Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 23



“Baiklah, semuanya sudah menjadi saksi, kan, kalau kami menjadi korban!” seru Leon saat itu. Semuanya hening, tak ada yang berbicara, tapi ada satu dua orang yang mengiyakannya. Seperti yang Leon rencanakan, dengan begini tidak masalah untuk membunuhnya.


“Pak Tua, maaf saja ya,” imbuhnya lalu berusaha memberikan kesempatan kedua untuk hidup. “Pergilah Pak Tua atau kau akan mati!” 


"Jika aku pergi, aku akan menyesali ini, anak muda sialan!” sahut pak tua itu berseru.


Hati Leon tersenyum mendengar jawabannya, karena dengan ini ia tidak akan menyesal membunuhnya.


“Baiklah jika itu jawabanmu, Pak Tua."


Pak tua itu dengan cepat menyerang ke arah Leon, beberapa siswa-siswi akademi pergi untuk melaporkan kepada para guru, ada juga yang tetap menonton dan malah bersorak.


“Matilah, nak!” geram pak tua itu.


“Maaf saja!” Leon menggunakan kedua daggernya dan menyerang dengan teknik kombinasi Ghost Movement dan Sword of Ghost. Kombinasi itu mampu membuat pak tua itu terluka parah.


Namun yang tidak ia antisipasi adalah Gerry dan kawan-kawannya, mereka memanggil bawahannya yang lain dengan jumlah semuanya adalah sembilan orang. Mereka dua kali lebih kuat dari Dou Ancestor lapisan puncak.


“Hahaha, kau akan mati, Leon!” Gerry tertawa, seketika kesembilan orang itu menyerbu ke arah Leon.


“Boss tunggu, biarkan aku membantu!” Ray berseru cemas, berusaha bangun dan mengambil pedang besarnya.


“Matilah kau bocah!” Salah seorang dari sembilan orang itu menyerang. "Kurasa tidak juga,  ‘Nightmares!’" sahut Leon seraya mengeluarkan mantra yang seketika membuat mereka semua terjatuh dan mengerang tidak jelas seperti orang yang kesakitan karena di siksa.


“A-apa yang terjadi?!” seru Gerry mulai merasa ketakutan. 


“Ah! Mati kau bocah!” salah seorang dari mereka terlepas dari ilusi dengan menggigit lidah nya sampai putus.


“Menyerahlah!” seru Leon memperingati mereka tanpa menghentikan kekuatannya.


“Sekarang giliranku, Death’s Spell!” seru Leon. Seketika sembilan orang itu menjerit kesakitan, kulit mereka hangus dan berubah menjadi debu. Begitu pula organ dalam mereka yang mulai terlihat dan perlahan hangus, hanya menyisakan sedikit tulang-tulang.


“M-mustahil! Pembunuh! Dia pembunuh! Siapa pun, tangkap dia!” Gerry ketakutan dan berlari ke sekeliling. Tiba-tiba saja suara yang familiar terdengar berkata, ”Gerry Oswald! Kau akan mendapat hukuman atas percobaan pembunuhan kepada dua siswa Akademi Ahrion!” 


“Hei guru, ini aku guru!” Leon melambaikan tangan ke arah gurunya, Draco D.


“Hei, Nak. Apa yang kau lakukan di sini sampai menyebabkan hal ini?" tanya Draco D. Leon menjawab semua pertanyaan gurunya itu dengan sangat rinci.


“Bajingan sialan! Seharusnya aku membunuhnya saja langsung!" sahut Draco D dengan ekspresi marah setelah Leon memberi tahu apa yang Gerry lakukan padanya.


“Bawalah temanmu dan ikut aku, Nak!” pinta Draco D.


Guru membawa mereka berdua berjalan kemudian memasuki sebuah gedung besar seperti istana, bertuliskan didepannya 'Party Dragonite'.


“Di sini tempat kita, Nak," ujar Draco D. “Wah hebat sekali, boss! Tempat ini sangat besar!” kagum Ray.


“Hey, Nak. Siapa dia? Aku tidak mengingat bahwa mengangkatnya dan mengajak masuk ke Party Dragonite” tanya Draco D. kepada Leon.


“Ah, dia itu temanku, Guru. Tolong izinkanlah dia untuk bergabung dengan Party Dragonite." Leon mencoba memohon kepada gurunya.


“Yah … terserah kau saja, Nak. Ini, berikan jaket ini kepadanya," sahut Draco D lalu memberikan sebuah jaket. 


“Terima kasih, Guru!” Leon memberikan jaket itu kepada Ray sebagai tanda bergabungnya dia ke Party Dragonite.


“Isabella! Kemarilah dan temui dua anggota baru kita!” seru Draco D kepasa sosok perempuan.