Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 105



Perlahan Isabella membuka matanya dan terkejut kalau mereka sudah berada di tempat yang berbeda, mata gadis itu tertuju pada suasana desa di mana banyak anak-anak sedang bermain dan beberapa orang dewasa mengawasi mereka bermain. Dari sebelah kiri Isabella muncul sosok perempuan yang menyapa Leon dengan penuh senyuman.


“Leon ... kau sudah sampai di sini! Bagaimana dengan negosiasinya?” sapa sekaligus tanya Jenny kepada Leon.


Isabella yang tepat berada di belakang Leon merasa sedikit cemburu ketika melihat kekasihnya itu berbicara dengan Jenny. Tanpa pikir panjang, gadis itu mencubit perut kekasihnya dan menatapnya dengan tatapan marah lalu bertanya, “Siapa wanita itu, Sayang?”


Aura membunuh milik Isabella yang sedang cemburu terasa kuat sekali bahkan bagi Leon sekalipun, Leon mencoba menjelaskan kalau Jenny adalah rekan satu grupnya dan merupakan hal yang wajar jika mereka saling berbicara.


“Hmph ... kau beruntung aku menyayangimu, kalau tidak mungkin aku sudah pergi meninggalkanmu!” gerutu Isabella dengan wajah cemberut, Leon yang melihat ekspresi Isabella hanya bisa tersenyum karena wajah Isabella terlihat imut ketika sedang cemberut dan sama persis seperti istrinya di kehidupannya yang lalu.


Jatuhnya kekanakan, Isabella sendiri malu mengapa ia sampai bertindak sejauh itu. Ia menggerutu sendiri dan cemberut.


Leon mengusap kepala kekasihnya. Apapun yang terjadi aku akan melindungimu, tidak akan pernah aku mengulangi kesalahan yang sama lagi, ucap pria itu dalam hatinya.


“Apa aku menganggu kalian berdua?” tanya Jenny menyela karena merasa suasana mulai terasa canggung.


“Tidak, tidak apa,” sahut Isabella dan Leon di saat yang bersamaan.


“Oi, Leon! Kemarilah cepat! Ada yang harus kau bicarakan dengan kepala desa ini!”seru El dari kejauhan kepada Leon. Leon pun mengangguk dan segera pergi dari ke sana meninggalkan Jenny dan Isabella berdua.


Suasana menjadi hening dan canggung seketika sebelum Jenny menoleh melihat kekasih rekan-nya yang berdiri di sebelahnya itu. “Kau pikir, kau cocok dengannya?” tanya Jenny dengan wajah sedikit mengejek.


“Apa maksudmu?!” sahut Isabella bertanya balik dengan tatapannya yang tajam.


“Kau itu bukan dari keluarga bangsawan murni sepertiku dan Leon. Tentu saja itu artinya kau tidak pantas untuk dekat dengannya!” hina Jenny kepada Isabella. Ketika mengatakan itu, Jenny mendorong Isabella hingga terjatuh dan hal itu membuat Isabella kehabisan kesabarannya.


Apa?! Berani-beraninya perempuan ini mengatakan hal itu padaku?! rutuk Isabella dalam hatinya*.


Isabella kembali berdiri dan merapikan pakaiannya, dia menatap Jenny dengan tatapan dingin yang menakutkan seolah seperti serigala kelaparan yang melihat mangsanya. Jenny juga membalas tatapan dingin itu dengan tatapan keji miliknya lalu berkata, “Lihat saja nanti akan kubuktikan bahwa kau tidak pantas!” 


Di saat yang bersamaan, Boreas dan pasukan orc-nya baru saja sampai. Dia melihat kalau Isabella sedang diganggu oleh Jenny. Boreas yang melihat itu dengan cepat berlari ke arah Isabella untuk melindunginya sesuai dengan perintah tuannya.


Boreas menatap dengan tatapan penuh amarah ke arah Jenny lalu berseru “Pergilah atau kau akan kuhabisi!”


Jenny tampak bingung dengan perilaku Boreas tetapi dia tidak ingin ambil pusing dan memilih untuk pergi sambil mendengus.


“Maafkan keterlambatanku, nona," ujar Boreas sambil menundukkan badannya di hadapan Isabella.


Isabella hanya mengangguk karena sebenarnya dia masih belum mengerti apa yang terjadi dan mengapa Boreas yang seorang Orc melindungi dirinya.


“A-aku akan pergi sekarang. Terima kasih," tutur Isabella kepada Boreas dengan sedikit ragu-ragu. Boreas mengangguk dan membungkukkan badannya sebagai tanda kalau dia menghormati gadis itu.


Jauh di balik gelapnya hutan, sosok tidak terlihat memantau kejadian itu dari kejauhan.


“Pria itu berhasil menundukan Orc? Menarik! Sangat menarik! Mungkinkah ini saatnya aku keluar dan berpihak kepadanya ..."


"Tidak, ini belum saatnya! Aku akan menunggunya sampai dia menjadi lebih kuat dan lebih baik," sambung sosok itu berkata lalu menyuruh bawahannya untuk terus mengawasi Leon untuknya.