berniat mempertanyakan keputusan tuan Asnov?!” Prajurit kedua mulai sedikit marah.


Asnov berniat menyerang sebelum bala tentara bantuan pendukung Desbenadia datang membantu mereka. Mark terus mendengarkan percakapan mereka bertiga sambil menikmati makanannya. Ketika mereka bertiga keluar dari toko itu, Mark juga membuntutinya secara diam-diam.


“Apa kau merasa seperti ada yang membuntuti kita?” tanya Prajurit pertama.


“Itu hanya perasaanmu saja," sahut Prajurit kedua.


Ketika mereka lengah, Mark menyerang mereka bertiga secara satu per satu lalu menarik mereka ke dalam sebuah lorong yang sepi dan gelap.


Argh!


Buk! Duak!


“Katakan padaku apa dan kapan tepatnya Asnov akan menyerang Desbenadia," tuntut Mark dengan raut wajahnya yang geram penuh kemarahan.


“Cuih … Untuk apa kuberitahu kepada manusia lemah seperti dirimu!” sahut Prajurit kedua meludah tepat ke arah muka Mark hingga membuatnya merasa sangat marah.


Mark pun menusukkan pedangnya ke bahu prajurit itu dan membuatnya ingin berseru namun tidak bisa karena Mark langsung menyumpal mulut Prajurit itu dengan sarung pedang miliknya.


“Aku akan jawab! Tuan Asnov berniat menghabisi Raja Ash agar tidak ada yang bisa menggagalkan rencananya untuk menjadi raja Yugaria," seru Prajurit pertama yang terlihat sangat ketakutan.


“Apa kau punya sesuatu yang bisa membantuku?” tanya Mark dengan ramah ke arah Prajurit ketiga namun prajurit itu justru menendang Mark.


“Kau akan menyesalinya!” Mark yang sedang murka kemudian memotong kaki dari Prajurit ketiga dan mencincangnya dengan pedangnya hingga terbelah semua anggota tubuhnya.