
Para Orc sudah mulai bersiaga dan bersiap untuk menyerang terlebih dahulu, namun Baltasar menahan mereka dan melihat ke arah Leon yang sedari tadi tidak bergerak sedikit pun.
Apa yang kau pikirkan, nak? Akankah kau membiarkan mereka menyerang kami? batin Baltasar bertanya-tanya dalam benaknya sambil terus memperhatikan Leon yang menatap dingin ke arah Niel.
Leon pun akhirnya berdiri dan berbicara, "Apa kau sudah selesai mengocehnya kepala desa?”
Leon kemudian menggunakan sedikit sihir waktu untuk menghentikan waktu di area sekitar meja dan hanya memperbolehkan Niel dan dirinya yang tidak terpengaruh.
“S–sihir waktu! Ini tidak mungkin, kau pasti iblis! Monster!” seru Niel dengan rasa panik ketika melihat semua orang tidak bergerak kecuali dirinya dan Leon.
“Kukatakan untuk terakhir kalinya, berdamailah dengan para Orc," pinta Leon dengan serius menyakinkan Niel tanpa peduli dengan reaksi dan hinaan pria itu padanya.
“Kau pikir aku bisa dengan begitu saja memaafkan mereka? Kau masih terlalu muda, nak. Usiamu belum mencapai 50 tahun seperti diriku ini," tangkas Niel dengan nada emosi dan tercampur rasa takut walau dia tidak menunjukannya.
“Pikirkanlah masa depan anak-anak! Apa kau mau sampai generasi yang mendatang kita akan terus menerus bertarung dengan para Orc?” sahut Leon berusaha meyakinkan Niel namun tidak ada satu pun argumen Leon yang diterima olehnya.
Karena merasa kesal dengan omongan Leon, Niel memutuskan untuk menyerang Leon ketika Leon sedang lengah. Ia mengambil pedang panjangnya dan menusuk tepat menuju ke arah leher Leon, namun tanpa diduga olehnya, pedang tersebut justru hancur berkeping-keping sebelum berhasil menyentuh leher Leon.
“T–tidak mungkin! Pedangku ini diberkati oleh dewi bulan Chang’e! Bagaimana bisa manusia biasa seperti kau dan aku mampu menghancurkannya?!” pekik Niel yang merasa sangat ketakutan setelah mengetahui senjata rahasianya untuk membunuh Baltasar justru hancur ketika digunakan untuk menyerang Leon.
Bruak!
Sosok yang Niel lihat pada saat itu sama sekali tidak terasa seperti manusia, sosok yang sangat besar dan kuat kekuatannya setara atau bahkan jauh lebih kuat dari dewa dewi manapun yang dia tahu, tetapi kekuatan ini bukanlah milik para dewa dan dewi atau pun Iblis.
“B–bagaimana bisa kau memiliki kekuatan semacam ini? Siapa kau?! Apakah kau apostle dari sang raja dewa?!”
Pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan Niel tidak ada yang dijawab oleh Leon. Yang hanya dilakukan oleh Leon hanyalah tersenyum kecil licik seolah menikmati melihat ekspresi Niel yang ketakutan.
Leon menanyakan apa Niel ingin mengubah keputusannya dan berdamai dengan para Orc namun jawabannya tetap sama, Niel lebih mementingkan egonya daripada bagaimana memikirkan warganya kedepannya.
Setelah bertanya sebanyak 7 kali, Leon pun memanggil Scythe of Death miliknya dan mengarahkan senjata putih tanpa wujud pasti itu ke arah leher Niel dan berkata, “Kerajaan kita tidak membutuhkan orang-orang egois seperti dirimu di kursi pemerintahan. Mundurlah karena kau sudah tidak pantas! Atau kau lebih memilih aku membunuhmu?”
Niel yang keras kepala terus mengoceh dan memaki Leon tanpa henti. "Kau! Memangnya siapa kau berani-beraninya ingin membunuh orang yang lebih tua darimu ini! Kau seharusnya mengikuti perintahku, aku ini pemimpin desa dan kau hanya seorang prajurit dari Guild!"
“Selamat tinggal," timpal Leon kemudian menebas Niel dengan sabit miliknya.
Crat!