
“Hajar dia Alfonso!”
“Ya, tunjukan posisi kita sebagai bangsawan di hadapan anjing itu!”
“Hahaha, rakyat jelata berani-beraninya menantang bangsawan!"
Semua keributan itu kurang lebih adalah cemoohan yang dilontarkan oleh mereka yang berasal dari kalangan bangsawan.
Ketika sampai di arena dekat Ray berada, Leon melihat Isabella dan Budi baru sampai dengan nafas yang masih terengah-engah. Ia pun bertanya pada mereka.
“Apa yang terjadi sebenarnya?!” kami bertiga mengatakannya bersamaan.
“Sial! Apa kau tidak tau apa-apa Leon?” tanya Budi berusaha mencari tahu.
“Kalau aku tahu, tak akan aku tanyakan padamu Bud!” jawab Leon dengan nada yang cukup kesal.
“Hei, tunggu di sini!” Isabella berseru lalu bergerak menghampiri seseorang kemudian kembali lagi mengatakan, "Ini semua terjadi karena Ray, ia berusaha melindungi teman sekelasnya yang bukan dari keluarga bangsawan dari sikap Alfonso yang berusaha melecehkannya!”
“Sial! Leon, kita harus mencegah Ray bertarung!" seru Budi berusaha meyakinkan. Tiba-tiba saja, bunyi lonceng terdengar. Pertarungan antara Ray dan Alfonso dimulai.
“Kau akan mati! Tidak ada Leon yang akan melindungimu sekarang, Ray kecil!” Alfonso mengejek berusaha menjatuhkan mental Ray.
“Untuk mengalahkan bajingan seperti kau, Boss tidak perlu turun tangan!” Ray membalasnya kemudian mengayunkan pedang besarnya ke arah Alfonso namun dia berhasil menghindarinya.
Sing!
Syut.
“Hahaha! Terlalu lamban!” seru Alfonso bangga.
Kemudian pedang panjang Alfonso menyerang punggung Ray dan membuat Ray terluka cukup parah. Dari sana keluar begitu banyak darah yang membuat Leon dan teman-temannya panik dan terkejut.
JLEB!
Semua penonton bangsawan bersorak dan tertawa melihat Ray yang terluka.
“Menyerahlah atau kau akan mati hari ini!” seru Alfonso lalu bergerak lagi dan menyerang Ray dengan pedang panjangnya. Beruntungnya bisa Ray tangkis dengan pedang besarnya.
“Akan kukalahkan kau, bajingan!” Ray mengayunkan pedangnya dan berhasil membuat Alfonso terluka sedikit di bagian tangan kirinya. Alfonso yang melihat darah keluar dari tubuhnya mulai kehabisan kesabaran dan menyerang Ray secara membabi buta.
“Mati! Matilah, anjing kampung!” seru Alfonso menyerang Ray dari segala arah dan benar-benar membuat Ray kalah telak.
“Aku m-menyerah!” Ray mengatakan dengan mulut yang berlumuran darah. Namun Alfonso tidak peduli dan menyerang Ray dengan menusuk pedangnya ke dada Ray.
“Hahaha bagus Alfonso! Matilah, anjing kampung!”
“Dasar Rakyat Jelata!"
Semua penonton bersorak senang ketika Alfonso menusuk Ray di dadanya. Leon dan Budi yang sudah kehabisan kesabaran pun naik ke atas arena untuk mencegah tusukan Alfonso yang ke dua ke badan Ray.
“Cukup sampai disitu! Apa kau tuli? Dia menyerah, sudah menyerah!” seru Budi sambil menahan tangan Alfonso yang memegang pedang.
Leon mencabut pedang dari dada Ray dan meminta Isabella untuk memanggil petugas medis agar sigap menanganinya dan tak terlambat.
“B-boss, kaukah itu?” tanya Ray mencoba bangkit dan menyapa Leon.
“Hei Budi, kau juga di sini.”
“Iya kawan kami berdua di sini," sahut Budi.
“Tenanglah Ray, petugas medis sebentar lagi sampai," ujar Leon berusaha menenangkan Ray.
Tiba tiba saja para penonton mulai meneriaki mereka penuh kemarahan, “Apa yang kalian lakukan disana?! Apa kalian tidak malu keluarga bangsawan membantu rakyat jelata?!"
“Apa kalian sudah gila, ya? Kenapa membantu anjing itu!” seru Alfonso menghina Leon dan Ray secara bersamaan. Budi yang kehabisan kesabaran memukul Alfonso mundur hingga ia terjatuh dengan keras.
Buk!
"Apa yang kau lakukan?!"
Petugas medis datang, para petugas medis yang terdiri dari para siswa dan guru tipe Healer datang dan menyembuhkan luka yang dialami Ray. Leon dan Budi masih tetap di arena bersama dengan Alfonso dan para penonton.
“Aku ingin menantangmu bertarung, Budi Blackwater! Kudengar, kau lebih ahli dibanding bocah yang barusan!"
Alfonso membuat para penonton senang dan bertaruh banyak uang atas namanya. Entah apakah ada yang bertaruh demi Budi nantinya.