
Satu Tahun Kemudian.
Leron terlahir kembali di dunia aneh di mana banyak orang memiliki kekuatan super diluar akal manusia biasa. Mereka menyebutnya sebagai kultivasi berdasarkan apa yang ia ketahui—dongeng yang biasa dikatakan ibu.
Di dunia ini, ada dua aliran terbesar, 'Swordsman’ dan juga ‘Sorcerer’, tiap aliran memiliki cabangnya masing-masing. Leron terlahir di keluarga bangsawan ‘Silvestre’ dengan status sebagai seorang Marquess.
Keluarganya terkenal sebagai ahli pedang terhebat sepanjang sejarah. Yah setidaknya itu yang dikatakan Ibunya setiap bercerita. Dimulai dari kisah kakek buyutnya sang ahli pedang pertama—Kyle Silvestre—yang mampu melawan 10.000 orang sendirian.
Yang paling mengagumkan dari semua kisah yang Leon dengar dari ibunya adalah kisah tentang kakek dan ayah duo petarung pedang terkenal dengan julukan “Lunar Tiger dan Stellar Dragon".
Kakek Leon yang paling terkenal di sepanjang sejarah dunia ini, dia orang pertama yang menciptakan ‘aura pedang’ dan teknik tebasan yang mampu membelah dimensi. Jika tidak salah, sebutannya adalah “Golpear Desligar”, teknik yang mampu membelah apapun bahkan ruang dan waktu.
Sungguh itu merupakan teknik yang ….
“Sayang! Mana putra kecilku?!! Ibu merindukanmu!” seru Seline. Ia menghampiri putranya. "Putra ibu sudah besar sekarang ya? Kau pasti lapar, ya, sayang?" lanjutnya.
Seline menggendong putranya itu dalam pelukannya, membawanya menuju ke meja makan. Di sana, wanita itu telah membuat susu untuknya.
Oh astaga, butuh waktu berapa lama sampai aku bisa lepas dan belajar teknik pedang atau sihir?! batin Leon sudah pasrah dan putus harapan.
Tiba tiba ada hentakan kaki yang keras dan bergerak cepat menuju ke kamar Leon.
Dia adalah kakak perempuanku. Namanya ‘Laura De Silvestre’, panggilannya Laura, batin Leon sudah mengetahui hal itu sebelum Laura mengatakan namanya sekalipun. Ajaib sekali bagi seorang bayi kecil sepertinya jika mengatakan nama kakaknya itu sendiri meski dirinya masih belum dapat berbicara.
“Shhttt, diam, Laura. Pergi sana, jangan ganggu adikmu dulu,” tegur Seline pada putrinya dengan nada yang tegas dan gestur yang menyuruh Laura keluar dari kamar Leon. Yah, paling tidak ketenangan kembali ke kamar ini.
Waktu terus berlalu, tak terasa tubuh Leon menginjak dua tahun. Namun ia tidak kunjung mendapatkan perubahan yang signifikan sama sekali.
Kehidupan Leon saat ini membuatnya jenuh karena tubuh kecilnya, ia tidak bisa melakukan banyak hal selain bermain, merangkak, makan, tidur, dan buang air saja.
Sampai Leon berusia tiga tahun, ia mulai bisa melakukan banyak hal; seperti berjalan, berlari, dan berbicara sedikit kosakata yang sering ia dengarkan
Leon dijuluki sebagai 'anak jenius' dalam keluarga bangsawan karena bisa melakukan semua hal itu, itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri baginya.
Suatu ketika, Leon beranjak semakin dewasa. Kini ia berusia 7 tahun, anak itu menemukan sebuah buku di perpustakaan rumah. Buku itu sudah lama dan berdebu, entah bagaimana masih terlihat kokoh dan rapi tanpa sobekan
Ketika ia membuka buku itu, ini pertama kalinya Leon menyadari bahwa matanya memiliki kemampuan spesial. Kemampuan itu disebut sebagai ‘Analisis’. Di kedua sorot matanya, buku itu mengeluarkan sebuah deskripsi aneh yang tak nyambung jika dibaca oleh sosok anak berumur tujuh tahun sepertinya.
Tapi dunia tahu, bahwa anak itu hanya berumur tujuh tahun, namun jiwanya sudah bukan merupakan seorang anak berusia muda itu lagi.