
“Itu memang tidak salah, sih, Nak. Yah, intinya kalau kau butuh uang lagi minta saja ke Ayah, okay?” jawab Ayah berusaha mencari topik yang lain untuk mempercerah suasana.
Tiba-tiba ada seruan lain, "Minggir! Keluarga bangsawan Trevils akan lewat!"
“Minggir kalian, dasar rakyat jelata!” seru Trevils‘s royal guard sambil mengayunkan tombaknya untuk membersihkan jalan, diikuti di belakangnya oleh sang kepala keluarga itu sendiri Quintus vex Trevils dari usianya berada di sekitar umur 39 tahun.
Pria berambut pirang, memiliki wajah tampan namun sayangnya, hatinya sangat jelek menurut Leon. Leon mengambil pemikiran demikian karena dia benar-benar tidak memikirkan rakyat biasa seperti itu.
“Minggir rakyat jelata! Jangan berani menyentuh pakaian istriku dengan tangan kotor menjijikan itu!" seru Quintus membentak salah seorang anak yang tidak sengaja menyentuh gaun milik istrinya—Emma Trevils.
“Ayah, biarkan saja sudah, jangan membuat kegaduhan di pintu masuk.” Seorang laki-laki menegur ayahnya sendiri, usianya masih muda, terlihat dari wajah dan penampakan fisik anak itu.
“Diam, Zod! Kau itu masih muda, masih belum tahu letak salahnya. Kita keluarga bangsawan, memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan anjing-anjing ini!" seru Quintus kemudian ia melanjutkan, “Jika anjing mencoba menggigit majikannya, sudah sepantasnya anjing itu dihukum atau bahkan lebih baik dibunuh!"
Si bodoh itu, apa dia benar-benar tidak punya tata krama dan hati nurani? Apa jangan jangan, semua keluarga bangsawan seperti ini? Tidak, aku merasa Ayah jauh lebih baik dari ini, begitu pula dengan Ibu dan Kakak, batin Leon mencibir dalam hati.
Tanpa berpikir panjang, ia menyenggol ayah dan memberi kode untuk membantu menyelesaikan keributan yang dibuat oleh keluarga bangsawan Trevils itu.
“Sepertinya kau punya hari yang berat, ya, Quintus Trevils, Baron dari Tovarre," seru Ayah dengan lantang sambil mengulurkan tangannya untuk menyapa dan melambaikan tangan.
“Dan kau siapa, kutu kupret?” Quintus membalas dan meludahi tangan ayah, terlihat dan terasa bagi Leon bahwa ayahnya sudah menahan amarahnya—hingga urat kepalanya muncul—berusaha bersikap tenang.
Ia benar-benar kasar, coba saja jika Ayahku tak dapat menahan amarahnya, ia pasti sudah diurus olehnya, batin Leon dalam hatinya seraya menggelengkan kepalanya.
Lalu dari belakang keluarga Trevils, muncul rombongan keluarga bangsawan lagi dengan pakaian mewah yang serba hitam dan elegan. Perlu Leon akui, gadis-gadis di belakangnya juga sangat anggun dan menawan dengan mata mereka yang berwarna merah, rambut panjang berwarna hitam, serta kulit putih.
Ya, tidak salah lagi, mereka adalah keluarga bangsawan teman ayah Leon. Lebih tepatnya, mereka adalah keluarga Ibu dulu sebelum Ibu menikah dengan ayah dan mengambil nama keluarganya.
Mereka adalah keluarga Grimsbane, kepala keluarganya bernama Zen Grimsbane atau bisa Leon panggil, paman Zen. Hal itu karena paman Zen adalah adik dari Ibu, merekai cukup akrab—karena paman itu ahli dalam sihir api dan angin. Leon belajar banyak darinya tentang beberapa hal.
Banyak sekali keluarga bangsawan yang melemparkan perumpamaan red carpet di hari itu, mereka semua selalu memiliki sifat sombong kecuali untuk beberapa keluarga lainnya dan termasuk keluarga Leon yang berpendidikan dan memiliki belas kasihan kepada rakyat-rakyat yang lemah.