
“Bagaimana menurutmu, Jenny? Lancer dan Assasin sudah tepat, bukan?” tanya Leon kepada Jenny yang sedang serius menatap dua data orang tersebut.
“Aku setuju. Itu yang kita butuhkan untuk saat ini," sahut Jenny kemudian segera mengambil sebuah kertas yang berisikan kontrak untuk bergabung dengan grupnya itu.
“Baiklah, sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya El.
“El, kau dan Enma akan pergi menemui Assassin ini, sedangkan aku dan Leon akan pergi menemui Lancer kita ini,” jawab Jenny kemudian memberikan sebuah kertas yang berisikan lokasi dan peta kepada Enma dan El.
Mereka berdua pun segera bersiap pergi, begitupula dengan Leon dan Jenny.
“Uhm, apa kau tahu di mana lokasinya?” tanya Leon karena dia sama sekali tidak mengenali lokasi tersebut. Jenny hanya menganggukan kepala karena dia sedang sibuk bersiap.
“Kita akan pergi ke Tovarre. Menurut informasi yang kudapatkan dan kubaca, di sanalah dia tinggal atau sering terlihat," jelas Jenny kepada Leon lalu menyuruh Leon untuk mengambil sebuah kuda.
Leon pun pergi dan mengambil seekor kuda jantan besar berwarna hitam dengan rambut berwarna kecoklatan. Jenny pun ikut duduk di atas kuda tersebut sebagai seorang penumpang dengan Leon sebagai penunggangnya.
“Jadi kita ke arah mana?” tanya Leon. Ia berusaha mengontrol kudanya agar mau berjalan sedikit lambat.
“Kita akan bergerak lurus ke Utara,” jawab Jenny. Leon segera memacu kudanya untuk bergerak cepat ke arah utara. Ketika di perjalanan, Jenny pun bertanya banyak hal tentang Leon, terutama mengenai alasan mengapa dia bergabung dengan militer.
Leon pun menjawab semua pertanyaan yang diberikan dan kemudian Leon menanyakan balik kepada Jenny. “Mengapa kau bergabung dengan militer?”
“Ketika aku lulus dari academy Ahrion, aku memutuskan untuk bergabung dengan militer agar bisa mencapai impianku untuk menyatukan tiga ras besar dalam kondisi damai. Kau tahu itu bukan, Leon? Manusia, Elf, dan Orc sejauh ini tidak pernah mau saling mengerti dan selalu bertarung," jawab Jenny.
“Kau sadar bukan kalau apa yang kau impikan ini akan sulit dicapai?” Leon mengingatkan Jenny akan perkataannya dan dengan cepat dibalas kembali.
“Kalau begitu, jangan ragu meminta bantuanku kapanpun kau butuh, kapten,” sahut Leon menjawab dengan wajah optimis yang entah mengapa membuat Jenny tertawa bahagia.
“Hanya kau satu-satunya orang yang mengatakan itu setelah mendengarkan alasanku,” cetus Jenny dengan senyuman bahagia terukir di wajahnya. “Terima kasih sudah mempercayaiku, Leon.”
“Tentu saja.”
...πππ...
Tidak lama kemudian, Leon dan Jenny sampai di kota besar bernama Tovarre. Kota ini merupakan kota yang terkenal di antara para petualang ataupun tentara karena kehebatan mereka dalam membuat senjata dan baju perang dari tambang-tambang yang mereka miliki. Kota ini dikuasai oleh seorang bangsawan berstatus Baron yaitu Quintus vex Trevils yang terkenal di kota ini sebagai penguasa yang adil dan juga pelit.
“Jadi ini yang namanya Tovarre?” Leon memandangi indahnya kota yang mayoritas diisi oleh para penjual senjata.
“Kau belum pernah ke Tovarre sebelumnya?” tanya Jenny yany berjalan di sebelahnya. Leon hanya menggelengkan kepalanya mengatakan tidak.
“Memangnya kau sudah pernah kesini sebelumnya?” Balik Leon bertanya.
“Sudah beberapa kali untuk membeli senjata. Karena mereka sangat hebat dalam hal membuat senjata dan harganya cukup terjangkau," jawab Jenny seraya mengibas rambutnya.
“Benarkah? Itu terdengar menarik." Leon mulai tertarik ketika mendengar kata terjangkau.
“Nanti akan kutunjukan toko favoritku untuk membeli senjata di kota ini," urai Jenny kemudian mengarahkan Leon untuk berhenti sebentar di sebuah penginapan.
“Kita mau melakukan apa di sini?” tanya Leon. Namun Jenny tetap berjalan masuk kemudian memesan sebuah kamar.