Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 84



Leon hanya menatap Boreas dengan tatapan dingin yang menusuk lalu berjalan mendekat dan menepuk pundaknya sebagai tanda kalau dia bisa berdiri sekarang dan mengikutinya.


"Berdirilah," pinta pria itu seraya meninggalkannya jalan duluan.


“Lord, bisakah aku mengetahui namamu?” tanya Boreas sambil membuntuti Leon dibelakangnya seperti anjing penjaga.


“Leon," jawabnya singkat sambil terus berjalan tanpa menengok sedikitpun ke arah Boreas.


“Sudah kuduga, nama Lord pasti melambangkan seorang Warrior sejati! Aku akan terus mengikuti Lord sampai kapan pun," sahut Boreas dengan semangat dan terus memuji-muji nama Leon sepanjang jalan namun tidak begitu dipedulikan olehnya.


Setelah Leon dan Boreas berjalan begitu lama, mereka akhirnya keluar dari hutan. Leon segera pergi menuju ke tempat Guild Venom berada. 


Sesampainya di sana, Leon benar-benar menarik perhatian orang karena membawa Orc masuk ke dalam bersamanya. Namun ia tidak memperdulikannya dan hanya menatap dingin kepada orang-orang yang melihatnya.


“Leon dari mana saja kau? Dan itu di belakangmu ada seorang Orc!” pekik Jenny dengan tegas kepada Leon sambil menunjuk kepada Boreas yang berdiri tepat di belakang Leon.


“Kau, berani-beraninya kau memarahi Lord!” seru Boreas dengan marah dan wajahnya yang kesal kepada Jenny.


“Memangnya kenapa kalau aku menyapanya seperti ini? Leon itu temanku juga," sahut  Jenny menimpali kata-kata Boreas dengan nada sedikit kesal.


Boreas sangat ingin memukul Jenny namun Leon menahannya untuk tidak melakukan hal itu dan memerintahkan Boreas untuk pergi lebih dulu dan menunggunya. Leon mendatangi Jenny. “Jadi kapan kita akan pergi menuju gunung Hashnorth?” tanya pria itu kepada Jenny dan membuat wanita itu menjadi tidak fokus dengan perkataan Leon sebelumnya.


“M-maaf, bisakah kau mengulanginya kembali?” pinta Jenny yang masih terpana melihat wajah Leon yang sedang serius dan tampak sangat berkharisma.


“Jadi, kapan kita akan pergi menuju gunung Hashnorth?” tanya Leon kembali kepada Jenny namun kali ini menggunakan telepati.


Leon pun membuka kertas tersebut dan membacanya dengan seksama kemudian mengembalikan kertasnya kepada Jenny lalu berkata, “Kumpulkan anggota tim kita, kita perlu memikirkan rencana dan berlatih.” 


Jenny mengangguk. Leon pun berjalan pergi meninggalkannya yang masih terpesona dengan sisinya yang seperti ini.


Astaga, apa yang terjadi dengannya, ya? Dia terlihat lebih dingin tapi gagah dan tetap tampan, pikir Jenny dalam batinnya. Wajahnya bersemu merah, tersipu malu, dan mengingat wajah Leon yang tepat berada di depan matanya.


Membuang bayang-bayang pikirannya, Jenny pun bergegas pergi memanggil anggota grupnya yang lain.


...πππ...


Leon berjalan menuju ke arah Boreas yang sedang duduk dan bersandar di pojokan, menunggu tuannya tepat seperti apa yang Leon perintahkan kepadanya.


“Lord! Bagaimana percakapanmu dengan wanita itu?” tanya Boreas yang sedikit terkejut dan langsung berdiri ketika melihat Leon sudah berdiri di depannya dan menatap ke arahnya.


“Bukan urusanmu," jawab Leon dengan singkat dan tegas.


Pria itu pun berjalan pergi dan diikuti oleh Boreas yang sedih di belakangnya. Leon yang tak pandai bergaul itu memasuki ruangan miliknya dan mengambil beberapa makanan yang dia simpan.


Ia memberikannya kepada Boreas kemudian memerintahkan Boreas untuk duduk dan memakannya sambil menunggunya.


“Lord sungguh orang yang baik! Kebaikanmu akan selalu kuingat, Lordku," puji Boreas dengan terharu ketika diberikan makanan oleh Leon yang merupakan tuannya. Pria itu hanya tersenyum kecil melihat tingkah Boreas dan tidak menanggapi dengan kata-kata.