Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 79



Ketika malam datang, Leon dan Mark duduk di atas bangunan Guild Venom untuk menikmati indahnya malam yang berbintang. Di kehidupan sebelumnya, Leon menikmati malam seperti ini sudah merupakan sebuah kemewahan karena dirinya selalu berada di tengah medan pertempuran.


“Kau sepertinya menyukainya, ya?” tanya Mark berusaha memulai sebuah percakapan di tengah sejuta keheningan ini.


“Menyukai apa?” sahut Leon. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, berusaha mencerna apa yang Mark tanyakan padanya.


“Lupakanlah! Hey, kau belum cerita bagaimana kau bisa mendapatkan kekuatan Primordial Angel padaku," timpal Mark dengan tatapan serius dan penasaran.


Leon pun menceritakan kejadian yang terjadi juga apa permintaan terakhir yang harus dilakukan olehnya kepada Mark.


“Wow … Vritra? Kawan, kau tidak akan sanggup melawannya sendiri. Percayalah," tegas Mark sambil menepuk pundak Leon.


“Setidaknya dapat kucoba, bukan?” Leon tak takut dengan apa yang ia ucapkan. Dengan wajah yang yakin kalau dia bisa melakukannya, ia menatap Mark yang heran padanya.


“Yah … tenang saja. Aku juga akan membantumu. Kita ini satu tim sekarang, bukan?” sahut Mark kepada Leon yang membuat Leon merasa lebih sedikit lega.


Seketika hening setelah percakapan itu, keduanya memandang ke arah langit yang gelap nan kelam pada malam hari itu.


“Bagaimana keadaan Istrimu sekarang?” tanya Leon yang membubarkan lamunan Mark karena dia mengetahui kalau Mark bisa melakukan telepati dengan Istrinya yang saat ini sedang di penjara di alam dewa.


“Tidak tahu. Terakhir kali aku berhubungan dengannya sekitar 30 tahun lalu," jawab Mark dengan wajah sedikit pasrah namun tetap terlihat dendam yang mendalam di matanya kepada para dewi dan dewa yang mengurung istrinya.


Leon merasa sedikit tidak enak karena perkataannya, dia memutuskan untuk tetap diam. Mereka berdua sama sekali tidak berbicara untuk beberapa saat sampai akhirnya Mark bertanya, "“Apa kau pernah jatuh cinta sejauh ini, Leon?”


Sedikit terkesiap namun setelah itu biasa saja. Leon mengangguk mengiyakan dengan wajahnya yang serius. Melihat jawaban Leon membuat Mark tertawa karena tidak pernah dia bayangkan kalau sosok dingin di sampingnya itu bisa merasakan yang namanya jatuh cinta.


“Ayolah, mana mungkin aku bisa percaya. Apa kau lupa tampangmu itu sangat dingin? Bahkan di dekat seorang wanita yang sangat menyukaimu kau tidak bereaksi," cibir Mark memberikan alasannya.


“Memangnya aku perlu menunjukkannya? ” tanya Leon mulai kesal.


“Anak kecil tidak perlu mengurusi urusan orang dewasa," cetus Mark kepada Leon seolah berusaha lari dari pertanyaan yang dilontarkan..


“Dragon’s Tongue Fire Bolt!" Leon yang sedang kesal merapal mantra api menggunakan bahasa Naga. Memberikannya kekuatan untuk memanipulasi api yang sangat besar dan panas untuknya menyerang Mark. Namun, serangan tersebut berhasil dihindari oleh Mark walau dia juga tetap terkena dampaknya.


“Oh ... kau ini berniat membunuhku?” amuk Mark yang langsung menyerang Leon kembali dengan mata yang seakan-akan haus akan darah meski dia sedang dalam keadaan terluka.


Leon dengan penuh semangat kemudian merapal beberapa mantra menyerang dengan elemen api namun sayangnya dapat dihindari oleh Mark.


“Sayang sekali. Sekarang coba tahan ini. Sword Domain ‘Absolute King’ lalu tahan serangan ini. Sword style ‘Angel of war’!” Mark menggunakan Sword Domainnya yang memiliki efek membuat musuhnya tidak dapat bergerak sama sekali dan hanya bisa melihat ribuan Ilusi kematian yang dapat dialami, namun Ilusi tersebut tidak bekerja kepada Leon yang memiliki kekuatan dari sosok Primordial Angel meski tidak secara utuh.


Serangan pedang yang Mark gunakan untuk menyerang benar-benar tidak dapat ditebak arahnya oleh Leon namun Leon dapat menghindari serangan-serangan tersebut.


“Apa ini saja?” kekeh Leon dengan nada bicara meremehkan karena ia bisa menghindari hampir semua serangan pedang yang Mark kerahkan.


“Menurutmu?” sahut Mark dengan tatapan dingin dari belakang Leon dan langsung menusukkan pedangnya ke punggung Leon lalu menendangnya hingga terjatuh ke depan.


Bruak!