Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 3



“Apa itu yang engkau bawa nona?” tanya Leron dengan penasaran namun tetap tidak berani melihat wajahnya yang cantik itu.


“Kau terlihat ketakutan, roh kecil! Jangan khawatir, aku tidak akan memakanmu, mungkin hanya mencicipimu sedikit.” Dewi itu menjawab sambil menggodanya dengan mencium pipi yang seketika membuat Leron merasa sangat malu. 


“Ini adalah sebuah kontrak, kau bisa kembali hidup jika kau mau menerima salah satu dari kontrak ini. Namun, perlu kau ingat, pilihlah dengan sangat hati-hati atau kau mungkin akan menyesalinya!” Enid melemparkan tujuh buah kontrak itu, ajaibnya kertas itu tidak jatuh ke tanah melainkan melayang seperti burung tanpa sayap. 


Setiap kontrak memiliki isi yang berbeda-beda dan keuntungan yang berbeda-beda;


Kontrak 1


- Terlahir dari keluarga bangsawan sekelas Viscount.


- Memiliki banyak harta


- Memiliki ratusan Istri dan selir


- Mendapat kota besar yang sangat maju


- Tampang yang rupawan 


- Dibenci oleh para pria


- Tidak mampu bertarung


- Tidak mampu berkuda


Apa-apaan ini, kontrak 1 sangat menjijikan! Aku tidak akan memilih itu! batin Leron dalam benaknya.


Kontrak 2


- Terlahir di keluarga miskin.


- Dibuang oleh orang tua


- Dihina dan dicaci maki oleh masyarakat


- Tidak punya uang


- Ahli dalam memanah


- Mampu membunuh ratusan musuh dan dikenal sebagai pahlawan


- Mati dikhianati oleh teman sendiri


- Tidak memiliki pasangan


Semua kontraknya memang aneh seperti ini ya? Lebih baik kubaca cepat saja dibandingkan membuang waktu.


Kontrak 3


Terlahir untuk menjadi tukang roti kaya raya.


Kontrak 4


Terlahir menjadi raja Beastman (setengah Harimau dan setengah Manusia) 


Kontrak 5


Terlahir menjadi Putri kerajaan Elf yang ahli dalam berpedang.


Kontrak 6


Terlahir sebagai manusia paling beruntung yang ahli dalam strategi dan berpedang yang kemudian akan naik menjadi Demigod.


“Kontrak keenam, terdengar menarik,” jawab Leron senang setelah melihat kontrak itu.


Kontrak 7


- Terlahir dari keluarga bangsawan dan memiliki gelar Marquess


- Memiliki sosok Ibu yang paling cantik di negara itu


- Memiliki sosok ayah yang tampan dan bijaksana


- Memiliki sosok kakak yang mempesona


- Keluarga yang ahli dalam strategi dan berpedang


- Menjadi jenius dalam hal taktik dan strategi perang


- Ahli dalam berpedang dan juga sihir


- Memiliki mata unik yang memiliki skill Analisis


- Terlahir di keluarga yang sangat membenci sihir


Setelah membaca kontrak terakhir, Leron dibuatnya merinding, semuanya bagus sampai di akhir ada poin bertuliskan "keluarga yang membenci sihir”. 


Bagaimana bisa pria itu menjadi seorang Warlock hebat jika harus menyembunyikan kekuatan? Akhirnya pria itu memutuskan untuk memilih kontrak yang keenam.


“Nona Enid yang terhormat, sudah kuputuskan dengan sangat hati-hati, aku memilih kontrak yang keenam!” seru Leron memutuskan dengan lantang dan mengulurkan tangannya untuk membuat kesepakatan dengannya. 


“Baiklah, akan kuhormati keputusan mu itu!" seru Enid. “Dengan ini, aku, Enid goddess of spirit memberikan kontrak ketujuh kepada roh dihadapanku”


“Eh? Mengapa jadi yang ketujuh?!" seru Leron panik mendengarnya.


“Semoga hidupmu yang baru lebih baik wahai, roh kecil.” Dewi itu menatap Leron sambil tersenyum lalu menjabat tangannya. Seketika roh pria itu terjatuh, semua berubah perlahan menjadi gelap.


...πππ...


Sementara itu di belahan dunia lain.


"Sudah kulakukan sesuai permintaanmu, Saudaraku!" Enid berseru kepada sosok dewa berwujud manusia dengan tubuh tinggi dan berambut panjang, memiliki mata berwarna emas.


"Bagus, dengan begini pion-pion untuk perang besar yang akan datang sudah siap!" Dewa itu membalas kata-kata dari Dewi Enid.


"Alasan aku melarangmu memberikan Opsi lain yang lebih bagus untuknya adalah karena, dalam perang siapapun bisa menjadi musuhmu! Bahkan pion-pion yang kau miliki bisa berbalik menyerangmu!"


"Selama manusia kecil itu tidak menjadi seorang 'demigod', tidak mungkin untuknya melawan perintah kita para Dewa dan Dewi."


