Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 31



“Bunuh mereka berdua!” titah Doromir Croix. Semua bawahannya mulai bergerak mengepung seluruh sisi arena.


“Yah, Ini sepertinya tidak akan mudah, bukan begitu, Draco?” cibir Lars Dunmark.


“Ini akan mudah! Santailah sedikit," sahut Draco D.


Beberapa orang mulai menyerang mengincar Lars Dunmark namun keahlian teknik pedang mereka masih terlalu jauh untuk menyamainya dan hanya berujung kematian yang sia-sia.


“Sudah cukup, Domain King Of Dragons Bahamut!" seru Draco D menggunakan teknik domainnya yang seketika mengubah semua orang yang ingin menyerangnya menjadi tidak bisa bergerak dan terbakar tanpa bisa melawan sedikit pun.


“Wah, bukankah Domainmu terlalu kejam, kawan?" ujar Lars.


“Yah kalau begitu tidak ada salahnya jika aku menggunakan Skill Domain milikku, bukan?" 


Domainnya yang berwarna biru memberikan efek akan menjebak musuhnya ke dalam Ilusi abadi yang tidak akan pernah bisa dilepas dan perlahan melahap jiwa dari orang yang berniat menyerang penggunanya.


“Argh!"


“Tidak! Jangan!” 


"Ah!”


Semua jeritan dari orang-orang yang ingin menyerang terdengar dan bahkan sampai membuat para penonton menjadi takut.


“Wah, sudah tidak ada lagi bawahanmu. Apa kau mau maju dan menyerang sekarang?” tanya Draco D. dengan senyuman bahagia dan tatapan yang menantang Doromir Croix untuk maju menghadapi dirinya.


“Beraninya kau! Rasakan sayatan pedang milikku ini! The Sword style ‘Bear Strike’!"


“Hm ... akan kuhadapi tentunya."


BOOM!


Ledakan terjadi karena dua kekuatan besar yang dialirkan dengan pedang saling bertabrakan.


“B-bagaimana bisa?” Doromir Croix tertegun menatap begitu dahsyatnya kekuatan itu.


“Yah mudah saja. Kalian bangsawan tidak pernah turun langsung ke medan peran, bukan? Sedangkan kami sudah sering berperang khusus untuk diriku ini, aku sudah melewati banyak pertempuran bahkan dalam perang dunia ketiga dan empat sudah kulewati,” sahur Draco D.


“Diamlah kau, Pak tua yang awet muda!” hina Draco D.


“Sampai sini saja percakapan kita!” 


Kemudian menyerang Doromir Croix dengan menusuk pedang besarnya di kepala sampai terbelah menjadi dua bagian.


“Cih ... terlalu mudah!” ujarnya meremehkan, “Apa yang kalian lihat, hah? Pergilah anak-anak!”


Semua penonton membubarkan diri dari arena. Tetapi sebelum pergi, kepala academy menggunakan sihir Goddess Lethe ‘ Oblivion’ yang membuat semua penonton di arena hari itu melupakan semua kejadian yang terjadi kecuali kejadian ketika pertarungan antara Ray dan Alfonso.


Di markas Party Dragonite.


“Kawan apa kau tidak apa?" tanya Budi ketika melihat Leon masuk ke ruangan.


“Leon! Kau tidak apa, bukan?" Isabella memeluk Leon lalu melihat semua bagian tubuhnya untuk mencari tahu jika dirinya terluka.


“Hei! Sudahlah, aku baik-baik saja," sahut Leon berusaha menenangkan kedua temannya. “Bagaimana dengan Ray? Apa dia sudah bangun?”


“Leon, luka yang dialami oleh Ray terlalu dalam," jawab Budi. Kemudian ia menanyakan apa maksud dari omongannya.


“Maksudnya Budi adalah butuh waktu agak lama untuk Ray pulih sepenuhnya,” jawab Isabella kepada pertanyaan Leon kemudian memeluknya untuk menenangkan diri anak itu.


“Uhm, maaf jika aku mengganggu waktu berdua kalian, tapi Ray rasanya sudah bangun.” Prisciliana datang, kemudian mereka berempat bergegas menemui Ray. Hampir semua anggota Party Dragonite berada di ruangan itu untuk menjenguk sehingga ruangan yang awalnya luas terasa menjadi begitu sempit.


“Boss ... apakah itu kau?” tanya Ray dengan suara yang agak lemah.


“Hei kawan, kau baik baik saja?” cemas Budi. 


“Hei Budi, apa kau, uhuk, pikir tertusuk pedang itu baik baik saja?” sahut Ray kesal. Kemudian mereka semua tertawa dan mengobrol mengenai apa yang terjadi setelah Ray dibawa oleh petugas medis.


“Jadi … boss benar-benar mengalahkan Alfonso?" tanya Ray tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Iya, bahkan aku hampir membunuhnya tadi."