Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 21



“B-benarkah? Anda mau jadi teman saya?" balas Ray dengan nada gembira tapi juga tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Leon.


“Ya, mengapa tidak? Sudah-sudah, ayo kita segera masuk ke dalam, jangan berada di luar akademi seperti ini," ajak Leon dan menarik tangan kiri Ray.


“Baik, Tuan muda, ah, maksudku … bagaimana jika memanggilmu boss? Apakah tidak masalah?” tanya Ray dengan wajah penuh semangat dan gembira. Leon diam berpikir sejenak.


"Ya, tentu saja, itu terserah padamu, Ray.” 


“Hehehe … baik, Boss!” 


Mereka pun segera berkumpul di aula tempat sebelumnya untuk melakukan tes yang akan digelar pagi itu.


Kali ini semua anak-anak dikumpulkan karena para senior angkatan di akademi berusaha sedemikian rupa untuk mengajak masuk murid murid angkatan Leon untuk masuk ke dalam Partynya masing-masing.


“Ayo! Bergabunglah ke Party Great Moon!” Seorang senior laki-laki berseru mempromosikan Party.


“Jadilah yang terkuat dengan bergabung di Party Hexaron!” Seorang senior lainnya berseru mempromosikan party lainnya. Beberapa murid mulai mendatangi tiap-tiap booth milik party-party yang ada.


“Hei, Nak. Kemarilah kawan! Bergabunglah dengan party kami!” seseorang memanggil Leon dari belakangnya hingga membuat Ray sigap merespon.


“Boss, sepertinya senior itu memanggil kita,” ujar Ray lalu menunjukan orang yang ia maksud dengan telunjuk tangan kanannya.


“Iya, kalian berdua kemarilah! Bergabunglah dengan Party Green Brawlers kami, aku jamin kalian berdua tidak akan menyesal. Party kami selalu menempati posisi keempat di bawah party Dragonite!” 


Berusaha meyakinkan mereka berdua, Ray menunggu Leon untuk berpikir sejenak.


“Boss, kita bergabung dengan mereka?” tanya Ray lagi seraya melambaikan tangannya kepada Leon yang hanya melamun saja.


“Kedengarannya menarik boss!” bujuknya.


“Boss kita mau kemana?!” seru Ray mengikuti langkah Leon yang semakin cepat meninggalkan senior itu.


"Party Dragonite, ayo cepatlah, kawan!” jawab Leon. Ray pun mempercepat langkahnya. Mereka berdua mengitari semua aula tapi tidak menemukan booth milik Party Dragonite, akhirnya bertanya kepada salah satu senior. 


Dia menjelaskan bahwa tiga Party—Party Saffire, Party Luminus, dan Party Dragonite—tidak bisa dimasuki oleh sembarang siswa. Karena merekalah yang memilih dan bukan dipilih seperti party lain yang mencoba merekrut siswa baru untuk bergabung.  


“Boss, sudahlah. Mari kita kembali ke larty sebelumnya." Ray menarik tangan Leon, berusaha membujuknya.


“Tenang saja, kita akan masuk Party Dragonite.” Leon menenangkan teman barunya itu, Ray tetap tidak percaya, “Tapi Boss, apakah anda tidak mendengar apa yang senior tadi katakan?”


Ketika mereka berdua sedang berdebat untuk masuk Party Dragonite, tiba-tiba saja muncul tiga orang laki-laki yang dari gaya pakaiannya pasti dari keturunan bangsawan, entah mana atau apa statusnya. Dia dengan seenaknya menabrak Ray dan membuatnya terjatuh ke lantai, Leon segera menolong Ray tapi tiba-tiba saja dicegah oleh salah satu dari mereka.


“Tuan Muda Silvestre tidak perlu menolong rakyat jelata seperti itu!” Salah seorang dari mereka bertiga mengajari Leon.


“Lepaskan aku atau mati!" Seketika hawa membunuh keluar dari aura tubuh Leon, seketika salah satu dari mereka melepaskan tangan Leon hingga ia dapat membantu Ray untuk bangun.


“Ternyata benar, Tuan Muda Silvestre itu sangat baik hati, sampai-sampai diperalat oleh anak kampungan yang satu ini!” 


Mereka bertiga bersama-sama menertawakan Leon yang juga sederajat bangsawan sepeeti mereka hingga membuat anak itu panas hati.


“Diam! Siapa kalian dan apa mau kalian?!” seru Leon berusaha membela temannya yang sudah menahan air matanya untuk keluar itu.


“Oh, maaf, di mana tata krama kami? Biar kuperkenalkan diri, namaku Gerry Oswald dari keluarga Oswald, Ayahku adalah seorang Viscount.” Salah seorang dari mereka memperkenalkan diri, dilanjutkan oleh orang disampingnya yang bertubuh tinggi.


“Namaku Joko Kastarino dari keluarga bangsawan Kastarino, kau pasti pernah mendengarnya, bukan, Tuan muda Silvestre?” 


Leon hanya meliriknya kecut setelah mendengarkannya, dilanjut oleh perkenalan yang terakhir, “Kalau namaku adalah Alfonso De Croix. Senang bertemu dengan anda, Tuan Muda Silvestre.”