
Mark yang juga mendengar keinginan Leon merasa terkejut dengan keinginan tersebut. Dia pun berusaha meminta Leon untuk memikirkan kembali keinginannya tersebut, Leon hanya menepuk pundak Mark dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja tidak perlu khawatir.
Mendengar jawaban Leon, Mark hanya mengangguk. Dalam hatinya mendoakan supaya tidak terjadi malapetaka besar dari keputusan ini. Baltasar mengambil sebuah cawan dan meneteskan sedikit darahnya ke dalam cawan tersebut, kemudian merapalkan sebuah mantra yang mengubah warna isi cawannya yang sebelumnya merah terang menjadi bercahaya ungu gelap.
“Bersiaplah manusia!” seru Baltasar kepada Leon.
Baltasar pun menuangkan isi dari cawan tersebut ke atas sebuah altar. Dari altar tersebut kabut ungu gelap berkumpul dan membentuk wujud Humanoid berkepala serigala dengan tongkat emas panjang di tangan kananya.
Sosok itu adalah Anubis, dari pertama kali muncul sosok itu memiliki aura kematian yang sangat kuat. Memang tidak sekuat milik Leon, namun aura kematian milik Anubis cukup kuat untuk membunuh beberapa Orc biasa.
Anubis pun berjalan turun menuruni altar tersebut dan menghampiri Baltasar yang berdiri di depannya.
“Ada apa Baltasar? Tidak seperti biasanya kau memanggilku,” tanya Anubis kepada Baltasar
Baltasar hanya terdiam dan menatap Anubis dengan wajah garangnya.
Dalam hitungan detik, Leon langsung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerang Anubis dengan menggunakan Sihir Naga [Fiery Thunder Strike]. Ribuan kilatan cahaya petir menyambar ke arah Anubis dengan membentuk wujud seperti sebuah pedang raksasa.
Blar!
Fiery Thunder Strike merupakan mantra kelas menengah dalam bahasa naga, mantra ini memiliki kekuatan penghancur yang sangat besar sampai mampu menghancurkan sebuah kota berukuran besar sekalipun seperti kota Tovarre.
Namun serangan Leon tersebut dengan mudahnya ditahan oleh Anubis tanpa terluka sedikitpun. Leon mengambil kesempatan ketika Anubis sedang teralihkan perhatiannya untuk menyelamatkan Baltasar, Mark dan Karo pergi menjauh dengan cara membelah ruang dan melemparkan mereka semua masuk ke dalamnya.
Setelah itu, Leon kembali fokus terhadap Anubis dan melakukan serangan keduanya dengan teknik beladiri—Brajamusti—miliknya.
“Manusia! Kau berani sekali menantang seorang dewa. Akan kuhabisi kau!” seru Anubis kepada Leon dengan tatapannya yang penuh amarah. Matanya bersinar berwarna merah gelap dan tatapannya berubah menjadi bengis dan haus darah, Leon membalas dengan tatapan dingin dan matanya yang bercahaya berwarna keemasan di ikuti oleh aura membunuh yang sangat kuat.
“Mari kita lihat!” seru Leon dengan tatapan mematikannya. Leon pun langsung mengambil dua buah dagger miliknya dan bersiap menyerang Anubis dengan kedua senjatanya.
Anubis menghentakkan tongkat miliknya ketika Leon bergerak menuju ke arahnya. Hentakan tongkat yang pertama berhasil menghempas Leon menjauh dari Anubis, dan hentakkan tongkat yang kedua memanggil ribuan mayat hidup berupa Orc dari bawah tanah.
Blar!
“Tyr dan Den, urus mereka untukku," titah Leon sambil berusaha tenang. Dengan cepat Tyr dan Den menjawab panggilan tuannya dan keluar dari bayangan Leon bersamaan dengan ratusan Orc bayangan lainnya.
“Kami akan mengurus para undead ini Lord," balas Tyr.
“Semoga kemenangan berpihak kepadamu Lord!” tambah Den.
Dan seketika ratusan Orc bayangan langsung menyerang ribuan undead yang dipanggil oleh Anubis. Yang tersisa sekarang hanya Anubis dan Leon. Untuk mencegah Anubis menggunakan tongkatnya lagi, Leon menggunakan teknik "Dimension Slash" untuk menyerang Anubis.
Sring!
Serangan itu berusaha ditangkis oleh Anubis dengan tongkat miliknya. Namun sayang, teknik yang digunakan oleh Leon tidak dapat ditangkis oleh apa pun karena mampu membelah ruang dan waktu untuk sepersekian menit. Tongkat tersebut hancur menjadi debu.
Ketika Anubis sibuk melihat tongkatnya yang hancur, Leon langsung menggunakan kesempatan tersebut untuk menyerang.