Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 89



Mark tersenyum sedikit sebelum mengatakan, “Memangnya dia siapa bisa melawanku?”


Keempat dari mereka pun sampai di desa terdekat tepat ketika siang hari. Semua warga desa itu menyambut baik mereka karena kondisi desa di sana sendiri cukup kekurangan prajurit untuk melindungi dari serangan musuh.


“Selamat datang …."


El dan Jenny dengan cepat langsung akrab berbicara dengan beberapa warga desa tersebut, sedangkan Enma masih sibuk di kereta kuda untuk menurunkan barang agar Mark bisa menggunakan kuda tersebut dan bergerak menuju tempat Baltasar berada.


Setelah Enma menurunkan barang-barang dari kereta kuda, Mark meminta izin Jenny untuk pergi menuju ke daerah Clan Frost Wolf berada. Jenny pun mengangguk sebagai tanda setuju terhadap permintaan Mark.


“Terima kasih untuk anda semua karena sudah mau datang menolong desa kami ini," tutur Kepala desa tersebut.


Kepala desa itu memiliki perawakan seperti seorang pria di usia 50 tahun dengan tubuh yang cukup besar dan kekar, pakaiannya berwarna biru dengan sepasang sepatu usang terbuat dari kulit yang melindungi kakinya. Di punggungnya terdapat sebuah pedang besar berukuran 120 cm dengan lebar pedang 45 cm.


“Apakah benar kalau di desa ini sering terjadi pertarungan dengan para Orc, Tuan?” tanya Jenny kepada kepala desa tersebut. Ketika mendengar kata Orc, raut wajah kepala desa tersebut berubah menjadi kesal.


“Iya, itu benar," jawab sang kepala desa. Kepala desa itu pun menceritakan kejadian secara detail kepada Jenny,Enma dan El.


Setiap malam hari para Orc selalu datang ke desa mereka yang pada mulanya hanya menjarah makanan atau harta lama kelamaan mulai terjadi pertumpahan darah.


Para Orc yang menyerang selalu dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok pengintai, kelompok pemburu, dan kelompok pemusnah yang terdiri dari banyak warrior High Orc bertubuh besar yang akan menyerang dan membunuh warga desa tanpa pandang bulu.


Jenny yang mendengarkan hal tersebut sontak terkejut karena tidak pernah terbayangkan olehnya akan separah itu.


Para Orc itu membunuh semua anak kecil, pria, dan juga wanita yang tidak bersalah. Tapi tidak jarang juga bagi wanita yang ditangkap oleh para orc akan dibawa pergi oleh mereka menuju ke tempat clan mereka masing-masing, dan tidak ada yang tahu bagaimana nasib mereka sekarang.


“Sekitar 800 orang, nak. 650 meninggal, 50 cacat, dan 100 wanita lagi tidak tahu apakah mereka masih hidup atau mati,” jawab sang kepala desa.


Jenny memutarbalikkan bola matanya. “Apakah mungkin kalian bisa berdamai dengan para orc?” tanya gadis itu bingung dan gusar.


Kepala desa dan semua warga di sekitarnya serentak berkata tidak mungkin, namun bisa saja jika pemimpin para orc tersebut sudah tiada.


“Bagaimana jika kami bisa mengalahkan pemimpin orc itu? Apakah kalian mau berdamai?” tanya Enma meyakinkan mereka. Semua warga desa tertawa ketika mendengar perkataan gadis itu, begitu pula dengan sang kepala desa.


"Mengapa kalian semua menertawakanku?" Raut wajah Enma berubah menjadi kusut. Kepala desa memajukan langkahnya menghampiri gadis itu.


“Bukannya kami tidak percaya, nak. Namun mengalahkan makhluk itu sama seperti berusaha membelah gunung ini menjadi tiga!”


Jenny hanya tersenyum mendengar perkataan sang kepala desa karena dia cukup yakin anggota grupnya pasti bisa menyelesaikan masalah ini dan membawa perdamaian. Walau begitu, ia tetap khawatir dengan nasib Leon yang saat ini belum diketahui bagaimana keadaannya.


...πππ...


Di sisi lain hutan, di kaki gunung Hashnorth, Leon dan Roseria sedang memacu kuda mereka agar bisa mengikuti Boreas yang menjadi pemandu jalan mereka menuju clan Orc Night Lion.


“Lord, sebentar lagi kita sampai!” seru Boreas yang berada di depan Leon.


Leon mengangguk dan mempercepat gerak kudanya begitu juga dengan Roseria yang mengikuti di belakang Leon.