Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 108



Baltasar hanya tertawa terbahak-bahak ketika melihat ekspresi Niel yang sangat serius namun memiliki rasa ketakutan jauh di dalam dirinya. Baltasar pun berhenti tertawa dan menatap Niel dengan tatapan bengisnya dan berkata, “Memangnya aku perlu persetujuanmu, bodoh!”


Mendengar kata-kata Baltasar itu hampir membuat nyali Niel ciut, namun ia berusaha untuk tetap memberanikan dirinya meski di depannya ada sosok besar yang terkenal sangat brutal. 


“Kenapa sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja kau menyerang dengan semua pasukan ini?” tanya Niel berusaha untuk memperlambat waktu.


Baltasar sempat terdiam kemudian tersenyum kecil dan berkata dengan suara yang sangat lantang, “Kau mencoba mengulur waktu bukan? Hah, seorang pria seharusnya siap dengan segala keadaan meski itu adalah keadaan sulit sekali pun! Dan kalian mempermasalahkan apa yang kulakukan? Itu menunjukan kelemahan kalian para manusia!”


Baltasar dengan tatapan bengisnya yang mampu membuat Niel dan warga desa lainnya terdiam dan membuat nyali mereka menciut.


Para Orc dengan gembira memuja-muja Baltasar karena berhasil membuat nyali para warga desa menjadi ciut yang terlihat jelas dengan wajah mereka yang mulai ketakutan dan muram setelah mendengar kata-kata Baltasar.


Dalam benak Niel, dia terbayang kata kata Baltasar dan wajahnya yang sangat menyeramkan serta puluhan ribu pasukan Orc yang dia bawa kemari. Ketakutannya makin menjadi karena mengingat dia meninggalkan Leon di tengah diskusi mereka tanpa berkata apa-apa lagi.


Bagi Niel, Baltasar dan para pasukannya tidak lebih mengerikan dari Leon yang dia lihat ketika menatapnya dengan dingin. Niel berusaha untuk tetap fokus dan menyerukan kata-katanya agar para warga desa yang mengikutinya kembali semangat.


“Tidak, aku akan tetap menghabisinya. Semuanya ayo kita serang mereka!” seru Niel lantang. Semua warga desa kembali menjadi berani dan mengangkat senjata-senjata mereka.


Ketika mereka semua maju dan berniat untuk menyerang para Orc, Baltasar menghempaskan pedangnya ke kanan dan ke kiri sebagai tanda kalau tidak ada yang boleh mendekatinya.


“Bohong! Tidak mungkin Orc menginginkan perdamaian!” sahut Niel menimpali karena sejauh ini tidak mungkin ada Orc yang mau berdamai dengan manusia.


“Kau ini berisik sekali, dasar kakek tua!” seru Baltasar kepada Niel setelah mendengar ocehannya.


Ketika Baltasar dan Niel saling berdebat, tiba-tiba saja Leon dan Isabella keluar dan menghampiri mereka ditemani oleh ribuan Orc bawahan Boreas. Leon membuatkan kursi besar terbuat dari Mana miliknya untuk Isabella kemudian membuat kursi untuk dirinya sendiri.


Boreas pun maju ke arah Baltasar dan Niel dan berbicara. "Lordku ingin kalian saling berbicara dengan damai, duduklah di kursi yang Lord akan siapkan," ujar Boreas.


Dan seketika satu buah meja bundar raksasa muncul di tengah antara Leon, Baltasar, dan Niel, diikuti oleh dua buah kursi besar terbuat dari kayu, Baltasar duduk di kursi besar  yang terbuat dari kayu berwarna kecoklatan, sedangkan Niel duduk di kursi kayu berwarna putih dan Leon serta Isabella duduk di sebuah kursi yang terbuat dari batu beserta krostal yang berada tepat di tengah antara Baltasar dan Niel.


Isabella pun berdiri dari kursinya dan berkata dengan tangan terbuka “Kalian bisa membicarakan peraturan atau kesepakatan kalian di sini. Aku harap kedua belah pihak bisa saling berdamai dan hidup berdampingan." 


Setelah itu Isabella kembali duduk dan kedua belah pihak pun mulai berdiskusi.


“Berikan kepadaku pertarung terbaik kalian setiap tahun dan aku berjanji tidak akan pernah membunuh satu orang pun manusia," pinta Baltasar.