
Lars yang menyadari bahwa sahabatnya itu mencurigai dirinya pun langsung menyusun rencana dalam pikirannya, dia tahu bahwa Draco pasti akan menghalangi rencananya dalam menaklukan Engrasia.
Lars dan Selene pun berjalan ke tempat yang sepi yaitu Taman Hutan Ahrion. Draco dan Lucilia terus membuntuti mereka berdua. Hingga akhirnya Draco kehilangan jejak dari Lars, tapi tanpa diduga oleh Draco dari balik dirinya dia melihat Selene berhasil melumpuhkan Lucilia dalam hitungan detik.
“Lucilia! Sial, jauhkan tanganmu darinya!” geram Draco yang kemudian menarik keluar pedang miliknya, namun sayangnya dihalangi oleh Lars.
Lars kemudian muncul dari belakang dan menghancurkan pedang milik Draco sebelum digunakan olehnya untuk menyerang Selene.
Slash! Prang!
“Lars! Apa yang akan kau lakukan!” amarah Draco sudah memuncak, Draco pun mengeluarkan domainnya yang bisa membuat musuh terbunuh karena tekanannya.
Lars memilih untuk membawa Selene pergi menjauh dari area domain milik Draco, sedangkan Draco langsung bergerak menolong Lucilia yang sudah terbaring di tanah.
Draco berusaha menyembuhkan Lucilia dengan sihir penyembuh yang dia ketahui, namun sayangnya Lucilia masih belum sadarkan diri sedikitpun. Setelah menguras lebih dari setengah Mana yang dimiliki Draco, Lucilia pun sadar. Namun ketika Lucilia baru saja sadar, Lars dan Selene menggunakan kesempatan itu untuk membunuh Draco dan menghilang tanpa jejak.
Lucilia melihat Draco terpenggal dan tertusuk di depan matanya tanpa bisa bereaksi sedikit pun. Hal terakhir yang dilihat oleh Lucilia adalah wajah senyuman puas Draco ketika berhasil membuatnya sadarkan diri setelah pingsan karena di serang oleh Selene secara diam-diam.
Seluruh pakaian Lucilia berlumuran darah dari orang yang dicintainya itu, selama berjam-jam Lucilia hanya duduk di tengah hutan sendirian sambil menangis dari siang hingga ke pagi.
Ketika tangisannya mulai berhenti dan matanya mulai agak membengkak karena terlalu banyak menangis, rasa sakit yang terukir dihati Lucilia membuatnya tetap tegar. Dia pun mengubur jasad Draco—orang yang paling dia cintai—dengan kedua tangannya sendiri di tengah hutan.
Sebelum mengubur jasad Draco dengan tanah, Lucilia memberikan ciuman dan senyuman terakhir untuk Draco dan berjanji akan membalaskan dendam kepada orang yang melakukan ini. “Draco, istirahatlah dengan tenang di sana, dan biarkan aku membalaskan dendammu itu!” seru wanita itu dengan tekad yang membara sebelum menutup kubur Draco dengan tanah.
Jauh di balik pepohonan, Lars dan Selene memandangi Lucilia yang sedang menggali kubur untuk Draco. Air mata bercucuran deras dari mata Lars karena merasa sedih harus kehilangan sosok sahabat seperti Draco. Namun Lars berusaha tetap fokus dengan rencana balas dendamnya ketika melihat mata Selene yang sedang memeluknya di sampingnya.
Dia teringat kalau balas dendamnya bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kekasihnya, dan juga semua orang yang pernah mendapatkan ketidakadilan dari para bangsawan kelas atas. Agar tidak ada yang mengganggu rencananya lagi, Lars dan Selene kembali ke Akademi Ahrion dan menyebarkan rumor bahwa Lucilia membunuh Draco di hutan akademi.
Rumor tersebut langsung tersebar dengan sangat cepat. Ketika Lucilia kembali sendirian dengan pakaian berlumuran dengan darah milik Draco, hampir semua orang tua murid dari keluarga bangsawan sudah menyiapkan bawahan mereka untuk menyergap dan menangkap Lucilia.
“Lucilia Van Holser! Anda akan ditangkap atas tuduhan pembunuhan mantan pahlawan kerajaan Engrasia, Draco D. Dulgarso!” seru salah seorang prajurit bawahan dari salah satu keluarga bangsawan.