Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 34



Sword of The Beast King


(Note) Pedang berusia lebih dari 88,000 tahun yang dulunya dimiliki oleh Beast King ‘Levorda Cahyadi’


(Efek) - Kekuatan pengguna pedang meningkat setara dengan 10,000 orang ahli di tingkat Disaster Realm lapisan puncak


     - [Aura of Beast King] ; All Spirit Beasts and who saw this aura would feel an immense sense of dread, even if they were at an extremely high cultivation level. This effect is irrevocable and does not apply to Demonic Beasts


Ring Of Ares [Replica]


(Note) Cincin yang dimiliki oleh sang dewa perang itu sendiri yang konon mampu memberikan penggunanya kekuatan besar 


(Efek)



Strength Increase 900%



    - Dexterity Increase 900%


    - Wisdom Increase 100%


    - Magic Resistance Increase 30%


    - Vitality Increase 800%


    - Magic Power Increase 150%


    - Regeneration rate Increase by 80%


Sesuatu yang sebagus ini kenapa di berikan kepadaku semudah itu? Dasar Budi, kau itu terlalu baik atau terlalu bodoh? pikir Leon di dalam hatinya. Tapi terima kasih atas cincin ini, sekarang mari lihat apa yang guru berikan kepadaku kemarin.


Beast Core [Crystal Dragon]


(Note): Inti Mana Heart dari Crystal Dragon berusia 10,000 tahun


(Efek):


Mana Increase 500%


    Strength Increase 80%


    Vitality Increase 200%


    Regeneration rate Increase by 300%


    Magic Power Increase 300%


(Note) Special Ring yang dibuat oleh pandai besi kuno dari ras Elf yang dilengkapi dengan ruang di dalamnya untuk menyimpan barang


(Efek) Memiliki ruang penyimpanan untuk barang seluas 70 x 70 meter


Ini benar-benar mengagumkan! Dengan semua barang ini, kemungkinanku untuk berlatih dan tetap bertahan hidup di sini menjadi jauh lebih tinggi. Untuk saat ini, lebih baik berjalan untuk melihat-lihat disekitar hutan yang lebat ini, pikirnya lagi.


Di luar dunia Ilusi.


Draco dan murid-muridnya sedang menyaksikan kepergian Leon saat itu. “Baiklah, dia sudah masuk ke dalam. Sekarang semuanya bubar! Tinggal masalah memberi tahu keluarganya,” pekik Draco D membubarkan.


“Guru, apakah tempat itu benar-benar aman?” tanya Budi karena benar-benar penasaran dan khawatir. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu.


“Hohoho … tempat itu benar-benar sangat aman, Nak. Sama seperti jika kau memasuki kandang yang berisi 20 Naga,” jawab Draco D kemudian pergi meninggalkan murid-murid yang sedang kebingungan dan panik di sana.


“Isabella! Bukankah itu berarti Leon sedang dalam masalah besar?” balas Prisciliana panik.


“Iya, bukankah seharusnya kita ikut membantunya disana?" Budi juga ikut berpendapat.


Tiba tiba terdengar suara tangis, "Ini semua salahku. Karena diriku, boss jadi masuk ke tempat berbahaya itu." Ray benar-benar menyalahkan dirinya. “Apa kau tidak merasa khawatir sama sekali, Isabella?” lanjut Ray bertanya.


“Tenanglah. Aku percaya kalau Leon bisa menyelesaikan itu semua dan kembali dengan selamat!" jawab Isabella menyemangati teman-temannya dengan tersenyum dan meninggalkan tempat itu.


Walau tersenyum, sebenarnya hatinya berkata lain. Dalam hatinya dia sangat khawatir, ia menjadi orang yang paling mengkhawatirkan keselamatan dari Leon tapi dia tidak ingin orang lain melihat hal tersebut.


...πππ...


Dua bulan sudah terlewati sejak Leon memasuki dunia Ilusi Abyss.


Academy sudah memberitahu keluarga Silvestre mengenai hal ini. Memang pada satu bulan pertama keluarga Silvestre menolak bahkan mengancam akan menghancurkan Academy Ahrion, tetapi pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah dengan nasib dari anak mereka. 


Kehidupan Academy berjalan seperti biasa, semua orang di Party Dragonite juga berlatih seperti biasa untuk mengejar ikut berpartisipasi dalam kompetisi bertarung antar Academy lima tahun yang akan datang.


“Budi, serang dari arah kanan! Ray Lindungi Prisciliana!” seru Isabella.


“Baik!" Budi dan Ray langsung maju ke posisi yang diperintahkan.


“Bas! Quantz! Cepat hadang Isabella dan Budi!” seru Miyura Chalice. “Serahkan saja kepada kami," jawab keduanya.


“Lenin, cepat panggil makhluk terkuat yang kau miliki untuk mengalahkan mereka!” seru Miyura Chalice.


“Baik!” sahut Lenin Adro.


 “Answer my call and follow my wishes! Datanglah Yaksha.”


Tiba tiba di Arena pertarungan muncul api biru yang membentuk sosok yang sangat besar seperti raksasa, bertanduk dan bertaring, bertangan empat dan masing-masing tangan memegang senjata yang berbeda beda—seperti ombak, palu, pedang, dan kapak.