
Sementara itu di sisi lain, di Academy.
Sudah dua tahun sejak Leon memasuki dunia Ilusi Abyss dan sekarang adalah saatnya dia untuk keluar. Isabella penasaran apa yang harus ia lakukan untuk menyambutnya.
Mungkinkah dengan memeluknya atau memberi dia hadiah? Atau mungkin sesuatu yang lebih romantis seperti sebuah …
Ah, entahlah. Aku tidak tahu harus bagaimana….
“Hey, Isabella. Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Prisciliana kepada Isabella yang sedang melamun dan menatap keluar jendela.
“Tidak ada!” Isabella segera sadar dari lamunannya dan menatap lawan bicaranya.
“Lebih baik kau kemari dan bantu kami, Isabell," teriak Prisciliana.
Budi membawa banyak barang dan Isabella segera membantunya menurunkannya.
“Memangnya ini semua untuk apa?” tanya Isabella. Ia melihat apa saja barang yang ada di sana.
“Apa kau lupa kalau hari ini Leon akan kembali dari dunia Ilusi yang dianggap sebagai hukuman nya itu?” Budi dan Prisciliana mengatakan di saat yang bersamaan.
“Iya, hari ini Boss akan kembali dan pasti membawa cerita-cerita yang menarik!” Ray datang dengan penuh semangat sambil membantu yang lainnya menyiapkan pesta selamat datang untuk Leon.
“Prisciliana, bisakah kau membantuku di sebelah sini?” seru Ray memanggil Prisciliana untuk membantunya mengambil sebuah tali di rak yang tinggi.
“Jadi apa kau benar-benar melupakan Leon? Bahkan tidak ingat tentang ini sama sekali?" tanya Budi dengan serius kepada Isabella
“Itu bukan urusanmu! Lagi pula tidak mungkin aku melupakan dia," jawab Isabella kemudian pergi dari gedung milik Party Dragonite.
Ketika Isabella berjalan, dia bertemu dengan guru pemimpin party Dragonite—Draco D.
“Guru!" Isabella menyapanya, namun raut wajah Draco sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
“Gawat, kita punya keadaan darurat!” seru Draco D kemudian menyuruh Isabella untuk masuk ke dalam dan mengumpulkan anggota Party Dragonite yang lain.
"Eh, ada apa guru?"
“Diamlah! Baik, anak-anak. Kita memiliki kabar buruk dan kabar baik," jelas Draco D berkata dan semua anggota Party Dragonite mendengarkan.
Kemudian sosok wanita cantik datang dari pintu dan menghampiri Draco D. Dia adalah Lucilia, kekasih sekaligus pemimpin dari Party Starling.
“Kita akan mulai dari kabar baik dahulu."
“Kabar baiknya adalah kami sudah tahu kemungkinan siapa dalang dari pembantaian keluarga bangsawan Silvestre. Menurut analisis kami berdua, semua petunjuk mengarah ke dua target yang dicurigai. Yang pertama adalah keluarga bangsawan Hadewell yang terkenal karena memiliki pasukan khusus yang mampu membunuh secara brutal tanpa membuat keributan. Dan yang kedua adalah Penguasa Indouressia, keluarga Raja Gizero.”
“Alasan kami menyimpulkan itu karena sebelumnya sempat terjadi konflik antara keluarga SIlvestre dengan raja penguasa Indouressia, Keluarga Gizero," jelas Draco untuk menutup perkataannya dan juga perkataan Lucillia.
“Baiklah. Kabar buruknya apa sekarang?” tanya Budi dengan lantang dan sudah tidak sabar.
“Huft ... kabar buruknya adalah, kepala Academy kita melarang untuk membuka pintu gerbang Dunia Ilusi lagi," jawab Draco D. dengan sedih. Serentak semua orang terkejut ketika mendengarnya.
“Apa?!"
“Kami berdua telah berusaha mencari tahu alasan di balik itu semua, namun Lars brengsek itu tidak mau memberi tahu.” Lucilia berkata dengan nada kesal, Draco D berusaha untuk menenangkannya
“Tidak mungkin! Guru pasti bercanda, bukan? Aku tidak mau menerima ini!” seru Isabella berkata paling keras. Air matanya mulai keluar dari poros matanya. Prisciliana dan Miyura berusaha menenangkannya, Budi dan Ray pun juga membantu.
“Kepala Academy bilang bahwa siapapun yang berani membuka pintu itu akan dihukum dengan hukuman yang sama beratnya dengan yang akan diterima oleh Leon," tegas Draco D.
“Kalau begitu, biarkan aku yang membukanya Guru! Aku tidak keberatan mendapatkan hukuman yang sama dengan sahabatku itu," sahut Budi. Kemudian terdengar suara ledakan dan keributan dari luar gedung.
Boom! Duar!
“Apa itu tadi?!” seru Budi. Pandangannya langsung mengarah ke luar gedung.
“Entahlah. Sebaiknya kita lihat saja keluar." Isabella segera keluar dari ruangan dan ketika dia melihat keluar, ternyata sesuatu yang mustahil terjadi.
Leon berhasil keluar tanpa ada yang membuka gerbangnya, tapi bagaimana caranya ….