
“Hah, mudah sekali.”
“Kau menggunakan sihir? Luar biasa mengerikan sekali.” Han Rou terkagum dengan sihir yang Leon gunakan. Ia pun memerintahkan gorila lain untuk membawa mayat-mayat gorila yang mati karena menantangnya.
“Kau ingin belajar sihir, kawan? Aku bisa mengajari satu atau dua hal,” usul Leon menawarkan bantuan untuk mengajari Han Rou mengenai sihir. Han Rou pun setuju.
Sepanjang malam, Leon menjelaskan kepada Han Rou cara memanipulasi elemen api yang dia miliki untuk menjadi keuntungannya saat bertarung.
“Roar! Leon lihatlah! Aku berhasil membuat bola seperti yang kau minta,” pekik Han Rou tertawa senang ketika dia menunjukkan pada Leon bahwa dia bisa membuat ‘Fireball’ berukuran raksasa.
“Kerja bagus, kawan. Sekarang untuk tahap kedua, coba kau lempar."
Syut.
Boom!
Han Rou melempar bola api di tangannya ke arah hutan bagian Selatan dan menyebabkan kebakaran besar di wilayah milik Wyvern Lord.
“Astaga, Han! Bagaimana kalau penguasa wilayah itu marah nanti!” seru Leon khawatir dan segera bergerak untuk memadamkan api di sana.
“Tenang saja, Leon. Wyvern kecil itu tidak akan berani menyerangku bahkan jika aku menyerangnya duluan. Roar! ” Han Rou hanya tertawa santai tanpa memikirkan hal itu.
Tetap saja Leon merasa khawatir. Ia pun bergerak dengan cepat ke arah hutan yang terbakar dan menggunakan mantra es untuk memadamkan api yang berkobar di sana.
Setelah itu selama berbulan-bulan, Leon melatih Han Rou dan beberapa gorila lain yang tertarik untuk belajar sihir elemen. Han Rou sebagai penerjemahnya untuk melatih gorila lain.
Kebanyakan dari mereka benar-benar berbakat menggunakan sihir! Kurang lebih dalam tiga bulan setelah mengajar, sudah ada 100 gorila raksasa yang bisa menggunakan sihir dan mereka saling mengajari gorila lain di kerajaan itu.
1 tahun kemudian
Tidak terasa sudah enam tahun Leon berada di dunia Ilusi Abyss ini, atau lebih tepatnya tinggal di kerajaan temannya—si raja gorila raksasa, Han Rou. Sudah setahun ia mengajarkan cara menggunakan sihir kepada mereka. Hampir semua gorila di sana bisa menggunakan sihir saat ini, entah mengapa membuat Leon merasa bangga.
Namun, di mana ada pertemuan, di situ juga ada perpisahan. Sudah saatnya untuk Leon kembali ke tempat asalnya dan berpisah dengan sahabat baiknya di sana. Di tempat itu.
“Roar! Jadi kau harus kembali ke tempatmu?” tanya Han Rou yang mulai sedih memikirkannya.
“Iya, maafkan aku, kawan. Tapi memang seperti itu. Cepat atau lambat aku juga akan mengunjungimu lagi kesini," sahut Leon.
Kemudian Han Rou memutuskan untuk mengantar sahabatnya ke titik di mana Leon pertama kali sampai dan bertemu dengannya.
“Apa kau yakin di sini, kawan?” tanya Han Rou. Sepanjang jalan hanya ada pohon lebat yang menutupi masuknya cahaya matahari.
Leon hanya mengangguk karena cukup yakin kalau daerah hutan yang gelap ini adalah tempat pertama kali ia masuk. Han Rou dan dirinya pun berpisah di sana karena dia harus kembali ke tempatnya.
"Sampai jumpa, Han Rou! Kita akan bertemu lagi!" pekik Leon seraya melambaikan tangannya.
Sendirian di tengah hutan belantara yang gelap ini seperti ketika awal ia masuk ke sana enam tahun yang lalu. Tidak terasa sama sekali baginya bahwa sudah waktunya untuk kembali. Jika sesuai rencana, ia akan masuk militer agar bisa menghindari konflik dengan keluarga bangsawan Croix dalam waktu dekat ini.
“Dimana pintu keluarnya?” gumam pria itu bingung.
Ia mencari-cari di sekitar hutan ini tapi tetap tidak menemukan pintu untuk keluar dari sana. Mustahil, apa mungkinkah diriku memang sengaja di tinggal di sini dengan maksud untuk memenjarakanku? Tidak, aku harus tetap berusaha mencari jalan untuk keluar dari sini!