
Melihat perilaku Niel yang mirip dengan anaknya dulu membuat Chang’e menjadi tidak tega memarahinya. Chang’e pun memeluk Niel dan juga meminta maaf karena sudah berkata dalam nada tinggi kepada pria yang dianggap anaknya itu.
Ketika Chang’e sedang bersama dengan Niel, tiba-tiba saja ada tiga sosok yang memasuki teritorinya. Dengan cepat Chang’e meminta Niel untuk bersembunyi di balik gua yang tersembunyi di balik air terjun, Niel pun dengan cepat mengikuti perintah Chang’e dan berlari menuju ke air terjun tersebut.
Setelah memastikan Niel aman, Chang’e langsung bergerak menghampiri 3 sosok yang memasuki teritorinya itu.
Dari balik kabut yang berada di hutan teritori milik dewi Chang’e, muncul 3 sosok dewa dan dewi. Masing-masing dari mereka menggunakan pakaian-pakaian bagus dan mewah seperti terbuat dari sutra dan berbagai perhiasan. Chang’e awalnya berniat menyerang mereka, namun mengurungkan niatannya tersebut ketika dia melihat salah seorang temannya.
“Buddha, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau tahu kalau malam ini aku sibuk?” sapa sekaligus tanya Chang’e kepada sosok dewa yang berdiri di tengah di antara 2 dewa dan dewi lain.
Buddha melambaikan tangannya dan tersenyum sebagai tanda menyapa Chang’e kembali lalu berkata, “Aku tahu, kawanku. Tapi dua orang keras kepala ini memaksaku untuk menunjukan jalan ke tempatmu.”
Buddha pun menunjuk ke arah sosok dewa berambut panjang di sisi kanannya dan seorang dewi di sisi kirinya.
Sosok dewi berambut panjang berwarna hitam dengan pakaian berwarna merah dan perhiasan berwarna emas serta selendang berwarna putih yang terbalut di lehernya berjalan maju ke arah Chang’e kemudian sedikit membungkuk untuk memberi hormat, Chang’e pun juga ikut membungkuk untuk menunjukan rasa hormatnya juga.
Sosok dewi itu kemudian membuka mulut dan berkata, “Perkenalkan, wahai dewi bulan Chang’e. Namaku adalah Amaterasu, sang Dewi Matahari.”
Chang’e berusaha kembali fokus dan tidak memikirkan hal itu untuk sementara, pandangan Chang’e kemudian beralih kepada sosok dewa bertubuh kekar yang hanya menggunakan celana panjang berwarna merah dengan kain berwarna hitam putih lengkap dengan sabuk emas bermotif kepala serigala.
Chang’e tersenyum lembut dengan maksud menunjukan keramahannya, namun sosok dewa itu tidak tersenyum sama sekali. Ia hanya memandang dengan tatapan dingin ke tubuh Chang’e dari bawah sampai ke atas lalu menyodorkan tangannya untuk berkenalan.
“Sudah lama kudengar soal kecantikan Sang Bulan di malam hari, senyum indahmu membuatku sampai jatuh hati. Perkenalkan, aku adalah Batara Bayu sang penguasa angin," sapa Batara Bayu dengan wajahnya yang berusaha terlihat sedikit ramah namun tetap saja dingin.
Chang’e hanya bisa sedikit tersenyum karena tidak ingin menyinggung dewa lain yang tidak terlalu dekat dengannya.
“Kalian sudah berkenalan, bukan? Bayu, cepat sebutkan apa tujuanmu memintaku mengajakmu kemari!” seru Buddha yang paham kalau temannya merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Bayu dan Amaterasu.
“Maafkan diriku, aku hanya ingin memberi tahu kalau menurut informasi yang berhembus di antara angin yang ada, sang dewa kematian Anubis telah tiada!” seru Batara Bayu yang seketika membuat Chang’e dan Buddha terkejut karena mereka baru saja mendengar hal tersebut dari mulut Batara Bayu.
Buddha yang tidak percaya kemudian menggenggam leher Batara Bayu dan menatapnya dengan tatapan serius untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Bayu benar atau tidak, Batara Bayu hanya mengangguk menandakan kalau apa yang dia katakan benar adanya Buddha kemudian melepas genggamannya dari leher Bayu.
Tiba-tiba saja Amaterasu yang sedari tadi diam dan tidak terkejut kemudian buka mulut dan berkata, "Alasan kami berdua datang kesini adalah karena menurut informasi yang kudapat, Chang’e dan Buddha, kalian berdua sering sekali membantu manusia tanpa seizin dewa lainnya terutama Raja."