Malam itu, di dunia para dewa dan dewi terdapat seseorang yang menguping pembicaraan mereka. Sebenarnya ada pihak luar yang mendengar perkataan mereka dan tertarik untuk membantu Roh yang bereinkarnasi tadi—Kolonel Leron—untuk bisa melawan para Dewa dan Dewi.


"Menarik sekali, dia yang ditakdirkan untuk menjadi penyihir terkuat sepanjang masa tapi harus terbelenggu menjadi pion para dewa dan dewi untuk perang nantinya."  Sosok itu bertutur kata ketika melihat ke bola crystal yang mampu melihat takdir seseorang.


"Hahaha ... Dewa dan Dewi konyol! Mereka sudah mulai melupakan kedudukan mereka sebagai makhluk ciptaan. Sudah saatnya membuat mereka semua sadar akan kedudukan mereka, mari kita lihat manusia apakah kau cocok memegang kekuatan yang kumiliki! Kekuasaan atas kematian itu sendiri!"  


Pada malam itu juga, dunia dewa dan dewi digemparkan panik karena sosok Primordial terkuat yang mereka pikir sudah musnah, namun muncul dan terlihat pergerakannya.


Pemimpin para dewa dan dewi mengadakan pertemuan untuk membahas masalah tersebut. Pertemuan itu dihadiri oleh semua dewa dan dewi yang ada di sana.


Ketika pertemuan berlangsung, terjadi keributan di antara para dewa dan dewi mengenai apa yang terjadi saat ini.


"Kita tidak bisa membiarkan para Primordial Angel bergerak kembali!" 


"Bukankah kalian para dewa sudah mengatasi para Primordial Angel di masa lampau? Aku ingat sekali kalian berhasil membawa salah satu dari mereka kesini lalu merobek sayapnya." 


"Diam! Yang kau katakan itu benar dan sayap itu sekarang menjadi senjata dan perisaiku ini. Namun, itu semua tidak ada hubungannya dengan masalah yang kita hadapi saat ini!" Raja para dewa berseru hingga membuat semua dewa dan dewi yang berbicara terdiam.


"Bagaimana pun caranya, kita tidak boleh membiarkan para Primordial Angel bergerak dan membantu manusia!" lanjutnya.


"Izinkan aku untuk berbicara, Tuanku." 


Seorang Dewa dengan pakaian serba hitam dan aura hitam yang menyelimutinya kemanapun dia pergi dengan rambutnya yang panjang dan menyala seperti api yang berkobar datang. Ia berdiri lalu berkata, "Bagaimana kalau kita juga memberi manusia bantuan?"


"Apa kau sudah gila?!" Semua Dewa dan Dewi di sana terkejut mendengar usulannya kecuali Dewi Enid yang hanya diam saja tanpa bereaksi apa pun. 


"Yang Ingin kukatakan, kita memberi bantuan kepada manusia jika dia membantu kita." Dewa itu melanjutkan kata-katanya yang belum selesai diutarakan.


Dia bermaksud agar menggunakan manusia untuk membunuh manusia lain dengan imbalan, akan dikabulkan segala keinginan yang diinginkan oleh manusia yang membantu jalannya rencana ini.


"Manusia itu makhluk yang serakah, Tuanku. Bahkan, hanya dengan sedikit bujukan soal harta saja bisa membuat mereka mengorbankan segalanya yang mereka miliki," lanjut Dewa itu hingga membuat Raja para dewa terlihat mulai setuju dan tertarik dengan ide tersebut.


"Bukankah jika kita melakukan ini, semua manusia pasti melakukannya? Beberapa manusia bahkan rela menjual jiwa mereka kepada para Iblis untuk mendapatkan keinginan mereka."


"Tapi, jika mereka membantu kita, kita tidak akan meminta jiwa mereka sebagai jaminan, bukan?" Dewa itu berhasil meyakinkan semua dewa dan dewi kalau manusia pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya terlebih atas nama dewa dan dewi.


"Bagus, bagus, kau yang akan memimpin ini semua agar Primordial Angel tidak ada lagi." Keputusan Raja dewa dan dewi telah bulat.


Baru saja hendak bertepuk tangan, Dewa itu menghentikan aksi mereka.


"Aku memiliki syarat, Tuanku," imbuhnya lagi.


Raja Dewa itu mengerutkan dahinya, "Apa Syaratmu?"


"Setelah ini semua selesai, dunia para Dewa dan Dewi akan dipimpin oleh diriku," jawabnya dengan percaya diri. "Memusnahkan para Primordial Angel yang sudah terjatuh bukanlah persoalan yang mudah, bahkan aku yakin itu juga akan sulit untukmu, bukan?"


Seketika semua Dewa dan Dewi bangun dari tempat duduk mereka, hendak berusaha menyerang ke arah Dewa tersebut namun ditahan oleh raja mereka.


"Baiklah, jika kau berhasil, tahta ini akan ku berikan kepadamu!" seru raja para dewa pada dewa itu dengan lantang. Pertemuan pun diakhiri sampai di situ.