Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 73



Mark teringat akan ajakan Irina sebelumnya untuk memulai kehidupan baru di Engrasia. Karena hal tersebut, Mark mengusulkan kepada Camila untuk ikut bersamanya menuju ke Engrasia. Camila menyetujuinya.


Selama perjalanan, mereka berdua saling bercanda dan mengakrabkan diri satu sama lain. Hanya butuh waktu beberapa bulan, mereka sudah menjadi sangat akrab. Dalam waktu 1 tahun, mereka sudah tinggal bersama di sebuah rumah kecil di pinggiran wilayah Kerajaan Engrasia.


“Sayang, kau dapat sebuah surat!" seru Camila yang berlari masuk ke rumah setelah mengambil surat dan beberapa sayur-sayuran untuk dimasak.


Benar, Mark dan Camila telah menjadi pasangan. Setelah beberapa waktu yang mereka lalui, mereka memutuskan untuk tinggal bersama.


“Hey pelan-pelan, nanti kau jatuh!” tegur Mark dengan nada kesal karena dia yang baru saja selesai mengepel lantai.


“Hehehe, maaf …," sahut Camila sambil tersenyum dengan harapan Mark tidak merasa kesal lagi dengannya.


“Ya sudah. Memang apa isi suratnya, Sayang?” tanya Mark kepada Camila. Camila segera membuka suratnya dan membacakannya dengan lantang.


“Salam Tuan dan Nyonya Nathan, selamat atas pernikahan kalian. Kuharap kalian berdua bisa menikmati kehadiran satu sama lain dan saling melengkapi hingga akhir waktu. Maafkan diriku ini, kawan, karena tidak bisa menghadiri pernikahan kalian tahun lalu. Hingga hari ini nyawaku masih diburu oleh banyak pihak, tidak tahu kapan mereka akan berhenti memburuku."


Camila mengukir perasaan cemas pada wajahnya, Mark dapat melihat ekspresi wajah kekasih hatinya itu hingga Camila lanjut membacanya.


"Menurut Informasi yang kudengar, dua raja Elf terkuat lainnya setelah diriku sudah mati atau diasingkan entah ke mana. Aku masih berusaha mengidentifikasi keaslian informasi tersebut selagi bersembunyi di tempat yang jauh dan terpencil di dunia ini. Berhati-hatilah, Mark kawanku. Jangan sampai kau menyusul mereka yang sudah tiada lebih cepat dari diriku ini, hahaha! Dari Ash Aindar.” 


Camila menyelesaikan kata-katanya yang dia baca dari surat tersebut lalu memberikan surat itu kepada Mark. Kedua sorot mata Mark membelalak setelah mengetahui siapa pengirim surat tersebut.


“Jadi Ash masih hidup?! Syukurlah, kupikir dia sudah mati dimakan naga atau ular raksasa!” gerutu Mark merasa kesal mendengar akhir dari surat tersebut dan merobek-robek suratnya hingga menjadi bagian yang sangat kecil.


“Sayang, sudah jangan emosi seperti itu, nanti aku sedih. Kau tidak ingin aku sedih, bukan?” sahut Camila dengan nada manja dan sambil memeluk Mark dengan erat.


"Wow, makanan buatanmu memang selalu enak, Mark!” puji Camila sambil menikmati makanan yang disajikan.


“Benarkah? Apa aku juga hebat dalam hal yang lain?” tanya Mark seraya berusaha menggoda Camila.


“Kau itu hebat dalam memasak, mengurus rumah, bertarung, dan berdebat denganku!” jawab Camila lalu dia melanjutkan, “Oh Iya, aku punya kejutan untukmu, Sayang!” 


“Benarkah? Apa itu?” tanya Mark penuh rasa penasaran.


“Rahasia namanya juga kejutan!” kata Camila sambil tertawa. Mark ikut tersenyum karena baginya melihat Istrinya tersenyum adalah hal yang paling membahagiakan.


Setelah selesai makan, Mark merapikan sisa makanan yang ada dan mencuci piring yang digunakan, setelah itu dia keluar dan berlatih menggunakan pedang di halaman belakang rumahnya.


“Huft …." Mark mulai merasa lelah setelah mengayunkan pedangnya lebih dari 2000 kali. Setelah itu Mark menaruh pedangnya dan melanjutkan dengan melakukan push up hanya menggunakan satu tangannya sebanyak 4000 kali.


“3996, 3997."


“Semangat, Sayang! Semangat!” Camila menyemangati Mark yang sedang melakukan sedang melakukan push up.


“3998, 3999, 4000!" Mark langsung terkapar lemas karena kehabisan tenaga. Beruntungnya, Camila langsung menangkapnya dan memberikannya segelas air.


“Huft … terima kasih, Sayang," kata Mark setelah meminum air yang diberikan oleh Camila.